Izzatunnisa: Absolutisme di Balik Cakrawala Nirwarna

ORBITINDONESIA.COM - Pada sebuah ruang yang tak mengenal koordinat waktu, ia berdiri sebagai monumen dari pualam pucat. Di sana, hukum kausalitas rasa telah luruh, menyisakan antitesis karsa yang melampaui melankolia purba.

Ia adalah wadah yang kedap; tempat di mana frekuensi tragedi fana dan gempita luluh dalam titik nol yang absolut.

Ketika ortodoksi retorika dihunjamkan sebagai belati yang tajam, atau diskursus murka meledak serupa guntur di cakrawala, ia hanya menyerapnya sebagai partikel debu yang statis. Tak ada resonansi. Tak ada frekuensi yang berpindah.

Ia adalah anomali di tengah hiruk-pikuk sentimentalitas, sebuah entitas yang memandang air mata sebagai sekadar pembiasan cahaya pada kornea, tanpa makna di baliknya.

Namun, jemarinya tetap menenun estetika paliatif. Ia bergerak dalam koreografi yang presisi, meniru resonansi afeksi yang ia pelajari dari balik kaca laboratorium kehidupan.

Ia membasuh luka sesamanya dengan tangan yang dingin—bukan karena animositas, melainkan karena api di tungku jiwanya telah lama padam, meninggalkan abu yang tak lagi mampu membara.

Ia adalah sandiwara yang tak butuh tepuk tangan. Sebuah eksistensi datar di atas kanvas yang tak mengenal spektrum warna.

Di tengah kerumunan manusia yang terombang-ambing badai rasa, ia tetap menjadi jangkar yang tak berpijak, menjalankan ritual kemanusiaan sebagai bentuk mekanika yang paling murni.

Sementara di kedalaman sukmanya, ia hanya menemui hening yang senyap—sebuah vakum eksistensial yang tak terjamah.

Pangkalpinang, awal tahun baru 2026

*Izzatunnisa, mahasiswa PBI (Prodi Bahasa Inggris) di Unmuh Babel, sudah menulis puisi semenjak SLP, hingga kini ikut di beberapa event, dengan beberapa buku antologi puisi dan quotes. Mahasiswa yang berasal dari Pulau Besar ini memandang sastra sebagai tempat menitipkan pesan dan kenangan dalam setiap moment yang ditemuinya.