Di Tengah Stigma, Ahmadiyah Ukir Rekor Donor Mata Terbanyak di Indonesia

ORBITINDONESIA.COM — Di sebuah gedung di jantung ibu kota, suasana Sabtu itu terasa berbeda. Bukan sekadar seminar atau seremoni penghargaan, melainkan perayaan kemanusiaan—tentang bagaimana sekelompok orang memilih memberi, bahkan ketika mereka sendiri kerap berada dalam posisi yang tidak mudah.

Bertempat di Gedung Baiturahmat, Jakarta Pusat, Jemaat Ahmadiyah Indonesia menggelar Seminar Nasional Gerakan Donor Mata, disertai workshop eksisi kornea, serta penganugerahan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI), Sabtu (22/7/2017).

Hari itu, satu capaian besar dicatat: Ahmadiyah resmi dinobatkan sebagai komunitas dengan anggota pendonor mata terbanyak secara berkesinambungan.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Jaya Suprana, pendiri MURI, yang tak hanya membacakan piagam, tetapi juga menyampaikan apresiasi yang penuh makna.

Dalam sambutannya, ia menilai bahwa apa yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah bukan sekadar pencapaian angka. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bentuk keteladanan kemanusiaan yang melampaui batas identitas.

Menurutnya, gerakan donor mata ini bahkan layak disebut sebagai rekor dunia—sebuah prestasi yang patut menjadi inspirasi global.

Namun yang membuat capaian ini terasa lebih dalam adalah konteksnya.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi, Jemaat Ahmadiyah justru memilih untuk tetap memberi. Bukan hanya untuk kelompoknya sendiri, tetapi untuk siapa saja yang membutuhkan.

“Kegiatan ini dilakukan oleh komunitas yang sedang tertindas sehingga nilainya lebih luhur lagi,” ungkap Jaya Suprana, menegaskan bahwa kemanusiaan sering kali justru bersinar paling terang dalam situasi yang gelap.

Di sisi lain, Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, H. Abdul Basith, menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk karunia dan amanah.

Baginya, gerakan donor mata bukan sekadar program, tetapi bagian dari pengabdian—sebuah wujud nyata dari prinsip yang selama ini mereka pegang: Love for all, hatred for none.

Ia menegaskan bahwa dalam gerakan ini, tidak ada sekat agama, budaya, maupun latar belakang. Siapa pun berhak menerima manfaatnya.

Hingga saat itu, tercatat sekitar 6.800 orang telah terdaftar sebagai calon pendonor mata dari kalangan Jemaat Ahmadiyah. Dari jumlah tersebut, 258 orang telah benar-benar mendonorkan kornea mereka, dan membantu memulihkan penglihatan bagi lebih dari 500 orang.

Sebuah angka yang bukan hanya statistik, tetapi kisah tentang ratusan orang yang kembali melihat dunia.

Tak berhenti di sana, mereka menargetkan jumlah calon donor terus bertambah hingga menembus 10 ribu orang ke depan.

Dalam kesempatan yang sama, sebuah wilayah di Jawa Barat juga turut mencatat sejarah. Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, dianugerahi rekor sebagai desa dengan jumlah calon donor mata terbanyak, yakni mencapai 1.715 orang.

Di balik segala pencapaian itu, tersimpan satu pesan yang sederhana namun kuat: bahwa memberi tidak selalu menunggu kelimpahan.

Kadang, justru dari mereka yang paling sering disalahpahami, lahir bentuk pengabdian yang paling tulus.

Dan dari sepasang mata yang didonasikan, seseorang di tempat lain bisa kembali melihat—bukan hanya dunia, tetapi juga harapan.***