Kesepakatan Dagang Indonesia-AS: Untung atau Buntung?
ORBITINDONESIA.COM – Kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran bagi sektor industri domestik. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan potensi risiko yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.
INDEF menyoroti asimetri dalam kesepakatan tarif yang menguntungkan AS. Indonesia berencana menghapus 99 persen tarif produk dari AS, sementara ekspor Indonesia ke AS masih dikenakan tarif tinggi. Kondisi ini dinilai dapat menekan daya saing produk ekspor Indonesia.
Berbagai sektor seperti tekstil, alas kaki, dan turunan sawit berpotensi terdampak. Ekspor alas kaki ke AS mencapai 40 persen dari total ekspor global sektor tersebut. Sementara, pelonggaran impor pangan dari AS dapat menekan petani lokal dan mengancam ketahanan pangan nasional.
Kritik terhadap kebijakan ini menyoroti risiko jangka panjang terhadap industri domestik. INDEF merekomendasikan peninjauan ulang kesepakatan dan meminta DPR untuk berperan aktif. Ketahanan ekonomi lokal harus menjadi prioritas dalam setiap perjanjian internasional.
Kesepakatan ini menguji keseimbangan antara keterbukaan perdagangan dan perlindungan industri lokal. Apakah Indonesia akan berani menegosiasikan ulang demi masa depan ekonomi yang lebih mandiri? Pertanyaan ini tetap menggantung, menunggu jawaban dari pemerintah dan para pemangku kepentingan.
(Orbit dari berbagai sumber, 1 Maret 2026)