Iyek Aghnia: Benarkah Narasi “Untuk Kepentingan Rakyat” yang Disenandungkan Pemimpin Sungguh Demi Rakyat?
Oleh Iyek Aghnia, penulis yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan
ORBITINDONESIA. COM - “Untuk kepentingan rakyat!” teriak sang pemimpin di atas panggung hiburan, sembari berjoget riang. Tawanya meledak-ledak, menebar kesan kegembiraan tanpa beban.
Di bawah panggung, rakyat—kaum jelata—terus bercakap ngalor-ngidul. Mereka setia menunggu penyanyi yang akan tampil, mengimitasi goyang ngebor ala artis ibu kota, sambil melupakan sejenak lelah hidup yang tak pernah usai.
“Untuk kepentingan rakyat!” ucap sang pemimpin, dikutip di koran halaman dalam. Dibaca rakyat yang tengah berbincang satu sama lain tentang betapa susahnya mencari nafkah demi menghidupi keluarga sehari-hari.
“Untuk kepentingan rakyat!” jelas sang pemimpin di layar televisi—dua menit yang ditonton lewat TV 14 inci hitam-putih, gambarnya naik-turun, suaranya tersendat, bersaing dengan bunyi token listrik yang hampir habis.
“Untuk kepentingan rakyat!” senandung sang pemimpin dari radio. Suaranya terdengar samar-samar, menemani rakyat yang rebahan di bale-bale bambu, sambil memikirkan padi di sawah yang dilahap tikus.
“Untuk kepentingan rakyat!” ujar sang pemimpin dengan nada gagah berani. Rakyat mendengarnya setengah sadar, sembari memikirkan bagaimana memasarkan hasil panen yang melimpah agar bisa menjadi bekal hidup dan masa depan.
“Untuk kepentingan rakyat!” celoteh sang pemimpin penuh keyakinan. Sementara itu, rakyat sibuk menimbun kolong bekas galian agar lahan pertanian tak kembali terendam, berharap panen tahun depan tak gagal.
“Untuk kepentingan rakyat!” kata sang pemimpin dengan resonansi suara penuh semangat. Dan rakyat tetap memikirkan harga hasil pertanian yang terus melorot, jatuh hingga ke titik paling rendah.
“Untuk kepentingan rakyat!” sebut sang pemimpin. Rakyat pun memeras otak, bertanya dalam hati bagaimana tetap melangkah menjalani hidup, meski keringat kerap bercampur darah.
“Untuk kepentingan rakyat!” kembali dikumandangkan. Rakyat terus berpikir bagaimana esok hari anak dan istri masih bisa mengganjal perut, walau hanya dengan makanan seadanya.
“Untuk kepentingan rakyat!” kisah sang pemimpin. Rakyat tetap bergulat dengan kerasnya kehidupan, mengais rezeki agar bisa terus hidup—sekadar hidup.
“Untuk kepentingan rakyat!” terus berkumandang dari bibir sang pemimpin. Sementara rakyat terpukau oleh foto jurnalistik tentang negeri seberang yang mampu membendung lautan menjadi kota megah—foto yang mereka lihat dari koran bekas pembungkus cabai yang dibeli sang istri di pasar pagi tadi.
“Untuk kepentingan rakyat!” terus bergema.
Rakyat pun terlelap, larut dalam mimpi, setelah seharian memeras tenaga.
“Untuk kepentingan rakyat…” gumam sang pemimpin, dengan suara penuh desah dan tanya.
Narasi kerakyatan berupa kalimat “untuk kepentingan rakyat” terus disenandungkan para pemimpin, seolah menjadi penanda bahwa segala kerja, kebijakan, dan keputusan diambil semata demi rakyat—tanpa embel-embel dan tanpa cadangan kepentingan.
Narasi yang terdengar heroik dan patriotik itu digemakan berulang kali kepada publik. Ia menjadi simbol seakan para pemimpin berjuang hanya untuk satu tujuan: rakyat, dan rakyat semata.
Narasi itu pula yang menyiratkan kepada kita—sebagai rakyat—bahwa pemimpin bekerja, berpikir keras, dan berkorban demi amanah yang telah diberikan kepadanya.
Narasi bernada patriotik “untuk kepentingan rakyat” yang begitu akrab di telinga kita, seolah membuktikan bahwa pemimpin sangat menghormati rakyat yang telah mengangkat martabatnya menjadi penguasa negeri.
Semoga narasi “untuk kepentingan rakyat” benar-benar lahir dari nurani terdalam pemimpin negeri—nurani yang tak bisa dibohongi.
Semoga pula narasi “untuk kepentingan rakyat” sungguh-sungguh diwujudkan dalam tindakan, kebijakan, dan keberpihakan nyata—hanya untuk kepentingan rakyat.
Bukan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, kolega, atau kelompoknya.
Apalagi sekadar untuk pencitraan demi mempertahankan kekuasaan tanpa malu, hingga Sang Maha Pencipta memanggil.
Biarlah rakyat yang menilai.
Ngomong-ngomong, apakah pemimpin di daerah Anda benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat?
Ataukah semua itu hanya omon-omon—pemanis kata dan pencitraan belaka?
Biarlah waktu yang menjawab.
Atau, seperti kata Ebiet G. Ade, mari kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.***