Cerpen Ahmad Gusairi: Kue Rintak Emak

Oleh Ahmad Gusairi

ORBITINDONESIA.COM - Gema takbir masih menggantung di langit, seolah enggan benar-benar pergi. Cahaya pagi Idulfitri merayap masuk lewat jendela, menyentuh meja tamu yang penuh toples kue.

Nastar, kastengel, putri salju, getas—semuanya tersusun rapi. Indah dipandang, menggoda untuk disantap. Namun entah mengapa, hatiku justru terasa kosong.

Aku berdiri cukup lama di depan meja itu. Membuka satu toples, mengambil sepotong kue, lalu menggigitnya perlahan. Rasanya enak—bahkan sangat enak. Tapi tetap saja, ada ruang dalam diriku yang tak terisi. Seolah ada satu rasa yang hilang. Rasa yang tak bisa dibeli, tak bisa ditiru.

“Kok diam saja, Bang?” suara istriku terdengar lembut dari belakang.

Aku menoleh, tersenyum tipis. “Cuma… ingat sesuatu.”

“Emak?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

Ia tidak melanjutkan. Ia tahu, setiap Lebaran, aku selalu kembali ke kenangan yang sama—tentang Emak, tentang dapur kecil kami, dan tentang kue rintak yang tak pernah absen dari meja Lebaran.

Beberapa hari sebelum Lebaran, rumah kami dulu selalu hidup.

Bukan oleh lampu—listrik belum masuk kampung kami waktu itu. Kalau pun ada, hanya di kompleks perumahan dinas PT Timah di seberang jalan.

Rumah kami hidup oleh kesibukan.

Sejak pagi, Emak sudah di dapur. Tangannya bergerak cepat, tapi tetap telaten. Menakar tepung, mencampur santan, mengaduk adonan dengan ritme yang seolah menyatu dengan napasnya.

Kami, anak-anaknya, punya peran masing-masing.

Aku kebagian tugas yang paling “berbahaya”—menjaga api.

Setiap sore, aku mengumpulkan kayu, memotongnya kecil-kecil, menyiapkan arang dan sabut kelapa. Kami menggunakan tungku semen di dapur, kadang juga kompor minyak tanah. Untuk memanggang kue rintak, kami memakai gendok dari tanah liat.

Aku masih ingat betapa seriusnya aku menjaga api itu.

Namun seserius apa pun aku, tetap saja sering salah.

Api terlalu besar—kue gosong. Api terlalu kecil—kue setengah matang.

Aku sering kesal pada diri sendiri. Tapi Emak tidak pernah marah.

Ia hanya tersenyum, lalu berkata dengan suara yang selalu menenangkan, “Api itu seperti hati, Jang. Harus dijaga. Tidak boleh terlalu panas, tidak boleh terlalu lemah.”

Waktu itu aku tidak benar-benar mengerti. Aku hanya ingin membantu.

Tahun demi tahun berlalu.

Kami mulai mengenal oven kaleng aluminium. Hidup terasa lebih mudah. Tapi bagi kami, kehangatan tetap berasal dari kebersamaan, bukan dari alat.

Setiap Lebaran, kue rintak buatan Emak selalu paling cepat habis. Gurihnya pas. Garingnya renyah. Aromanya khas. Lebih dari itu, kue itu membawa satu rasa yang sulit dijelaskan—rasa rumah.

Ketika aku menikah dan pindah ke kota, kebiasaan itu tak hilang begitu saja.

Setiap Lebaran, aku selalu memesan kue rintak dari Emak. Jika sempat pulang kampung, aku membawa beberapa toples untuk dibawa kembali. Rasanya seperti membawa pulang pelukan.

Namun semua berubah sejak Emak tiada.

Sejak itu, kue rintak hanya tinggal nama.

Istriku beberapa kali mencoba membeli atau memesan dari orang lain. Bentuknya sama, bahkan lebih cantik. Tapi rasanya tidak pernah benar-benar sampai. Selalu ada yang kurang.

“Bang, ini aku beli kue rintak,” katanya suatu hari, menyodorkan sebuah toples kecil.

Aku membukanya perlahan. Aromanya menyeruak—gurih, hangat. Aku mencicipinya.

“Enak?” tanyanya.

Aku tersenyum. “Enak…”

Aku berhenti sejenak. “Tapi… tidak pulang.”

Ia terdiam. Ia mengerti.

Siang itu, setelah bersilaturahmi, ada sesuatu yang memanggilku. Bukan suara. Bukan bayangan. Tapi rasa.

Aku pulang ke kampung.

Perjalanan terasa seperti membuka lembaran lama. Jalan yang dulu sepi kini ramai. Beberapa rumah berubah, beberapa lagi tinggal kenangan.

Di depan rumah lama, langkahku melambat.

Pintu kayu itu masih sama. Aku mendorongnya perlahan. Engselnya berderit, seperti menyambutku.

Rumah itu sunyi.

Tanpa sadar, kakiku melangkah ke dapur. Tempat segalanya dulu bermula.

Tungku tanah liat itu masih ada di sudut. Retak, usang, tapi tetap berdiri.

Aku duduk di dekatnya. Menyentuh permukaannya. Dingin. Tapi di dalam hatiku, sesuatu justru menyala.

Kenangan datang—pelan, lalu tiba-tiba begitu jelas.

Suara kayu terbakar. Tawa kami. Dan suara Emak.

“Jaga apinya, Jang…”

Air mataku jatuh. “Mak…” bisikku lirih.

Di rak tua, aku melihat sebuah kotak kecil. Kubuka. Di dalamnya ada buku tipis dengan sampul yang mulai pudar.

Tulisan tangan Emak.

Tanganku bergetar saat membukanya. Hingga akhirnya aku menemukan satu halaman:

Resep kue rintak. Di bawahnya tertulis:

“Adonan diaduk dengan sabar.”
“Api dijaga seperti hati.”

Dan di bagian paling bawah:

“Kalau suatu hari Emak tidak ada, buatlah kue ini. Bukan untuk rasanya saja, tapi supaya kamu tahu—kita pernah saling menjaga.”

Dadaku sesak, tapi hangat.

Malam itu, aku pulang dengan satu tekad.

Aku masuk dapur tanpa banyak bicara.

“Abang mau apa?” tanya istriku.

“Mau pulang,” jawabku pelan.

Ia mengernyit. “Pulang?”

Aku mengangguk, membuka buku kecil itu. “Resep kue rintak.”

Kami mulai mencoba.

Percobaan pertama gagal. Kedua juga. Ketiga hampir membuatku menyerah.

Aku diam lama, menatap adonan.

Lalu aku sadar—dulu aku tidak pernah benar-benar belajar. Aku hanya membantu.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar mencoba memahami.

Aku mengaduk lebih pelan. Menunggu lebih sabar. Menjaga api dengan lebih tenang.

Dan akhirnya…

Satu loyang kue rintak matang. Tidak sempurna. Tapi cukup.

Aku mengambil satu. Mencicipinya. Lalu memejamkan mata.

Ada sesuatu yang kembali. Bukan rasa yang sama persis. Tapi perasaan yang sama.

Hangat. Utuh.

Seolah ada yang berbisik di dalam hatiku: “Akhirnya kamu mengerti, Jang.”

Air mataku jatuh lagi.

Kali ini, bukan karena kehilangan. Melainkan karena menemukan.

Keesokan paginya, di hari Lebaran, meja tamu kami kembali terisi.

Di antara kue-kue modern, ada satu toples sederhana. Kue rintak.

Anak-anak mencicipinya, lalu tersenyum. “Enak, Om!”

Aku ikut tersenyum.

Kini aku tak lagi mencari rasa yang sama seperti dulu.

Karena aku akhirnya paham— yang membuat kue rintak istimewa bukan hanya resepnya, bukan pula tungkunya.

Melainkan waktu yang diberikan Emak. Kesabaran yang ia tanamkan. Dan cinta yang ia sisipkan di setiap adonan.

Aku menatap toples itu lama, lalu berbisik dalam hati:

“Mak… sekarang aku tahu. Rasa itu tidak hilang. Ia hanya menunggu untuk dilanjutkan.”

Angin pagi masuk perlahan.

Dan saat itu, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tak kurasakan— bukan sekadar Lebaran.

Tapi kepulangan.

Ahmad Gusairi adalah pengajar di SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan; anggota GPMB Bangka Selatan dan Satupena Bangka Belitung. ***