Budaya Kerja Positif: Kunci Retensi dan Kinerja Optimal

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja yang inklusif menjadi kunci utama dalam mempertahankan talenta dan meningkatkan kinerja perusahaan, namun masih banyak organisasi yang gagal mengukurnya dengan ketat.

Budaya kerja positif telah dikenal sebagai faktor penting dalam retensi dan kinerja, namun pengukurannya sering diabaikan. Banyak wanita dan kelompok terpinggirkan merasa tidak terlihat dan tidak didengar. Perilaku noninklusif dan mikroagresi di tempat kerja menciptakan lingkungan yang toksik.

Biaya dari tidak bertindak atas budaya kerja yang buruk dapat diukur dari hilangnya talenta. Dengan kekurangan tenaga kerja dan ekspektasi generasi muda yang meningkat, fokus pada 'keberlanjutan manusia' menjadi krusial. Peningkatan retensi dan lingkungan kerja yang sejahtera sama pentingnya dengan performa dan efisiensi.

Untuk mengatasi masalah ini, organisasi harus mengukur budaya seperti hasil bisnis. Penting untuk menetapkan retensi sebagai metrik utama, mengaudit beban kerja, dan memprioritaskan cara pencapaian hasil. Dukungan bagi manajer menengah juga menjadi kunci untuk membangun pengalaman karyawan yang positif.

Pergeseran menuju lingkungan kerja yang lebih manusiawi tidak bisa dihindari. Pemimpin yang menyadari pentingnya mengukur budaya kerja sebagai hasil bisnis akan menjadi yang terdepan dalam mempertahankan talenta dan berkembang di era kerja baru ini.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2025)