Trump dan Kendali Minyak Venezuela: Intervensi Berulang?
ORBITINDONESIA.COM – Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, Presiden Trump mengisyaratkan langkah ini terkait, setidaknya sebagian, dengan kendali atas minyak Venezuela.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia menurut OPEC. Namun, produksi minyaknya kini hanya sekitar satu juta barel per hari dari sebelumnya lebih dari tiga juta. Di sisi lain, AS memproduksi sekitar 13 juta barel per hari.
Minyak Venezuela yang berat dan padat menuntut kilang khusus dan dianggap lebih buruk bagi lingkungan. Di masa lalu, perusahaan minyak AS seperti Chevron dan ExxonMobil telah beroperasi di Venezuela, meskipun banyak yang meninggalkan negara tersebut karena kontrak yang dipaksakan ulang oleh Presiden Hugo Chávez.
Trump berjanji untuk memfasilitasi masuknya perusahaan minyak AS ke Venezuela. Namun, sejarah intervensi AS di Amerika Latin yang sering kali tidak berjalan mulus membuat banyak pihak skeptis. Selain itu, kelebihan pasokan minyak global dan perhatian terhadap perubahan iklim dapat menghalangi minat perusahaan minyak Eropa.
Keberlanjutan investasi di Venezuela tergantung pada stabilitas politik dan kepastian hukum. Pengalaman masa lalu di Irak menunjukkan bahwa pemulihan industri minyak bisa memakan waktu puluhan tahun. Apakah Venezuela siap menghadapi tantangan ini?
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Januari 2026)