Budaya Kerja Ekstrem 996 di Industri Teknologi: Efisiensi atau Eksploitasi?
ORBITINDONESIA.COM – Di tengah gempuran inovasi teknologi, budaya kerja 996 menciptakan dilema antara produktivitas dan kesejahteraan.
Budaya kerja 996, yang menuntut karyawan bekerja dari 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari dalam seminggu, telah menjadi fenomena di industri teknologi. Rilla, perusahaan berbasis di New York, menjadi contoh nyata budaya ini dengan menawarkan kompensasi menarik namun juga jam kerja yang melelahkan.
Budaya 996 pertama kali muncul di Tiongkok, didorong oleh ambisi untuk menjadi pemimpin dalam teknologi canggih. Di Amerika Serikat, penerapan budaya ini didorong oleh perlombaan inovasi AI yang intens. Namun, riset menunjukkan bahwa produktivitas menurun setelah ambang batas 40 jam kerja per minggu terlampaui.
Para pendukung budaya 996, seperti Jack Ma, melihatnya sebagai berkah. Namun, kritik menyebutnya sebagai eksploitasi yang mengabaikan kesejahteraan karyawan. Beberapa ahli berpendapat bahwa pendekatan ini dapat menyebabkan kelelahan jangka panjang dan membahayakan kesehatan.
Budaya kerja 996 mengajarkan kita tentang batas antara dedikasi dan kesehatan. Apakah kita siap membayar harga tinggi demi inovasi? Atau dapatkah kita menemukan keseimbangan yang lebih baik dalam mengejar produktivitas?
(Orbit dari berbagai sumber, 25 Februari 2026)