KETIKA KEYAKINAN MENGALAHKAN KETERBATASAN

Oleh Mila Muzakkar 

(Founder Generasi Literat)

Di usianya yang baru 19 bulan, Helen Keller, seorang anak di Alabama, Amerika Serikat, mengalami buta dan tuli. Seketika dunia menjadi gelap. Sunyi. Sepi. 

Tapi yang lebih sunyi dari itu adalah stigma orang-orang terhadapnya. Banyak yang mengira hidupnya sudah selesai. Bahwa ia hanya akan menjadi beban. Bahwa takdirnya sudah berhenti di titik itu. 

Tapi ternyata nggak!

Suatu hari, orang tua Helen mendatangkan seorang perempuan bernama Anne Mansfield Sullivan, yang kemudian menjadi guru Helen.

Anne hadir menjadi sosok yang nggak pernah menyerah. Dari mengajarkan kata demi kata, sampai membawa Helen menyentuh langsung objek-objek tertentu untuk memahami kata-kata itu.

Dan dari sentuhan kecil yang konsisten dilakukan oleh Anne, Helen Keller menjadi tunanetra dan tunarungu pertama yang berhasil menjadi penulis, aktivis, dosen, dan inspirasi dunia. 

Satu orang yang percaya. Satu orang yang sabar. Satu orang yang nggak melihat keterbatasan, tapi melihat kemungkinan, bahkan meyakini ada mutiara yang bisa digali di sana. 

Dari situ kita belajar bahwa keterbatasan fisik nggak pernah lebih kuat daripada keyakinan dan dukungan emosional dari orang lain. 

Penyakit mungkin menyerang tubuh, tapi harapan harus selalu digantungkan setinggi langit.

 

***

 

*1 Kakak, 1 Adik*

Kisah Helen Keller itu aku ceritakan ketika membuka kegiatan _"Gerakan Kembali Ke Buku: 1 Kakak, 1 Adik, Membaca Buku dan Bermain Bersama Adik Pasien Kanker"_, yang diadakan oleh Generasi Literat, di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Minggu, 1 Maret lalu.

Sebanyak 27 anak muda dari berbagai profesi hadir menjadi "kakak asuh sehari" bagi puluhan anak pasien Kanker, yang saat ini sedang menjalani proses pengobatan di beberapa rumah sakit di Jakarta.

Anak muda ini bukan artis, content creator, pejabat, atau kepala daerah. Mereka juga bukan orang yang kaya-kaya amat. Mereka anak muda umum: pekerja harian, dosen, mahasiswa, tapi datang dengan donasi uang, waktu, tenaga, dan yang terpenting donasi kasih sayang.

Sepanjang sore, para kakak terlihat begitu bersahabat dan akrab dengan adik-adik asuhnya. Dari belakang, aku menyaksikan sang adik duduk di pangkuan kakak, sebagian kakak sesekali memeluk adik. Ada juga yang rela duduk sejajar dengan kursi roda sang adik. Beberapa kakak terlihat bersabar "ngelonin" adiknya yang menangis. 

Berbagai kegiatan mereka lakukan bersama. Dari membacakan buku-buku anak, melukis dunia impian, menyusun puzzle, dan bermain bersama. 

Menjelang waktu berbuka puasa, masing-masing kakak memberi snack kesukaan anak-anak pada umumnya. Dan sebagai bentuk terima kasih kepada kakak, giliran adik-adik memberi seikat bunga dan coklat kepada kakak-kakaknya.

Moment itu sangat emosional. Aku sempat larut, sedih, juga terharu menyaksikan suasana itu.  

Betapa anak-anak muda itu berhati mulia. Betapa anak-anak pasien kanker itu bukan main gembiranya memiliki "kakak sehari", yang baru mereka kenal beberapa jam sebelumnya. 

Dari situ, aku menyadari: Adik-adik pasien kanker itu merasa dianggap penting. Merasa nggak sendiri. Merasa diyakini.

 

***

 

*The Real Pancasila*

Bukankah ini praktek Pancasila yang benar-benar membumi? 

Ketika seseorang terpanggil membantu orang lain, karena itu bagian dari refleksi sifat Tuhan yang ada dalam diri manusia (baca: sila 1 pancasila)

Bukankah ini modal bangsa yang luar biasa?

Ketika warga saling bantu, bukan karena disuruh oleh peraturan, bukan juga untuk pencitraan yang ingin dipamer di media sosial. Warga saling bantu karena rasa terpanggil dan rasa bertanggung jawab secara moral kemanusiaan untuk menghadirkan akses literasi yang adil, serta harapan hidup yang lebih baik (baca: sila 2 & 5 Pancasila)

Kehadiran 27 "Kakak Asuh" dari berbagai kalangan di acara ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi mereka telah menjadi Anne Sullivan-Anne Sullivan yang lain (guru Helen Keller) bagi banyak Hellen Keller di masa depan.

Karena seringkali, bukan uang atau makanan yang kita bawa, yang paling adik-adik ingat, tapi waktu dan kasih sayang tulus yang kita berikan. Juga keyakinan bahwa mereka bisa tumbuh menjadi anak sehat dan hebat. 

Karena sering kali, adik-adik pasien Kanker nggak butuh seribu orang yang kasihan padanya. Ia hanya butuh satu orang yang yakin padanya.

Hari ini, aku melihat, kehadiran kami bukan hanya memberi bantuan, tapi memberi harapan. Karena bisa jadi, di antara adik-adik yang sedang berjuang hari ini, ada calon penulis hebat, calon guru, calon ilmuwan, calon pemimpin bangsa, yang kelak berdiri di panggung dunia dan mengatakan bahwa: 

“Aku bisa sampai di sini, karena dulu ada satu kakak asuh yang meyakinkanku untuk sampai di sini. 

 

Selamat Hari Kanker Sedunia.

 

Depok, 4 Februari 2026