Iam Sawitri, Anak Desa Korban Bullying yang Menembus Industri Mode Eropa

‎“Jangan biarkan orang lain menentukan nilai dirimu. Kamu yang berhak menentukan seberapa jauh kamu melangkah.”

‎Kalimat itu seolah merangkum perjalanan hidup Iam Sawitri, sebuah perjalanan yang tidak dimulai dari mimpi besar, melainkan dari pengalaman pahit yang justru membentuk keteguhan tekadnya.

‎Sejak remaja, Sawitri Khan, nama lengkapnya, telah merasakan bagaimana rasanya dipandang rendah. Warna kulitnya, tubuhnya yang kurus, hingga penampilannya kerap menjadi bahan ejekan. Ia bahkan pernah mengalami kejadian yang membekas: saat sedang menikmati minuman di depan sekolah, seseorang dengan sengaja merusaknya. Sebuah tindakan sederhana, namun cukup untuk meninggalkan luka.

‎“Iya, aku dibully. Problem-nya cuma satu, warna kulit aku, badan aku kurus,” ungkapnya dalam sebuah wawancara.

‎Namun, ia tidak memilih tenggelam dalam rasa sakit itu. Di balik diamnya, tumbuh keyakinan yang kelak menjadi pijakan kuat. Ia pernah berkata dalam hati, bahwa dirinya berharga, bahwa apa yang dianggap kekurangan justru memiliki nilai yang tak bisa diukur oleh standar orang lain.

‎‎Lahir di Medan pada 23 Juni 1996, Sawitri kemudian tumbuh di Jembrana, Bali, setelah keluarganya pindah saat ia masih kecil. Masa kecil hingga remajanya jauh dari dunia modeling. Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi pengacara, sebelum akhirnya mencoba pendidikan pariwisata yang kemudian ia tinggalkan karena merasa tidak cocok.

‎‎Tahun 2017, Sawitri memutuskan pindah ke Jakarta. Di kota itu, ia bekerja di perusahaan milik bibinya yang bergerak di bidang edukasi saham. Di balik rutinitas itu, ada tanggung jawab yang ia bawa, membantu perekonomian keluarga dan kebutuhan kedua adiknya yang masih bersekolah.

‎Hari-harinya diisi dengan berbagai pekerjaan. Ia pernah berjualan bunga, mengurus event organizer, hingga mencari peluang apa pun yang bisa menambah penghasilan. Modeling, saat itu, belum menjadi jalan tujuannya. Sampai suatu hari, sang tante melihat potensi lain dari seorang Iam Sawitri. Tinggi badan, warna kulit, juga karakter wajahnya yang khas justru dianggap punya potensi menarik di dunia modeling. Dari situlah, arah hidupnya perlahan mulai berubah.

‎Bukan dengan langkah besar, tapi dari keberanian untuk mencoba. Sawitri mulai mengikuti sekolah modeling sambil tetap bekerja. Waktunya sering terbagi, bahkan tidak jarang ia harus mengejar ketertinggalan. Selebihnya, ia belajar sendiri dari video, dari pengalaman masa kecil, hingga dari setiap kesempatan yang datang, sekecil apa pun itu.

Namun, jalan itu tidak langsung terbuka. Di Indonesia, ia sempat kesulitan mendapatkan pekerjaan. Bahkan, ketika mencoba casting di Paris, ia mengalami kegagalan. Alih-alih menyerah, Sawitri memilih tetap bertahan dan menunggu momentum yang tepat.

‎Hingga akhirnya kesempatan itu pun datang melalui jejaring yang ia bangun. Dengan dukungan dari orang-orang terdekat, ia akhirnya mendapatkan akses ke agensi modeling di Warsawa, Polandia. Dari titik itulah, kariernya mulai berkembang. Ia kemudian bekerja di bawah sejumlah agensi di Eropa, dengan mother agency Rebel Models Management di Polandia, dan terlibat dalam berbagai proyek bersama brand fashion ternama seperti Zalando, Adidas, Pull & Bear, About You, hingga Puma.

‎Kini, Iam Sawitri telah melangkah di panggung internasional, termasuk berbagai ajang fashion week di Eropa. Ia menetap di Lisbon, Portugal, namun tetap menjaga kedekatannya dengan kampung halaman di Bali. Setiap tahun, ia berusaha pulang untuk bertemu kedua orang tuanya di desa, sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun langkahnya, ia tidak pernah benar-benar meninggalkan akar.

‎Kisah Iam Sawitri bukan sekadar tentang perjalanan karier di industri mode global. Ini adalah cerita tentang keberanian melawan label, tentang bagaimana luka tidak harus menjadi akhir, dan tentang kekuatan untuk tetap menjadi diri sendiri.

‎Dari seorang anak desa yang pernah dirundung, ia membuktikan bahwa jalan hidup tidak ditentukan oleh apa yang orang katakan, melainkan oleh seberapa kuat seseorang percaya pada kemampuannya sendiri.