Ingin Jadi Juara Lomba Baca Puisi? Baca Buku Karya Indra Pirmana
Oleh Iyek Aghnia
ORBITINDONESIA.COM - Menjadi juara lomba baca puisi adalah impian hampir setiap peserta. Kemenangan dalam lomba semacam itu bukan sekadar trofi, melainkan kebanggaan intelektual dan artistik. Puisi sendiri memiliki kekuatan membangkitkan semangat melalui bahasa yang imajinatif, emosional, dan penuh daya sugesti.
Kesadaran akan pentingnya teknik membaca puisi itulah yang mendorong Indra Pirmana, guru SMPN 5 Payung, Bangka Selatan, menulis sebuah buku panduan praktis. Buku berjudul Baca Buku Ini Jika Ingin Juara Baca Puisi, terbitan Galuh Patria, Yogyakarta, menjadi ikhtiar untuk membagikan pengalaman sekaligus metode membaca puisi secara sistematis.
Buku ini termasuk salah satu dari 23 judul karya penulis lokal yang diluncurkan pada Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan ke-23 tahun 2026. Kehadirannya menegaskan bahwa literasi sastra terus bertumbuh di daerah ini.
Isi buku disusun bertahap dan aplikatif. Bagian pertama membahas cara memahami puisi, fondasi penting sebelum seseorang membacakannya. Bagian kedua berisi trik membaca puisi, termasuk penghayatan, intonasi, dan ekspresi. Bagian ketiga menjelaskan teknik memegang teks saat tampil di panggung. Sementara bagian keempat menghadirkan contoh teks puisi serta akses pembacaan puisi melalui barcode, sehingga pembaca dapat belajar secara visual dan audio sekaligus.
Indra menjelaskan bahwa buku ini ditulis untuk mengabadikan pengalaman sastra sekaligus meningkatkan kemampuan membaca puisi. Menurutnya, buku tersebut juga menjadi sarana memperluas wawasan dan memperkuat literasi, khususnya di bidang sastra.
Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini telah menjadi pelatih baca puisi sejak 2011 di berbagai jenjang pendidikan: SD, SMP, hingga SMA. Prestasi murid-murid bimbingannya cukup menonjol: juara tingkat kabupaten di berbagai kategori, hingga juara tingkat provinsi melalui ajang FLS2N. Indra sendiri pernah meraih Juara 2 Lomba Baca Puisi tingkat Provinsi Bangka Belitung kategori guru dalam peringatan Hari Guru Nasional ke-79 tahun 2024.
Di kejauhan, seolah terdengar suara peserta lomba membaca puisi karya WS Rendra. Suara itu menggema, membawa daya hidup kata-kata:
Aku merindukan mata bayi
setelah aku dikhianati mata durjana.
Aku merindukan mata hari
karena aku dikerumuni mata gelap…
Barangkali, di antara para peserta itu, ada yang telah mempelajari buku karya Indra Pirmana—membaca, berlatih, lalu menemukan keberanian untuk menghidupkan puisi di atas panggung. ***