Kemerdekaan dan NKRI dalam Naungan Takdir Allah

- Rabu, 17 Agustus 2022 | 09:15 WIB
Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar memberikan keterangan pers soal anggaran Rp48,7 miliar untuk penggantian gorden di rumah jabatan anggota dewan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/3/2022). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar memberikan keterangan pers soal anggaran Rp48,7 miliar untuk penggantian gorden di rumah jabatan anggota dewan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/3/2022). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Oleh: Dr. Indra Iskandar, Sekretaris Jenderal DPR RI

ORBITINDONESIA - Kemerdekaan dan NKRI adalah satu tarikan nafas. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Pembukaan UUD 1945 dan UUD 1945 secara terang benderang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu, punya landasan kokoh: Pancasila.

Dari perspektif inilah, kita memahami kenapa Bapak Proklamator Bung Karno menyatakan bahwa Kemerdekaan dan NKRI bukan hanya sebuah pembebasan dari kolonialisme dan pembentukan negara kesatuan yang bersifat sosiologis dan politis, tapi sudah menjadi ideologis.

Baca Juga: Inilah 5 Jenis Anxiety dan Cara Mengatasinya

Dengan demikian Kemerdekaan, NKRI, dan Pancasila adalah satu kesatuan ideologis bagi seluruh bangsa Indonesia. Tanpa kecuali.

Dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945, Proklamator berkata: Allah SWT membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana kesatuan-kesatuan di situ.

Seorang anak kecil pun -- jikalau ia melihat peta dunia -- ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan.

Pada peta ini dapat ditunjukkan satu kesatuan kumpulan pulau-pulau di antara dua lautan yang besar, Lautan Pasifik dan Lautan Hindia; dan di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia.

Baca Juga: 120 Personel Militer Selandia Baru Dikirim ke Inggris untuk Melatih Tentara Ukraina

Halaman:

Editor: Satrio Arismunandar

Sumber: Indra Iskandar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Shamsi Ali: Urgensi Menjaga Identitas

Senin, 30 Januari 2023 | 12:30 WIB

Prof Agus Budiyono: Sutami, Sri Mulyani dan Jokowi

Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:35 WIB

Dr Abustan: Konstitusi dan Akulturasi Bangsa

Sabtu, 28 Januari 2023 | 08:35 WIB

Syaefudin Simon: Denny JA di Usia 60

Jumat, 27 Januari 2023 | 10:06 WIB

Syaefudin Simon: Tuhan Yang Feminin

Kamis, 26 Januari 2023 | 10:38 WIB

Goenawan Mohamad: ELIEZER

Rabu, 25 Januari 2023 | 12:05 WIB

Dr Abustan: Pemilu dan Kualitas Pemimpin

Rabu, 25 Januari 2023 | 00:31 WIB

Dasman Djamaluddin: Selamat Hari Lahir, Pak Safzen

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:38 WIB

Syaefudin Simon: Haji yang Mahal dan Pengabdi Setan

Senin, 23 Januari 2023 | 22:47 WIB

Dr Abustan: Tegak Lurus Konstitusi

Minggu, 22 Januari 2023 | 20:27 WIB

Solusi Resesi Pascapandemi: Kembangkan UMKM

Kamis, 19 Januari 2023 | 01:34 WIB

Syaefudin Simon: Ateisme dan Tuhan Impersonal

Senin, 16 Januari 2023 | 11:09 WIB

Abustan: Terbuka - Tertutup, Apa yang Kau Cari

Senin, 16 Januari 2023 | 04:21 WIB

Syaefudin Simon: Yusril dan PBB

Minggu, 15 Januari 2023 | 11:15 WIB
X