DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Peluang Anies Menang 2024 Sangat Besar Berkat Kebodohan Kaum Intelektual Golongan Menengah ke Atas

image
Anies Baswedan berpeluang besar menang 2024

 

ORBITINDONESIA - Ciri khas mayoritas Bangsa Indonesia adalah isin mundur dan pantang mengaku salah. Mundur dan atau mengaku salah selalu diartikan sebagai kekalahan.

Dan kekalahan itu dianggap sebagai sesuatu hal yang (sangat) memalukan. Pada beberapa suku dan atau etnis bisa-bisa nyawa taruhannya.

Hilangnya hampir 200 jiwa seusai pertandingan sepakbola antara Arema FC-Persebaya baru-baru ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal dan disembunyikan akan kenyataan itu. Fakta pantang mau kalah itu.

Baca Juga: Tidak Ada yang Tahu, Lesti Kejora dan Rizky Billar Pernah Diundang Raja Arab Saudi untuk Haji, Tapi Ditolak

Dan ini berlaku nyaris pada setiap lapisan masyarakat, segala tingkatan sosial, tingkat pendidikan dan kecerdasan dan atau jabatan apapun. Pada peristiwa apapun.

Meskipun setiap saat berulang-ulang kita mendengar klaim-klaim yang menyatakan bahwa “Bangsa Indonesia sekarang itu sudah cerdas-cerdas”, klaim itu lebih merupakan onani atau masturbasi berjamaah daripada kenyataan.

Bukti yang gamblang terpampang telanjang di depan mata itu pembuatan “sumur-sumur resapan” yang menjebol anggaran DKI Jakarta.

Dengan hasil hancur-leburnya jalan-jalan di Jakarta tanpa ada bukti sedikitpun keefektifannya sumur-sumur resapan tersebut mengatasi banjir di Jakarta.

Baca Juga: Boikot Lesti Kejora dan Rizky Billar Tampil di TV, Pihak Keluarga: yang Rugi Televisi

Yang juga terpampang telanjang di depan mata di musim hujan yang baru saja mulai ini. Di sebelah mananya terbukti Rakyat Indonesia itu cerdas?

Lima tahun penuh menghadapi SATU orang Gubernur yang di segala aspek tidak becus saja tidak bisa berdaya apa-apa, tuh!

Padahal dari seluruh wilayah Indonesia itu, Jakarta adalah tempatnya Para Cerdas berkumpul terkonsentrasi! Nggak bisa apa-apa, tuh!

Lima tahun penuh seusai dikalahkan Anies dalam Pilkada 2017, tidak ada SATU ORANG PUN Intelektual Pintar Indonesia yang terpikir untuk menganalisis dan menyimpulkan, mengapa Ahok bisa dikalahkan oleh Anies!?

Baca Juga: Lirik Lagu Ya Lal Wathon, Dinyanyikan Setiap Hari Santri Nasional, Lengkap dengan Tulisan Arab dan Artinya

Paling banter bolak-balik cuma menggerundel, menggerutu dan mencaci-maki bahwa Anies menggunakan Politik Identitas. Memanfaatkan jurus ayat dan mayat. Itu thok!

Lima tahun isunya itu ke itu terus. Dan sekarang mulai bunyi lagi karena Anies sedang berusaha nyapres 2024. Dengan kemungkinan berhasil pula.

Karena Anies dan timnya tahu keadaan lapangan. Lawan-lawannya mah hanya bisa berdebat dan adu pintar.

Tapi mempelajari sebab-sebab kekalahan yang lalu saja tidak pernah! Bagaimana mau siap menghadapi Anies (lagi)?

Baca Juga: Perhatikan ! Ini Tanda Air Kencing yang Harus Diwaspadai

Kali ini di ajang pertarungan yang beratus-ratus kali lipat lebih besar pulak! Dengan perputaran duit yang jauh lebih besoaaaarrrr………..

Mari saya kasih tahu, ya! Dalam system demokrasi seperti di Indonesia ini, kemenangan Pemilihan Umum ditentukan oleh 50% + 1 suara saja. Simpel banget.

Suara seorang Presiden, Panglima TNI, Menteri, Dirjen, Dirut Pertamina, Gubernur BI, CEO Garuda Indonesia, SIAPA PUN, sama nilainya dengan seorang pemulung miskin yang tinggal di bawah kolong jembatan.

Suara seorang Rektor UI, ITB, Undip, UGM juga sama nilainya dengan seorang yang buta huruf dan tidak pernah menginjak bangku sekolahan selama hidupnya!

Baca Juga: Obat Sirup Distop, Kemenkes Anjurkan Penggunaan Kapsul dan Tablet

Data sensus BPS/ Badan Pusat Statistik hasil sensus tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia itu adalah 270,2 juta jiwa, 70,72% di antaranya adalah usia produktif.

Yaitu di antara usia 15 sampai 64 tahun, yang pada tahun 2024 nanti akan berusia antara 19 sampai 69 tahun. Yaitu usia-usia pemilih di Pemilu, Pilkada dan Pilpres.

Data hasil sensus yang sama, 65% penduduk Indonesia itu pendidikannya cuma setingkat SMP saja.

Sebaliknya yang berpendidikan Perguruan Tinggi CUMA 8,5% saja.

Baca Juga: Baiquni Wibowo Ajukan Eksepsi Kasus Obstruction of Justice

Saya ingatkan kembali: dalam pemilu nilainya sama. Tidak ada bedanya!

Nah, mari kita mundurkan ingatan kita kembali ke Pilkada DKI Jakarta 2017. Terutama pada acara Debat Terakhir antara Anies dengan Gubernur Ahok.

Masih ingat, betapa jomplangnya bobot argumentasi Ahok yang jelas, gamblang penuh data dan fakta itu, dibandingkan dengan Anies yang cuma mengabar-abarkan selembar kertas bertuliskan angka besar, jelas dan mudah dibaca: 63%.

Ngomongnya juga nggak jelas. Cuma bolak-balik mengulang-ulang mengatakan bahwa Gubernur Ahok cuma mampu menyerap Anggaran sebesar 63%.

Baca Juga: GP Amerika, Circuit of The Americas Abadikan Nama Legenda Otomotif AS Jadi Nama Tikungan

Artinya Ahok gagal memaksimalkan pembangunan di Jakarta. Dari awal sampai akhir debat, Anies berputar-putar di situ terus!!!

Begitu Pilkada, jebrettt………..! Hasil penghitungan suara Anies menang 58%!!!

Ahok tidak dungu menuduh adanya kecurangan serta menuntut seperti Prabowo dalam Pilpres 2019. Karena memang percuma. Tahu kenapa?

Karena sepanjang kampanye itu Anies memang menarget warga yang 65% itu. Yang pendidikannya cuma maksimum Sekolah Dasar!

Baca Juga: Kelalaian Kerja Diduga Jadi Penyebab Terbakarnya Kubah Masjid Raya Jakarta Islamic Centre

Orang-orang berpendidikan “setinggi” ini mau diajak membayangkan dirawat gratis di Rumah Sakit Kanker mewah yang akan dibangun Gubernur Ahok? Padahal sehari-hari kalau sakit palingan cuma minum jamu dan kerokan. Atau beli Panadol.

Yang mereka bisa bayangkan itu kalau punya rumah dengan gratis uang muka. Kalau tidak digusur dari tempat mereka tinggal saat ini (saat itu waktu Pilkada).

Dan mimpi-mimpi khayalan sederhana-sederhana saja semacam itu.

Ya semua milih Anies, deh. Seiman atau tidak, pribumi atau Arab, yang penting omongan Anies mudah ditelan! Menang, deh!

Baca Juga: Rekam Jejak Jakarta Islamic Centre, Dulu Dikenal Lokalisasi Kramat Tunggak

Nah sodara-sodara, coba simak seluruh keramaian menjelang Pemilu, Pilkada dan Pilpres 2024 yang akan datang ini.

Adakah perubahan nuansa pada suasana menjelang Pemilu ini?

Kalangan Intelektual Golongan Menengah Ke Atas tetap saja sibuk saling bermasturbasi memamerkan betapa pandai, terpelajar dan tingginya Pendidikan mereka.

Yang hanya bisa ditangkap dan dimengerti oleh 8,5% warganegara kalangan lulusan Perguruan tinggi saja.

Baca Juga: Kementerian Kesehatan Terbitkan Panduan Atasi Gangguan Ginjal Akut untuk Orang Tua

Sementara Anies dan kawan-kawan tetap saja berkomunikasi dengan kalangan 65% lulusan SD atau Sekolah Dasar. Buat manusia ini mah yang penting menang pemilihan.

Masa bodo amat apa kata orang. Diledek senyinyir apa juga 'teu matak bohak' kata Urang Sunda. Nggak bikin bonyok! Yang penting menang suara mayoritas. 50 + 1

Dan itu adanya di kalangan miskin dan bodoh! BUKAN di kalangan atasnya!

Makanya dia sama sekali tidak menanggapi dan mempedulikan olok-olok, cemoohan dan caci-maki Kalangan Intelektual Golongan Menengah Ke Atas itu! Persis seperti sikapnya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu.

Baca Juga: Bukan Pertama Kalinya, Jakarta Islamic Centre Pernah Terbakar Beberapa Tahun Silam

Kitapun belum tahu, ke mana sisa 100% - (65% + 8,5%) = 26,5%nya akan menyalurkan suara pilihannya tahun 2024 nanti?

Masih mau menganggap enteng kemungkinan Anies menang? Masih belum cukup gamblang uraiannya?

Yah, apa boleh buat. Mungkin karena anda kadung terlalu pintar akibat banyaknya makan bangku sekolahan, ya.

Saya mah cuma lulusan SMA saja. Jadi mikirnya juga nggak rumit-rumit amat. Gampang saja. He he he…..

Tabe!

Pamulang, 18 Oktober 2022

(Oleh: Iwan H. Suriadikusumah, lulusan SMA)***

Berita Terkait