DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Salah Kaprah Penyebutan Istilah Habib di Medsos, Istilah Habib Sudah Mengalami Degradasi

image
Ilustrasi Quraish Shihab, sosok Habib yang rendah hati karena menolak dipanggil Habib. Alasannya, ilmu dan akhlaknya belum pantas.

ORBITINDONESIA.COM - Mantan ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen bin Smith pernah meyampaikan: Rabithah Alawiyah yang merupakan wadah habib se-Indonesia menanggapi terkait penyebutan istilah habib yang dinilai salah kaprah di medsos.

Kata beliau lebih lanjut, "Kita perlu memastikan nasabnya agar tidak merusak marwah sebutan Habib. Makna kata habib adalah seseorang yang dicintai dalam masyarakat Indonesia."

"Kata habib disematkan pada seorang yang memiliki ketersambungan silsilah dengan Nabi Muhammad melalui jalur Siti Fatimah Azzahra yang di masyarakat menjadi tokoh yang dituakan, dengan ciri memiliki adab dan sopan santun, serta memiliki dasar keilmuan, serta selalu mengajak ke kebaikan di setiap tempat di mana beliau berada," ujarnya.

Baca Juga: Kreatif Bisa Ditiru, Kotak Amal Masjid di Cakung, Jakarta Timur Ini Pakai Truk Mini Akhirnya Viral di Medsos

"Karena itu tidak semua yang memiliki ketersambungan silsilah yang dimaksud bisa diberikan sematan habib," tambahnya.

Saat ini telah terjadi degradasi sebutan habib di masyarakat. Baginda Nabi SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR Muslim).

Hanya dengan beramal, semakin mulia di akhirat. “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al An’am 132). Ayat ini menunjukkan bahwa amalan-lah yang menaikkan derajat hamba menjadi mulia di akhirat.

Siapa yang lamban amalnya, maka itu tidak bisa mengejar kedudukan mulia di sisi Allah walau ia memiliki nasab (keturunan) yang mulia. Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi Allah.

Baca Juga: Megawati Minta Gibran Terapkan Strategi Diam Adalah Emas, Menghadapi Manuver Politik Pemilu 2024

Karena kedudukan mulia di sisi Allah adalah timbal balik dari amalan yg baik, bukan dari nasab. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat lainnya,

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya" (Qs Al Mu’minun 101).

Imam Nawawi berkata dalam syarah sahih Muslim: "Siapa saja yang amalnya itu kurang, maka kedudukan mulianya tidak bisa menolong dirinya. Oleh karenanya, jangan terlalu berharap dari nasab atau silsilah keturunan dan keutamaan nenek moyang, akhirnya sedikit dalam beramal.”

“Rasulullah berdiri ketika turun ayat, ” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yg terdekat” (Qs asy Syu’ara 214), lalu beliau berkata:

Baca Juga: Sunardian Wirodono: Moralitas Politikus, Merespon Jusuf Kalla

“Wahai orang Quraisy selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah.

Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah.

Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.

Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.

Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah” (Hr Bukhari, Muslim).

Baca Juga: Akhir Musim, Toprak Razgatlioglu Berpisah dengan Yamaha

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen bin Smith menyatakan: “Cucu dan keturunan Rasul Muhammad seharusnya mempunyai kewajiban yg lebih banyak dan berat, karena harus melayani masyarakat. Ini yg harus kita junjung tinggi."

Habib Zen menyatakan, nasab Rasul "bukan untuk dihormati atau membuat kasta atau ras, namun semata untuk merunut hubungan saja."

Habib Zen menceritakan secara ringkas dan jelas sejarah para habaib (keturunan Rasulullah) yang hijrah ke Indonesia. Sebagian langsung dari Yaman, ada pula yang dari Yaman, singgah dulu di India (Gujarat) lalu kemudian ke Indonesia.

"Di Rabithah, ada satu bidang yg namanya bidang Nasab", untuk mempelajari dan mengetahui nasab, untuk melihat bagaimana runut hubungannya. Dan menurut beberapa sumber, buku atau data nasab yg kami miliki, adalah yg paling lengkap di dunia.

Baca Juga: Sah, Juventus Dihukum Pengurangan 10 poin dan Terlempar dari Zona Liga Champion

Sehingga banyak para habaib dari berbagai negara seperti Maroko, Oman, Malaysia, Saudi dan lain sebagainya meminta buku tersebut. Bahkan kami punya data yg bisa dipertanggungjawabkan tentang nama-nama asli (Arab) Walisongo.”

Habib Zen juga membuat karya buku "Thariqah Alawiyah." Menurutnya, ada lima pilar yang diajarkan dalam Thariqah Alawiyah, yaitu: ilmu, amal, ikhlas, wira’i (hati-hati), dan takwa. “Jika 5 pilar ini dijalankan, insyaallah bisa baik, baik dalam bernegara, baik dalam berniaga, baik dalam berdakwah, dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya kutinggalkan dua pusaka bagi kalian, Kitab Allah (Al-Qur’an) dan itrahku (Ahlulbait). Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat.”

Hadis ini diterima oleh seluruh kaum Muslimin. Ahlulbait adalah sebutan khusus bagi orang-orang tertentu, yang telah ditetapkan secara eksplisit berdasarkan banyak riwayat mutawatir, yang diterima seluruh umat Islam.

Baca Juga: Ingin Diet Namun Terkendala Maag? Ini Tips Menurut Ahli Gizi RS Pakuwon Sumedang

Antara lain Hadits Kisa’ (selimut): Dari Ummu Salamah yang berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW meletakkan kain Kisa’ di atas kepala Ali, Hasan, Husain dan Fathimah sambil berkata, ‘Ya Allah! Mereka inilah Ahlulbaitku. Ya Allah! Hilangkanlah dari mereka segala kenajisan dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’.

Maka Ummu Salamah bertanya, ‘Bukankah aku termasuk di antara mereka juga?’

Nabi saw menjawab, ‘Engkau berada di atas jalan kebenaran.”‘

Dari sini kata Ahlulbait dipastikan sebagai sebutan untuk Nabi Saw., Ali bin Abi Thalib, Fatimah serta kedua putranya, Hasan dan Husain. (Hr Ahmad).

Dzurriyah/Keturunan Nabi kerap disebut “Dzurriyah Rasul”. Kata dzurriyah berasal dari dzarrah yang bisa berarti “benih” atau “benda sangat kecil”.

Baca Juga: Delapan Butir Maklumat Kebangsaan, Ekspresi Keprihatinan yang Diserukan Para Aktivis 1998

Dzurriyah berarti benih manusia alias keturunan. Kata ini mengandung makna general yang meliputi setiap orang yang lahir dari keturunan Nabi.

Secara primer, kata dzurriyah bersifat netral tidak memuat makna penghormatan karena bisa digunakan untuk setiap keturunan. Dalam al Qur’an kata dzurriyah digunakan dalam banyak ayat.

Syarief sebutan umum di kalangan bangsa Arab muslim untuk keturunan dari Sayyidina Hasan. Dan Habib adalah sayyid yang dalam kapasitas ilmu yang waskita. Bisa mengayomi umat, bisa menjadi panutan dalam adab, akhlak, dan ilmu.

Tidak serta merta jika dia Sayyid itu habib. Sebab seorang sayyid mesti dalam kapasitas waskita baik ilmu maupun akhlak. Tidak gampang dan murah menyebut habib. Hanya berdasar praduga dia itu dzuriat. Mesti ada pencatatan dari Rabitah Alawiyah semacan "capil" nya untuk para dzuriat.

Baca Juga: Sinopsis Film The Prince: Selamat Datang di Dunia Kegelapan Ketika Kejahatan Menguasai Kota Hadirkan Rain

Salah satu tabiin (anak cucu sahabat) "Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau yang dikenal dengan sebutan Zainal Abidin (hiasan para ahli ibadah), berkata:

"Garis keturunanku dari Rasulullah tidak menjamin keamananku setelah kudengar firman Allah. "Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka hari itu". (Qs al Kahfi 99).

(Anonim, dikutip dari grup Pecinta NU & Banser) ***

Berita Terkait