Kisah Mordechai Vanunu, Pembocor Program Senjata Nuklir Israel
ORBITINDONESIA.COM - Mordechai Vanunu adalah whistleblower yang membocorkan informasi rahasia tentang program senjata nuklir Israel kepada dunia.
Awalnya Vanunu bekerja sebagai teknisi di Pusat Penelitian Nuklir Dimona (Negev Nuclear Research Center) dari 1976 hingga 1985. Selama bekerja, ia menyadari bahwa Israel—yang secara resmi tidak pernah mengakui atau menyangkal kepemilikan senjata nuklir—telah memproduksi hulu ledak nuklir secara besar-besaran.
Motivasinya adalah kecemasan moral dan keinginan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.
Ia juga terpengaruh oleh pandangan politik sayap kiri dan keyakinan bahwa publik berhak mengetahui kebenaran.
Cara Pembocoran
Vanunu diam-diam mengambil foto-foto rahasia di dalam fasilitas bawah tanah Dimona, termasuk gambar peralatan produksi plutonium dan struktur reaktor.
Kontak dengan Media: Setelah keluar dari Israel, ia menghubungi The Sunday Times di London pada 1986. Surat kabar itu memverifikasi klaimnya dengan bantuan ahli nuklir, yang menyimpulkan bahwa Israel memiliki sekitar 100–200 hulu ledak nuklir.
Eksposur Besar: The Sunday Times mempublikasikan laporan utama pada 5 Oktober 1986, mengungkap bahwa Israel adalah kekuatan nuklir terbesar keenam di dunia.
Operasi Intelijen Israel (Mossad)
Sebelum artikel terbit, Mossad melancarkan operasi untuk menangkap Vanunu. Seorang agen Mossad berpura-pura menjadi jurnalis Amerika dan mengajaknya ke Roma, di mana ia diculik dan disuntik obat.
Vanunu dibawa kembali ke Israel, diadili secara tertutup, dan dinyatakan bersalah atas pengkhianatan dan spionase. Ia dihukum 18 tahun penjara, dengan 11 tahun pertama dijalani dalam isolasi.
Dampak dan Kontroversi
Pemerintah Israel tidak pernah secara resmi mengkonfirmasi atau membantah informasi yang dibocorkan Vanunu, mempertahankan kebijakan "ambiguity nuklir". Vanunu dianggap sebagai pengkhianat oleh banyak warga Israel.
Dunia Internasional: Eksposenya mengubah persepsi global tentang kemampuan nuklir Israel dan memicu debat tentang proliferasi senjata di Timur Tengah. Ia dipandang sebagai pahlawan moral dan whistleblower oleh kelompok anti-nuklir dan aktivis HAM.
Vanunu menerima Right Livelihood Award (Hadiah Nobel Alternatif) pada 1987, dan dicalonkan beberapa kali untuk Hadiah Nobel Perdamaian.
Kehidupan Setelah Pembebasan
Vanunu dibebaskan pada 2004, tetapi tetap dibatasi oleh peraturan ketat, termasuk: larangan berbicara dengan orang asing tanpa izin; larangan meninggalkan Israel; larangan mendekati kedutaan asing atau pelabuhan.
Ia terus menjadi simbol perjuangan transparansi nuklir dan kebebasan berbicara, meski hidup dalam pengawasan ketat pemerintah Israel.
Kasus Vanunu menyoroti:
Ambiguity Nuklir Israel: Israel tetap satu-satunya negara di Timur Tengah yang diyakini memiliki senjata nuklir, tetapi tidak pernah mengakuinya atau mengizinkan inspeksi internasional.
Etika Whistleblowing: Kontroversi antara keamanan nasional vs. hak publik untuk mengetahui.
Isolasi dan Pembalasan: Risiko yang dihadapi whistleblower yang membongkar rahasia negara.
Vanunu pernah berkata: "Saya bukan pengkhianat. Saya ingin menyelamatkan dunia, bukan mengkhianati negara saya." Perannya dalam mengungkap program nuklir Israel tetap menjadi bagian penting dalam sejarah non-proliferasi nuklir global.
(Sumber: Oblivion Cylone War) ***