Warga Syiah Irak Minta Fatwa untuk Gabung Perang Membela Iran

ORBITINDONESIA.COM - Kerumunan yang berkumpul di luar kediaman Ali al-Sistani baru-baru ini bukanlah peristiwa rutin—ini mencerminkan peningkatan ke tingkat otoritas keagamaan tertinggi di dunia Syiah.

Sistani bukan hanya seorang ulama; ia secara luas dianggap sebagai marja (tokoh panutan) Syiah yang paling berpengaruh, dengan otoritas yang meluas di Irak, Iran, Pakistan, dan komunitas Syiah global.

Kata-katanya bukan sekadar komentar—kata-katanya membentuk perilaku, mobilisasi, dan arah politik dalam skala besar.

Peran historisnya menentukan bobotnya. Pada tahun 2014, fatwanya terhadap ISIS menyebabkan pembentukan dan mobilisasi massal Pasukan Mobilisasi Populer Irak, yang secara langsung mengubah medan perang.

Tidak seperti para pemimpin politik, Sistani beroperasi di atas struktur negara, menjaga jarak dari pemerintah sambil memengaruhi hasil secara lebih menentukan daripada banyak lembaga resmi.

Ia dikenal karena sikapnya yang terkendali, jarang mengeluarkan seruan langsung untuk tindakan bersenjata kecuali jika ia menganggap ancaman tersebut bersifat eksistensial.

Situasi saat ini masih berada pada tahap "permintaan". Delegasi yang meminta fatwa menunjukkan peningkatan tekanan, bukan keputusan. Tidak ada keputusan resmi yang menyerukan partisipasi dalam perang Iran yang telah dikeluarkan.

Perbedaan itu sangat penting. Namun, jika arahan seperti itu pernah diberikan, itu tidak akan tetap bersifat lokal—itu akan mengaktifkan jaringan, memengaruhi milisi, dan membentuk kembali konflik dari perang yang dipimpin negara menjadi mobilisasi yang lebih luas dan dilegitimasi secara agama.

Oleh karena itu, momen ini bukan tentang kerumunan—ini tentang kedekatan dengan titik keputusan. Keheningan, persetujuan, atau penolakan Sistani masing-masing akan membawa konsekuensi strategis yang jauh melampaui Irak, memengaruhi keselarasan regional, tingkat eskalasi, dan struktur perang Iran itu sendiri.***