Ribuan Orang Berunjuk Rasa di London Menuntut Diakhirinya Serangan AS dan Israel terhadap Iran

ORBITINDONESIA.COM - Ribuan demonstran anti-perang pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, berunjuk rasa di pusat kota London, menyerukan penghentian segera operasi militer AS dan Israel terhadap Iran dan penghentian penjualan senjata ke Israel, lapor Anadolu.

Menurut Manchester Evening News, protes tersebut menarik antara 5.000 dan 6.000 peserta, berdasarkan perkiraan dari Kepolisian Metropolitan.

Aksi unjuk rasa dimulai di Millbank dekat Victoria Tower Gardens pada siang hari dan diorganisir oleh koalisi kelompok aktivis, termasuk Campaign for Nuclear Disarmament (CND), Stop the War Coalition dan Palestine Solidarity Campaign.

Para pengunjuk rasa berbaris menuju Kedutaan Besar AS sambil membawa plakat bertuliskan “Hentikan Perang Trump” dan “Tidak Ada Perang terhadap Iran,” sementara yang lain mengibarkan bendera Iran dan Palestina.

Beberapa demonstran juga membawa potret mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Para penyelenggara menggambarkan serangan militer tersebut sebagai "ilegal" dan memperingatkan bahwa meningkatnya konflik dapat membahayakan jutaan warga sipil di seluruh Timur Tengah.

Chris Nineham, wakil ketua Koalisi Hentikan Perang, mengatakan situasi tersebut merupakan salah satu "momen global paling berbahaya dalam beberapa dekade."

"(Presiden AS Donald) Trump dan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu menciptakan pembunuhan dan kekacauan di seluruh Timur Tengah. Mereka berisiko menyebarkan perang di seluruh Timur Tengah, dan mereka menciptakan kondisi volatilitas dan ketidakstabilan di seluruh dunia, dan yang memalukan adalah pemerintah kita mengizinkan pangkalan-pangkalan Inggris digunakan untuk mempromosikan kekacauan ini," kata Nineham dalam sebuah video yang diunggah di media sosial dari protes tersebut.

Ia menambahkan bahwa banyak orang di Inggris menentang perang dan menyerukan gerakan yang luas dan vokal untuk memobilisasi diri melawan konflik dan mengadvokasi perdamaian.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Khamenei dan lebih dari 150 siswi, serta pejabat militer senior.

Iran membalas dengan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah, serta beberapa kota di Israel.

Indonesia

Indonesia telah mengumumkan penangguhan semua diskusi tentang usulan Dewan Perdamaian, sebuah inisiatif yang diluncurkan oleh Presiden AS Donald Trump, seiring meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengatakan keputusan untuk menangguhkan partisipasi diambil karena eskalasi militer terbaru di kawasan tersebut, yang secara langsung memengaruhi prioritas kebijakan luar negeri negara-negara yang terlibat dalam inisiatif tersebut.

Ia menjelaskan bahwa perhatian internasional kini telah beralih ke konsekuensi konflik dengan Iran. Ia menambahkan bahwa Indonesia akan mengadakan konsultasi intensif dengan para mitranya di kawasan Teluk, karena mereka secara langsung terdampak oleh serangan yang sedang berlangsung dan meningkatnya ketegangan.

Partisipasi Indonesia dalam dewan tersebut telah menghadapi kritik keras dari kelompok politik dan agama domestik. Mereka berpendapat bahwa bergabung dengan inisiatif yang dipimpin oleh pemerintahan Trump dapat melemahkan posisi Jakarta yang telah lama mendukung perjuangan Palestina.

Dalam konteks yang sama, Majelis Ulama Indonesia menyerukan penarikan segera dari inisiatif tersebut, dengan mengatakan bahwa inisiatif itu tidak efektif selama serangan militer terus berlanjut. ***