Primus Dorimulu: Pak JK Tak Perlu Dipolisikan

Oleh Primus Dorimulu

ORBITINDONESIA.COM - Di tengah riuhnya peredaran potongan video yang menampilkan pernyataan Jusuf Kalla, publik dihadapkan pada pilihan: memperpanjang polemik atau meredamnya dengan kebijaksanaan.

Kita percaya, tokoh sebesar Pak JK —yang pernah dua kali menjabat sebagai wakil presiden— tidak mungkin dengan sengaja melakukan tindakan yang berbau SARA. Rekam jejaknya dalam menjaga persatuan bangsa justru menjadi alasan kuat untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih.

Potongan video, apalagi yang terlepas dari konteks utuh, memang bisa memicu tafsir yang beragam. Tanggapan kritis tentu sah, bahkan perlu dalam ruang demokrasi.

Namun membawa persoalan ini ke ranah hukum, apalagi dengan laporan kepolisian, justru berpotensi memperkeruh suasana tanpa memberi manfaat nyata bagi kehidupan berbangsa. Alih-alih menyelesaikan masalah, langkah itu dapat membuka luka baru di tengah masyarakat yang sudah rentan oleh polarisasi.

Tidak berlebihan jika publik menilai bahwa pelaporan terhadap Pak JK lebih kental bernuansa politik ketimbang upaya mencari keadilan.

Dalam situasi seperti ini, kedewasaan kolektif bangsa diuji: apakah kita memilih jalan konfrontasi, atau mengedepankan penghormatan terhadap tokoh bangsa yang telah memberi kontribusi besar bagi negeri ini.

Dari perspektif nilai-nilai Kristiani, semangat pengampunan menjadi fondasi yang tak tergantikan. Tiada kasih tanpa pengampunan.

Seperti ajaran yang menegaskan, “ampunilah mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat,” maka respons terbaik bukanlah membalas dengan kemarahan, melainkan dengan kebesaran hati. Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral yang mempersatukan.

Pada akhirnya, mempolisikan Pak JK bukanlah solusi. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah keteduhan, bukan kegaduhan; persatuan, bukan perpecahan.

Menghargai beliau sebagai tokoh bangsa sekaligus merawat harmoni sosial jauh lebih penting daripada memperpanjang konflik yang tidak perlu. ***