Prabowo Subianto: Warga Iran "Waspada" Terhadap Pembicaraan Baru dengan AS Setelah Dua Kali Tertipu

ORBITINDONESIA.COM - Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan bahwa warga Iran "waspada" terhadap pembicaraan baru dengan AS setelah dua kali tertipu.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Minggu, 15 Maret 2026, Prabowo mengatakan kepada Bloomberg bahwa warga Iran baru-baru ini mengatakan kepadanya bahwa mereka waspada untuk memasuki negosiasi dengan AS karena mereka merasa "pada dasarnya mereka telah ditipu" dua kali.

Dalam perang asimetris, "mereka benar-benar hanya harus bertahan hidup," katanya.

Oman menjadi mediator dalam putaran pembicaraan terbaru antara Teheran dan Washington mengenai Iran ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu pembalasan terhadap negara-negara regional.

Prabowo menyatakan bahwa ia bersedia menjadi mediator dan melakukan perjalanan ke Iran jika kedua pihak setuju.

"Kita semua bingung," kata Prabowo tentang perang AS-Israel dengan Iran. “Dan saya sedih. Saya merasa tidak ada rasionalitas dalam hal ini,” tambahnya.

“Saran saya selalu mencari opsi damai,” kata presiden, seraya mendesak semua pihak untuk menunjukkan kesediaan terlibat dalam mediasi apa pun.

Prabowo juga menegaskan kembali dukungan Indonesia untuk solusi dua negara di Palestina, khususnya dalam Dewan Perdamaian (BoP) yang dipimpin Presiden AS Donald Trump.

“Setiap kebijakan akan memiliki pro dan kontra,” katanya tentang BoP.

“Jika kita berada di dalam BoP, kita masih dapat memengaruhi dan berupaya menuju solusi yang langgeng, yang menurut pandangan kami adalah Palestina yang merdeka — solusi dua negara,” tegasnya.

Ia mengatakan rencana Jakarta untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Gaza kini “ditangguhkan.”

Jakarta telah menjanjikan 8.000 pasukan untuk dikerahkan di bawah Pasukan Stabilisasi Internasional ke wilayah Palestina yang hancur di Gaza.

Ketegangan regional meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk, yang menurut Iran menargetkan "aset militer AS." ***