Tengku Zulkifli Usman: Trump Ditekan Lobby Yahudi Israel untuk Segera Serang Iran, Tetapi Risiko Terlalu Besar
Oleh Tengku Zulkifli Usman, pengamat Timur Tengah
ORBITINDONESIA.COM - Apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar saat ini, itu akan menjadi penentu arah konflik AS dan Iran nantinya.
Saat ini di Gedung Putih, para penasihat keamanan Trump belum bisa meyakinkan Trump bahwa serangan ke Iran akan berhasil.
Para penasihat Trump memberikan masukan, bahwa balasan Iran akan sangat keras dan membahayakan seluruh kepentingan AS di seluruh kawasan itu.
Dua hari lalu, salah satu pimpinan intelijen Israel Mayor Jenderal Shlomi Binder juga berangkat ke gedung putih, membriefing Trump soal rencana serangan ke Iran. Ini mengindikasikan sulitnya Trump mengambil keputusan final tentang kapan serangan dilakukan.
Sementara di Iran, pemimpin spiritual Ayatullah Ali Khamenei telah mengumpulkan semua pimpinan militer Iran, memberikan instruksi siap perang dan juga siap negosiasi jika saja AS menghormati hak hak Iran. Jika tidak, maka pilihan Ali Khamenei adalah all out war.
Kepala Komite Keamanan Nasional Iran Ali Larijani juga telah pergi ke Moskow menemui Putin. Membahas hal-hal strategis dan serius dari eskalasi yang saat ini berkembang.
Sementara Menlu Iran Abbas Araghchi pergi ke Turki menemui Erdogan dan Menlu Hakan Fidan, mempresentasikan upcoming conflict dengan AS dan Israel.
Trump saat ini di bawah tekanan lobby Israel di AS untuk segera menyerang Iran. Dengan 3 tujuan utama. Melucuti Nuklir Iran, menghancurkan Proyek Balistik Iran, dan menumbangkan pemerintah Iran.
Seperti yang sering saya tulis dalam artikel saya sebelumnya, bahwa mayoritas pejabat elit AS termasuk Trump adalah pemakan uang haram lobby Israel di AS, makanya semua mereka akan bekerja sesuai dengan arahan Israel, bukan demi kepentingan nasional AS itu sendiri.
Yang lebih bahaya lagi, Trump kemungkinan ditekan dengan cara lain, jika tidak menyerang Iran, maka Epstein files akan dibuka ke publik dan keterlibatan Trump dalam prostitusi dengan anak di bawah umur akan dibongkar ke publik. Trump terlibat kriminal pedophile dalam Epstein files yang saat ini mati-matian dia tutupi.
All out war saat ini bukan pilihan AS, Trump dan semua penasihatnya yakin bahwa all out war tidak akan menguntungkan AS. Dan tidak juga mampu menggulingkan pemerintahan Iran.
Gedung putih sedang mempelajari serangan simbolis untuk menutup malu, face saving attack. Seperti serangan simbolis ke situs nuklir Iran Juni tahun lalu.
Tapi yang menjadi persoalan mendasar saat ini, walaupun AS melakukan serangan simbolis, Iran kemungkinan akan merespon dengan kekuatan penuh, karena semua jenis serangan AS kali ini akan dianggap sebagai serangan eksistensial bagi Iran.
Trump sosok yang jago mengancam, tapi bukan sosok yang berani berperang total. Trump berani ke Venezuela karena dia yakin Venezuela tidak akan membalas. Tapi beda dengan Iran, penasehat Trump mengingatkan balasan Iran akan keras dan ini menjadi pertimbangan Trump saat ini sambil mencari cara agar tidak malu kalau tidak jadi menyerang pada akhirnya.
Tekanan psikologis ke Iran dijawab dengan respon yang termasuk elegan di pihak Iran, semua pejabat Iran tidak terlihat panik, tetap tenang, dan terus mengirim pesan yang jelas ke AS: serangan apapun ke Iran akan direspon dengan full power.
Gedung putih masih gamang karena jika serangan tidak mampu menggulingkan pemerintahan Iran, tidak mampu menghancurkan Proyek Balistik Iran, dan tidak mampu melucuti Nuklir Iran, maka akan berakhir sia-sia.
Informasi dari dalam intelijen Israel saat ini menyebutkan bahwa para penasihat keamanan Netanyahu menjelaskan bahwa Israel tidak sanggup bertahan dalam skenario perang habis habisan dengan Iran.
Analisis penasihat keamanan Netanyahu ini juga diperkuat dengan analisa mantan Diplomat Inggris Alistair Crooke, yang mengatakan, bahwa dalam skenario perang all out dengan Iran, Iran mampu melumat Israel ke titik yang membahayakan, baik sipil maupun militer dan mampu mendatangkan kehancuran yang besar bagi Israel.***