Kisah Aipda Vicky Katiandagho: Di Dunia yang Waras, Kejujuran Tak Perlu Dirayakan
Oleh Herry Tjahjono
ORBITINDONESIA.COM - Pagi itu milik Aipda Vicky Katiandagho. Sebagai Kanit Pidsus Sat Reskrim Polres Minahasa, tentu saja Aipda Vicky bukanlah penyidik biasa. Ia bahkan tercatat telah tiga kali meraih penghargaan sebagai penyidik terbaik.
Yang terakhir, dia tengah menggodok "jerohan" kasus korupsi penting yang melibatkan orang berpengaruh di Kabupaten Minahasa. Namun sebuah "mutasi' keburu menyapanya, saat berkas di tangan Vicky mulai bicara terlalu keras.
Di titik itulah Vicky diuji: apakah jabatan merupakan tujuan, atau hanya kendaraan? Banyak orang akan menyesuaikan diri, agar karier tetap berjalan dan rekening tetap tersenyum.
Tetapi Vicky memilih jalan terjal, namun jujur. Baginya, jabatan bukan tujuan. Ia menulis sebuah surat, bukan minta apa-apa–kecuali satu: diberi kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulainya. Menuntaskan kasus korupsi tersebut.
Permintaan yang terdengar sederhana. Tetapi di tengah sistem yang rumit, ruwet, ribet–kesederhanaan jadi terasa seperti ancaman. Maka ketika pintu itu tak kunjung terbuka, Vicky memilih sesuatu yang bagi banyak orang tampak gila: keluar. Mundur!
Dan sesungguhnya Vicky tidak sekadar keluar dari pekerjaannya sebagai polisi–lelaki teguh ini keluar dari kompromi. Dan hari ini– Vicky memilih untuk berdiri di pinggir jalan, meracik kopi.
Sebagian orang mungkin menyebutnya turun derajat. Dunia memang gemar mengukur martabat dari kursi, seragam, atau papan nama. Tetapi ada ukuran lain yang tidak tercetak di kartu identitas: nurani yang bernyanyi dengan nyaring tentang kebenaran yang diyakini.
Satire terbesar dari kisah ini adalah betapa kita menganggap kisah Vicky luar biasa. Kita membagikan ceritanya, menuliskan kata “inspiratif”, menambahkan emotikon tepuk tangan atau dua jempol–seolah kejujuran memang seharusnya menjadi berita. Padahal di dunia yang waras, kejujuran tidak perlu dirayakan. Ia cukup dijalankan.
Setiap cangkir yang ia tuang hari-hari ini bukanlah sekadar minuman. Vicky memilih aroma kopi daripada bau tengik uang haram. Ia adalah bukti bahwa di negeri ini pernah ada polisi, seseorang–yang memilih kehilangan jabatan demi tidak kehilangan dirinya sendiri.
Selamat berjuang Vicky! ***