DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Sri Lanka Bangkrut Dalam Krisis Keuangan Terburuk

image
Antrian pengisian bahan bakar minyak di Sri Lanka akibat krisis ekonomi di negara tersebut.

ORBITINDONESIA - Sri Lanka "bangkrut." Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan hal itu, Selasa (5/7). Saat ini Sri Lanka menderita krisis keuangan terburuk dalam beberapa dekade. Ini membuat jutaan orang berjuang untuk membeli makanan, obat-obatan dan bahan bakar.

PM Sri Lanka mengatakan kepada anggota parlemen bahwa negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF), untuk menghidupkan kembali ekonomi yang "runtuh" atau bangkrut di ??negara itu, "sulit."

Hal itu karena Sri Lanka, negara Asia Selatan berpenduduk 22 juta itu, telah memasuki pembahasan sebagai negara bangkrut, bukan negara berkembang.

Baca Juga: Pemerintah PM Boris Johnson Terpuruk Akibat Krisis dan Skandal

"Kami sekarang berpartisipasi dalam negosiasi sebagai negara bangkrut. Oleh karena itu, kami harus menghadapi situasi yang lebih sulit dan rumit dari negosiasi sebelumnya," kata Wickremesinghe di parlemen.

"Karena negara kita dalam keadaan bangkrut, kita harus mengajukan rencana keberlanjutan utang kita ke (IMF) secara terpisah," tambahnya. "Hanya ketika mereka puas dengan rencana itu, kami dapat mencapai kesepakatan di tingkat staf. Ini bukan proses yang mudah."

Sri Lanka berada di tengah-tengah krisis keuangan terburuk dalam tujuh dekade. Ini terjadi setelah cadangan devisanya anjlok ke rekor terendah.

Cadangan dolar hampir habis untuk membayar impor penting, termasuk makanan, obat-obatan dan bahan bakar. Sekolah telah ditangguhkan dan bahan bakar dibatasi hanya untuk layanan penting.

Baca Juga: Nathalie Holscher Belum Pulang, Sule: Pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa

Di beberapa kota besar, termasuk ibukota komersial, Kolombo, ratusan orang terus mengantri berjam-jam untuk membeli bahan bakar. Mereka terkadang bentrok dengan polisi dan militer saat mereka menunggu.

Pada hari Minggu (3/7), Menteri Energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera, mengatakan negara itu memiliki bahan bakar yang tersisa kurang dari satu hari.

"Dalam hal bahan bakar dan makanan, negara kita harus menghadapi krisis ini pada suatu saat. Bahan bakar langka. Harga pangan naik," katanya.

Ia menambahkan, krisis internasional seperti perang Rusia di Ukraina telah memperburuk keadaan.

“Akibat krisis global belakangan ini, situasi ini menjadi lebih akut dan kami yang berada di penggorengan jatuh ke dalam oven,” kata Wijesekera.***

 

Berita Terkait