Ismail Amin: Mengapa Ayatullah Ali Khamenei Diisukan Menyelamatkan Diri ke Luar Negeri?
Oleh Ismail Amin, pengamat Iran
ORBITINDONESIA.COM - Mengapa Ayatullah Ali Khamenei diisukan akan menyelamatkan diri keluar negeri sambil membawa aset pribadi milyaran dollar?
Itu karena pemimpin Iran ini disamakan dengan semua penguasa yang kabur saat negaranya mengalami chaos total dan ibukota telah diduduki ...
Dia disamakan dengan Pahlevi, disamakan dengan Marcos yang kabur ke Hawai, Ben Ali yang kabur ke Saudi, Mansour Abdul Hadi kabur ke Saudi, Ashraf Gani kabur ke UEA, Victor Yanukovych kabur ke Rusia, Gotabaya Rajapaksa kabur ke Singapura, Bashar Assad kabur ke Rusia. Seolah-olah kabur telah menjadi pakem bagi pemimpin yang sudah tidak diinginkan rakyat dan militer tidak lagi melindungi.
Faktanya, Iran tidak dalam situasi chaos, pemerintahan masih berjalan, aktivitas kota masih normal, komando militer masih dalam kendali dan kerja-kerja diplomatik masih berlangsung, tidak ada satupun kedutaan asing di Iran yang menyatakan Iran berada dalam level siaga satu dan harus ada operasi evakuasi untuk warga asing....
Secara historis dan faktual juga membantah rumor itu. Dalam situasi yang jauh lebih sulit dan genting, Ayatullah Khamenei tidak pernah mengambil opsi melarikan diri. Termasuk saat perang Irak-Iran selama 8 tahun dan perang Israel-Iran selama 12 hari.
Ayatullah Khamenei bukan sekadar kepala negara administratif. Ia adalah marja‘ taklid, rujukan keagamaan bagi jutaan pengikut Syiah lintas negara, dan simbol kontinuitas sebuah sistem politik-keagamaan yang justru dibangun di atas penolakan terhadap tradisi “kabur saat terdesak”. Dalam sistem ini, kabur bukan strategi, melainkan pembatalan legitimasi.
Karena itu, menyamakan Khamenei dengan semua penguasa yang pernah kabur adalah kesalahan kategoris. Mereka adalah pemimpin yang kekuasaannya berdiri di atas dukungan eksternal, rente ekonomi, dan proteksi asing. Begitu proteksi itu runtuh, mereka pun runtuh. Khamenei berdiri di atas struktur ideologis, institusional, dan sosial yang berbeda sama sekali.
Di titik ini, justru terlihat siapa yang sebenarnya sedang panik. Narasi “Khamenei kabur” bukan cerminan kondisi Iran, melainkan cermin kegagalan imajinasi politik pihak luar. Ketika semua skema tekanan gagal: sanksi, isolasi, perang informasi, operasi intelijen sampai invasi langsung, yang tersisa hanyalah fantasi runtuh yang diproduksi berulang-ulang, berharap menjadi kenyataan lewat repetisi.***