DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Karya Mohammad Nasir tentang COVID 19

image
Mohammad Nasir. (OrbitIndonesia/kiriman)

ORBITINDONESIA.COM - Mengenang wabah penyakit Corona Virus Disease (COVID 19) yang ditetapkan sebagai pandemi di Indonesia perode 31 Maret 2020 sampai 21 Juni 2023, Mohammad Nasir menulis puisi.

Mohammad Nasir ialah wartawan, aktivis organisasi pers, dan relawan kemanusiaan yang turut membantu pelayanan vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan ketika COVID 19 mewabah.

Ia bekerja di Harian Kompas 1989 sampai 2018.

Baca Juga: Puisi Maruli Tobing tentang Tuhan

Berikut puisinya tentan COVID 19

Pertama:

Izrail Selesai Tugas

Baca Juga: Puisi Muhammad Solihin Oken: Bagaimana Kusapa Hujan Pagi Ini

 

Malaikat Izrail sibuk bertugas

Ambulans-ambulans ngegas bergegas

Baca Juga: Puisi Marlin Dinamikanto: Shalawat Cinta

Meraung-raung di jalan luas

Lalu-lalang menebar was-was

 

Baca Juga: Puisi Marlin Dinamikanto: Menjelang Buka

Dokter, perawat, pasien menahan napas-napas

Izrail sibuk menjalankan tugas

Wahai Izrail, boleh kah aku masih diberi napas?

Baca Juga: Puisi Maruli Tobing tentang Tuhan

Nafasku sesak akibat Covid sembilan belas

 

Wahai Izrail, bacalah facebook dan whatsApp

Kabar duka-cita penuh sesak, meluas

Mengabarkan Izrail bertugas

Jejak digitalmu tercatat hingga kuburan luas

 

Izrail selesai bertugas di arena Covid Sembilan belas

Berjuta-juta orang diantar berpulang ke arasy

Tenang dan senang di pangkuan yang Maha Welas.

Doa tulus mengalir ikhlas.

Kedua:

 

Covid-19 Bukan Dajjal 

Siapa bilang Covid-19 dajjal

Dajjal itu tidak berseri

Dajjal bukan penjemput ajal

Duh Gusti, kawan-kawan mati

 

Butiran virus bebas menyergap

Jari-jemarinya berduri

Makhluk bumi jaga diri dan tanggap

Jangan biarkan mulut tampak berseri

 

Covid bukan dajjal

Menghadang kami di bumi

Hati kaum beriman dijajal

Memampang gambaran mati

 

Keriuhan pasar dan mal menghilang

Kabar liar menyebar kesana-kemari

Masih ada keyakinan benderang

Covid-19 pasti pergi

Ketiga:

 

Ka’bah Sunyi

Siapakah yang berani mensunyikan ka’bah?

Tidak seorang pun berani

Covid-19 menjelma data gambar musibah

Tampil menjadi keyakinan kini

 

Mekah, Medinah ditinggal jamaah

Ka’bah dan masjid-mesjid sepi

Kuil, vihara, gereja, sinagoge sepi jua

Mereka bersembahyang dalam sunyi

 

Dengar bisik sendiri dalam doa

Serasa berbicara dengan Yang Maha Suci

Mereka rindu dengung suara bersama

Teringat para lebah pulang petang hari

Keempat:

Menyendiri

 

Jari-jemari menghitung hari

Menyimpan diri sendiri

Mengamankan duka lara

Menyadari diri terluka

 

Tulang belulang terasa nyeri

Kepala pusing, mulut hambar berhari-hari

Menjaga jiwa

Mengamankan raga

 

Belasan hari bersembunyi

Manumpuk mimpi

Covid sembilan belas sirna

Covid-19 pergi menguap entah kemana

 

Aku ingin berlari mengejar mimpi

Mencari sinar matahari pagi

Kami para mantan penderita Covid Sembilan belas

Menggapai kembali vitalitas

Kelima: 

Sang Relawan

 

Hatimu mulia bak pahlawan

Menjunjung tinggi kesetiakawanan

Makhluk Tuhan butuh bantuan

Sang relawan, kaulah karyawan Tuhan

 

Mereka melayani tanpa pamrih

Para relawan sosial, dan tenaga kesehatan yang gigih

Gagah melangkah, pikiran bersih

Mereka lah relawan anti Covid

 

Menyingsingkan lengan bergandeng tangan

Ayunan langkah bersamaan

Menuju layanan mulia kemanusiaan

Ikhlas tanpa ikatan

 

Hati bening pancaran kemuliaan Ilahi

Hati tertambat peduli dan melindungi

Bening tanpa pikiran desersi

Kesetiaan semoga terus terisi

Keenam:

Dari Toba hingga Lawang Sewu

 

Berlari-lari kesana-kemari

Dari Danau Toba hingga Lawang Sewu

Dari Labuan Bajo hingga Tangkuban Parahu

Menikmati udara segar pasca pandemi

 

Membuka lock down tempat bersembunyi

Mall, pabrik, sekolah disinggahi hantu

Berisik mesin uang lama membisu

Semua mulai berbunyi

Euforia saat covid-19 pergi

 

Semua boleh berbahagia

Beramai-ramai kesana-kemari

Komunikasi di ujung jari

Bangkit membangun usaha. ***

Berita Terkait