Denny JA: Mengadili Penjahat Kemanusiaan dan Kisah Psikiater - Inspirasi dari Film Nuremberg (2025)
- Inspirasi dari film Nuremberg (2025)
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - “Saya tidak duduk di sini karena kalian lebih unggul secara moral. Saya duduk di sini karena kalian menang perang.”
“Jika sejarah berbelok sedikit saja, mungkin pemimpin kalian yang kini kami adili.”
Kalimat semacam itu meluncur tenang dari mulut Hermann Göring, petinggi Nazi, kepada psikiater militernya, Dr. Douglas Kelley, di ruang penjara sebelum Pengadilan Nuremberg dimulai.
Tidak ada teriakan. Tidak ada penyesalan. Hanya keyakinan dingin seorang manusia yang merasa logis.
Kelley menjawab dengan suara tertahan: rezim Nazi telah membantai enam juta warga sipil Yahudi. Kejahatan yang tak bisa ditimbang dengan kemenangan apa pun.
Göring tersenyum tipis. Ia membalas dengan satu kalimat yang mengiris nurani: pemerintah Anda juga menjatuhkan bom atom.
Lihatlah Hiroshima dan Nagasaki. Lihatlah bagaimana kematian massal bisa dibungkus atas nama keadilan.
Di titik itulah saya terpaku menonton Nuremberg. Bukan oleh adegan perang. Bukan oleh vonis hakim.
Melainkan oleh keberanian film ini memasuki wilayah paling berbahaya dalam sejarah manusia: ketika kejahatan tidak berteriak, tetapi berargumentasi; ketika pelaku tidak tampak gila, tetapi terasa masuk akal.
-000-
Di ruang sidang yang dingin di kota Nuremberg, waktu seperti berhenti.
Bangku kayu tua menyimpan gema jeritan jutaan korban yang tak pernah hadir sebagai suara.
Di sana duduk seorang penjahat besar Nazi, Hermann Göring. Arsitek kekerasan yang ikut bertanggung jawab atas pembunuhan enam juta orang Yahudi.
Namun yang membuat ruang itu membeku bukan daftar kejahatan.
Melainkan ketenangan wajahnya.
Ia tidak tampak gila.
Ia tampak yakin.
Yang terpana bukan hanya para hakim. Jaksa utama Amerika, Robert H. Jackson, menyadari ada sesuatu yang lebih mengerikan dari amarah.
Di sudut ruangan, seorang psikiater militer Amerika ikut terguncang. Dr. Douglas Kelley, diperankan oleh Rami Malek, datang dengan ilmu, pulang dengan luka batin.
-000-
Dari serangkaian tes psikologis dan wawancara panjang, Kelley sampai pada kesimpulan yang menyesakkan.
Göring tidak bisa diklasifikasi sebagai orang gila.
Ia cerdas. Humoris. Menawan.
Ia tahu apa yang ia lakukan.
Ia sadar atas setiap keputusan.
Yang membedakan Göring dari manusia lain bukan akalnya.
Melainkan filsafat hidupnya.
Ia percaya pada kekerasan sebagai alat sah sejarah.
Ia percaya tujuan besar membenarkan penderitaan massal.
Di titik inilah film Nuremberg menemukan denyut moralnya.
Ini bukan sekadar pengadilan penjahat perang.
Ini adalah pengadilan terhadap rasionalitas yang kehilangan belas kasih.
-000-
Film bergerak perlahan, hampir sunyi. Tidak ada ledakan.
Tidak ada heroisme murahan.
Yang ada hanyalah percakapan panjang di ruang tertutup.
Duel intelektual antara psikiater dan penjahat.
Göring berbicara dengan kefasihan seorang negarawan.
Ia mengutip sejarah, membalikkan argumen, dan menguji empati lawan bicaranya.
Kelley mendengar. Mencatat.
Menganalisis.
Namun semakin ia memahami, semakin ia kehilangan pijakan.
Ilmu yang semula menjadi tameng berubah menjadi lorong gelap.
Sementara itu, di ruang sidang, dunia sedang menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Bahasa hukum baru bernama kejahatan terhadap kemanusiaan.
-000-
Pengadilan Nuremberg adalah yang pertama dalam sejarah modern. Ia mengadili individu, bukan negara.
Ia menolak alasan jabatan.
Ia menolak dalih “sekadar menjalankan perintah”. Vonis akhirnya dijatuhkan.
Göring dihukum mati.
Namun ia menutup hidupnya dengan sianida. Keputusan terakhir yang tetap ia kendalikan.
Film tidak berhenti di tiang gantungan. Ia justru bergerak ke arah yang lebih sunyi.
Psikiater itu, Kelley, pulang ke Amerika. Perang telah usai, tetapi Nuremberg tak pernah meninggalkannya.
Tahun-tahun berlalu.
Ia gagal menemukan makna yang menenangkan.
Pada akhirnya, ia mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama seperti Göring.
Sianida.
-000-
Tragedi Kelley bukan sekadar kisah personal. Ia adalah simbol peradaban.
Ia menunjukkan betapa berbahayanya menatap kejahatan terlalu lama tanpa jangkar moral. Empati tanpa batas bisa berubah menjadi racun.
Film ini berakar kuat pada karya nonfiksi The Nazi and the Psychiatrist karya Jack El-Hai.
El-Hai mencatat dengan dingin dan teliti. Para pemimpin Nazi bukanlah anomali psikologis.
Mereka manusia normal yang hidup dalam sistem nilai yang membenarkan kejahatan.
Kelley berharap menemukan patologi.
Yang ia temukan justru kehampaan moral. Dan kehampaan itu menghancurkannya.
-000-
Lapisan intelektual film ini diperdalam oleh gagasan Hannah Arendt dalam bukunya Eichmann in Jerusalem.
Arendt menyebutnya banalitas kejahatan. Ternyata kejahatan besar tidak selalu lahir dari kebencian.
Ia bisa lahir dari kepatuhan.
Dari birokrasi. Dari orang biasa yang berhenti berpikir secara moral.
Film Nuremberg berdiri di persimpangan dua gagasan ini.
Psikologi individu dan filsafat politik bertemu dalam satu tragedi.
-000-
Disutradarai dan ditulis oleh James Vanderbilt, Nuremberg memilih jalan yang jarang ditempuh film sejarah besar.
Ia menolak sensasi. Ia menolak musik yang memaksa emosi. Ia menolak ledakan sebagai jalan pintas dramatik.
Vanderbilt justru percaya pada tatapan, jeda, dan dialog. Pada ruang sempit penjara. Pada percakapan yang tampak tenang, tetapi menyimpan ledakan moral yang jauh lebih dahsyat daripada perang mana pun.
Pilihan ini berakar pada buku nonfiksi The Nazi and the Psychiatrist karya Jack El-Hai. Buku ini bukan kronik pengadilan, melainkan potret hubungan psikologis yang berbahaya antara Hermann Göring dan psikiater militernya, Dr. Douglas Kelley.
Vanderbilt setia pada roh buku itu. Ia tidak bertanya siapa menang dan kalah. Ia bertanya: apa yang terjadi ketika kejahatan berbicara dengan bahasa yang terdengar masuk akal.
Russell Crowe memerankan Göring dengan karisma yang menggetarkan. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk.
Ia duduk tenang, berbicara jernih, sesekali tersenyum. Crowe, pemenang Oscar lewat Gladiator, memanfaatkan pengalamannya memainkan figur berkuasa.
Namun kali ini, kekuasaan itu tanpa pedang. Hanya logika. Dan justru itulah yang menakutkan.
Di hadapannya, Rami Malek sebagai Dr. Douglas Kelley tampil tertahan, hampir rapuh. Malek, peraih Oscar lewat Bohemian Rhapsody, memainkan seorang ilmuwan yang percaya pada data dan rasio.
Perlahan, keyakinan itu retak. Tatapan matanya semakin kosong, seolah ia menyadari bahwa ilmunya tidak cukup untuk menjelaskan kejahatan.
Sementara itu, Michael Shannon sebagai Robert H. Jackson hadir seperti jangkar moral. Dengan suara berat dan gestur minimal, ia mengingatkan bahwa hukum internasional lahir bukan dari kemenangan, melainkan dari trauma kolektif.
Dari kesadaran pahit bahwa tanpa hukum, kekuasaan akan selalu membenarkan dirinya sendiri.
Dengan pendekatan ini, Nuremberg menjelma bukan sekadar film sejarah. Ia menjadi cermin sunyi tentang peradaban yang pernah percaya bahwa rasionalitas saja sudah cukup.
Vanderbilt menguasai bahasa visual: close-up wajah Göring yang dingin. Pencahayaan suram penjara mencerminkan kegelapan moral yang tengah dikulikinya tanpa kata-kata.
-000-
Pada akhirnya, Nuremberg bukan film tentang masa lalu.
Ia adalah cermin bagi masa kini.
Pertanyaan pun menggantung.
Apakah pemimpin mana pun yang percaya pada filsafat kekerasan akan bernasib sama seperti Göring?
Hukum internasional bergerak lambat. Ia sering kalah oleh kekuasaan.
Namun hukum memiliki ingatan. Dan ingatan itu berbahaya bagi pelaku kejahatan.
Film ini meninggalkan satu bisikan sunyi. Peradaban runtuh bukan hanya oleh orang jahat. Tetapi oleh orang cerdas yang berhenti bertanya secara moral.
Di tengah dunia modern yang dingin oleh algoritma dan propaganda, gema Nuremberg mengingatkan: kejahatan kini tak selalu berpakaian seragam militer, kadang berwajah data, kebijakan, dan efisiensi tanpa nurani.*
Jakarta, 10 Januari 2026
REFERENSI
1. Jack El-Hai, The Nazi and the Psychiatrist: Hermann Göring, Dr. Douglas M. Kelley, and a Fatal Meeting of Minds at the End of WWII
2. Hannah Arendt, Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/p/1DSf338AFY/?mibextid=wwXIfr