Mengapa Angkatan Laut "Macan Kertas" NATO Tak Sanggup Membuka Selat Hormuz

ORBITINDONESIA.COM - Aliansi Atlantik Utara yang berusia 77 tahun menghadapi krisis eksistensial ketika perang Presiden AS Donald Trump terhadap Iran yang dijuluki Operasi Epic Fury memasuki bulan kedua.

Pada tanggal 2 April 2026, keretakan yang semakin dalam telah muncul antara Gedung Putih dan mitra-mitra Eropanya. Terlepas dari tekanan intens dari Washington, beberapa sekutu utama NATO menolak tuntutan keterlibatan militer langsung, memicu perang kata-kata yang membuat Presiden menyebut mitra-mitranya sebagai "pengecut" dan "macan kertas."

Gesekan tersebut berasal dari ketidaksepakatan mendasar mengenai legalitas, tujuan, dan konsekuensi regional dari kampanye AS-Israel melawan Teheran.

Pendorong utama penolakan tersebut adalah "perluasan misi" yang dirasakan dari Operasi Epic Fury. Meskipun pemerintahan awalnya menyebutkan penghancuran infrastruktur rudal dan nuklir Iran sebagai tujuannya, konflik tersebut telah berkembang menjadi serangan yang tampaknya berpusat pada perubahan rezim total.

Ambil Jarak Strategis: Sekutu utama termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris telah mempertahankan kebijakan pengambilan jarak politik. Meskipun mereka telah menyediakan aset pertahanan seperti sistem pertahanan udara untuk melindungi Turki dan perlindungan pasukan untuk pangkalan regional mereka sendiri, mereka secara kategoris menolak untuk berpartisipasi dalam serangan ofensif.

Kebuntuan Selat Hormuz: Titik perselisihan utama adalah tuntutan pemerintahan Trump agar sekutu NATO membantu membuka kembali Selat Hormuz. Sebagian besar anggota Eropa telah menolak, karena khawatir intervensi angkatan laut langsung akan meningkatkan konflik menjadi perang energi global.

Tingkat Dukungan yang Berbeda-beda: Aliansi ini terfragmentasi. Sementara negara-negara Baltik, Polandia, dan Republik Ceko telah menyatakan dukungan karena pasokan drone Iran ke Rusia, negara-negara besar tradisional seperti Kanada dan Spanyol telah menyatakan "kritik terselubung" mengenai legalitas perang berdasarkan Piagam PBB.

Frustrasi Presiden Trump atas kurangnya dukungan Eropa telah memuncak menjadi serangan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kredibilitas aliansi tersebut.

Wawancara "Macan Kertas": Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada 1 April 2026, Trump menggambarkan NATO sebagai "macan kertas" dan menyatakan bahwa ia "sangat mempertimbangkan" untuk menarik Amerika Serikat keluar dari aliansi tersebut. Hal ini menyusul ancaman serupa yang dibuat selama KTT Den Haag 2025 dan kontroversi atas usulannya untuk merebut Greenland.

Pembagian Beban vs. Otonomi: Strategi Pertahanan Nasional 2026 pemerintahan menuntut agar negara-negara Eropa memikul "tanggung jawab utama" untuk pertahanan mereka sendiri. Meskipun sebagian besar anggota (kecuali Spanyol) baru-baru ini berkomitmen pada target pengeluaran pertahanan 5% dari PDB di bawah tekanan AS, banyak pemimpin Eropa memandang konflik Iran sebagai "bukan perang kita," yang semakin mempercepat dorongan untuk "Otonomi Strategis."

Pembatasan Akses Pangkalan: Ketegangan mencapai puncaknya ketika Spanyol secara resmi menolak akses AS ke pangkalan militernya untuk operasi terkait Iran, sebuah langkah yang mendorong Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk menyarankan agar pengaturan transatlantik mungkin perlu "diperiksa kembali."

Di luar keretakan geopolitik, pemerintah NATO menghadapi kendala internal yang signifikan yang membuat bergabung dengan kampanye AS menjadi hal yang mustahil secara politik.

Penentangan Publik: Jajak pendapat di seluruh Jerman, Inggris, dan Spanyol menunjukkan penentangan publik yang luar biasa terhadap serangan tersebut. Tekanan domestik ini telah memaksa para pemimpin untuk menyeimbangkan hubungan keamanan mereka dengan Washington terhadap risiko kerusuhan sipil besar-besaran.

Ketidakpastian Hukum: Para ahli hukum Eropa sebagian besar menyimpulkan bahwa kampanye AS-Israel tidak memiliki pembenaran pembelaan diri yang sah berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Ini menciptakan "benteng hukum" yang mencegah banyak anggota NATO untuk mengizinkan tindakan militer ofensif tanpa mandat PBB tertentu.

Dampak Ekonomi: Dengan melonjaknya harga gas global akibat konflik, sekutu Eropa lebih fokus pada mitigasi "kerusakan tambahan" ekonomi dari perang daripada memperluas cakupannya. Para pemimpin saat ini memprioritaskan upaya mediasi yang dipimpin Pakistan untuk mengakhiri perang, bahkan ketika Trump mengklaim konflik tersebut "hampir selesai."

Pada tahun 2026, "Perisai Transatlantik" telah menjadi "Baji Transatlantik." Sekutu NATO tidak hanya bersikap keras kepala; mereka bereaksi terhadap pemerintahan AS yang secara fundamental telah mendefinisikan ulang aturan aliansi dari pertahanan bersama menjadi intervensi "bayar-untuk-bermain".

Menjelang KTT Juli 2026 di Ankara, pertanyaannya bukan lagi apakah NATO dapat menghentikan Iran, tetapi apakah NATO dapat bertahan dari dampak perang Amerika untuk melakukannya.

(Sumber: The Military Channel) ***