Erik Erlangga, Anak Petani yang Menembus UGM

Oleh Sumardoni, Guru di Bangka Selatan.

ORBITINDONESIA.COM - Anak ketiga dari tiga bersaudara ini tak pernah menyangka dirinya bisa diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Erik Erlangga, yang lahir di Bangka Selatan pada 24 Februari 2008, kini resmi menjadi mahasiswa baru Program Studi S1 Peternakan UGM angkatan 2026 melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Alumni SMAN 1 Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan tahun 2026 ini mengakui bahwa perjalanannya menuju UGM tidaklah instan.
“Saya pernah mengalami penolakan dari beberapa kampus dan kegagalan dalam perlombaan akademik, dari tingkat kabupaten hingga nasional. Namun, kegagalan itu justru menjadi motivasi untuk terus belajar,” ungkapnya.

Berbagai penolakan dan kegagalan tidak membuat Erik menyerah. Sebaliknya, hal itu menjadi pemicu untuk terus mengasah kemampuan. Hasilnya, ia berhasil meraih juara Olimpiade Biologi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Pendidikan Indonesia serta Himpunan Mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung.

Tak hanya di bidang biologi, Erik juga menunjukkan prestasi di bidang ekonomi dan akuntansi.

“Saya meraih medali perunggu dalam Olimpiade Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta lolos sebagai semifinalis Olimpiade Akuntansi UIN Tulungagung,” jelasnya.

Berbagai capaian tingkat nasional tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berprestasi. Penolakan kampus dan kekalahan lomba yang sempat menumbuhkan keraguan, tidak mampu menghentikan langkahnya.

“Saya sadar, jika saya berhenti, maka cerita anak petani dari Bangka Selatan akan berhenti di situ juga. Karena itu saya memilih untuk terus bergerak. Satu medali, satu piala, satu langkah kecil saya anggap sebagai bukti bahwa anak buruh tani juga berhak berdiri di podium nasional, berhak kuliah di UGM, dan berhak bercita-cita membangun peternakan modern untuk kampung halaman,” tuturnya.

Erik percaya bahwa mimpi tidak mengenal latar belakang. Lahir dari keluarga petani dengan penghasilan yang harus dibagi untuk kebutuhan hidup dan membayar utang setiap bulan tidak membuatnya gentar.

“Justru dari ladang dan keringat ayah, saya belajar arti kerja keras. Dari sisa uang Rp263.000, saya belajar arti bersyukur dan bertahan,” kenangnya.

Di akhir, Erik berpesan kepada diri sendiri dan teman-teman seperjuangan agar tidak takut bermimpi tinggi.

“Latar belakang boleh sederhana, tetapi tekad dan usaha tidak boleh ikut sederhana. Dari tanah yang sama tempat ayah saya menanam, saya juga sedang menanam mimpi. Dan saya yakin, mimpi itu akan tumbuh,” pesannya.

Selamat kepada Erik atas prestasi yang membanggakan ini. Semoga kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.***