Tradisi Berbuka Bersama Keluarga
Penulis : Eddy Salahuddin
Guru dan Penulis
Melalui pesan singkat di grup WA keluarga terkirim pesan ananda untuk melakukan buka puasa bersama hari ini. Ibunya anak-anak membaca dan membalas pesan tersebut dengan suka cita. Akan tetapi, balasan yang dikirimkan sedikit mengecewakan anak-anak dan cucu karena ibunya anak-anak belum siap karena belum belanja bulanan. Persediaan makanan di kulkas belum ada sehingga ritual ini ditunda besok.
Aku membaca juga pesan tersebut dan menanyakan kepada istri, dia pun menjawab dengan nada sedih karena tidak bisa mewujudkan harapan anak-anak untuk bukber hari ketiga ini. Aku pun memaklumi kondisi keuangan keluarga pada pekan terakhir biasanya sudah mulai menipis. Berbagai kebutuhan keluarga harus dipenuhi, antara lain membeli pulsa listrik, membayar biaya berlangganan internet dan juga biaya jasa setrika pakaian kepada binatu langganan.
Kami masih sangat bersyukur karena dua anak perempuan sudah berkeluarga dan menjalani kehidupan mereka masing-masing. Akan tetapi, masih ada si bungsu yang harus dicukupi kebutuhannya, terutama biaya perkuliahannya yang tinggal satu tahun lagi. Kedua anak perempuan kami juga sudah dikaruniai balita yang lucu-lucu sehingga mereka juga mempunyai tanggung jawab yang bertambah.
Mereka akan sangat bersuka cita bila ada kegiatan buka bersama dengan orang tuanya dan suasananya menjadi semakin menyenangkan bila berkumpul bersama dan menikmati suasana bulan yang suci ini. Kami pun sebagai orang tua tentunya juga tidak keberatan bila mereka mempunyai cukup waktu untuk mengunjungi kedua orang tua dan adik satu-satunya.
Berkumpul dan menikmati suasana bersama merupakan kebahagiaan yang tidak dapat dibayar dengan apa pun.
Cucu-cucu kami juga sudah semakin lucu dan menggemaskan. Cucu pertama laki-laki dan dipanggil oleh cucu kedua dengan "Abang". Dia merupakan cucu dari anak kedua kami. Sedangkan adiknya merupakan cucu dari anak pertama kami. Cucu pertama sudah berusia 4 tahun lebih sedangkan adiknya masih 1,5 tahun. Si "Abang" senang sekali mengganggu adiknya yang baru bisa berjalan ini.
Jika ada mainan, si "Abang" selalu menjadi pengambil keputusan bahwa adiknya hanya boleh pegang mainan ini dan mainan itu. Tidak boleh pegang mainan ini dan mainan itu. Pokoknya, adiknya selalu mengalah bila Abang yang mengajak bermain.
Si "Abang" yang kami panggil Nino ini merupakan, balita laki-laki yang sangat aktif dan kreatif dalam masa balitanya. Banyak sekali keterampilan motorik halus dan kasar yang dikuasainya. Dari menggunting kertas, menulis berbagai pola dan coretan serta mewarnai pola gambar. Sangat suka bermain mobil-mobilan dan bola kaki.
Si adik yang belum punya keterampilan yang cukup banyak hanya mengikuti saja apa yang dilakukan abangnya. Sesekali mereka berebut mainan karena egonya Abang yang tidak boleh mainannya dipinjam. Si adik baru beberapa Minggu ini bisa berjalan dan mengucapkan sepatah dua patah kata. Keterampilan motorik kasar dan halusnya juga berkembang dengan baik.
Cucu-cucu yang lucu ini belum diajarkan untuk berpuasa. Si Abang pernah sekali dibangunkan ibunya untuk sahur meski dalam suasana dan rasa kantuk yang berat. Akan tetapi, usia balitanya belum memungkinkan dirinya untuk belajar berpuasa. Insyaallah, bila dia sudah cukup kuat menahan lapar dan dahaga barulah dia bisa mulai berpuasa.