DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Isu Ketahanan Pangan dan Masalah Nutrisi di Kawasan Jadi Pembahasan Penting Dalam KTT ke 43 ASEAN

image
Isu Ketahanan Pangan dan Masalah Nutrisi di Kawasan Asia Tenggara Jadi Pembahasan Penting Dalam KTT ke 43 ASEAN

ORBITINDONESIA.COM – Perhelatan KTT ke 43 ASEAN yang digelar di Jakarta sudah berlangsung sejak hari Selasa, 5 September 2023 dan berakhir pada hari Kamis, 7 September 2023.

Dalam pertemuan KTT ke 43 ASEAN ini, beberapa hal penting ikut dibahas dan salah satunya mengenai isu ketahanan pangan dan masalah nutrisi yang terjadi di kawasan.

Isu ketahanan pangan dan nutrisi merupakan satu dari tiga usulan strategis Indonesia dari 16 Priority Economic Deliverables (PED) pada KTT ke 43 ASEAN.

Baca Juga: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Turunkan 27 Pasang Abang None untuk Sambut Delegasi KTT ASEAN

ASEAN Economic Community Council Meeting (AECC) ke 23 yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto telah menghasilkan beberapa isu sentral.

Salah satu isu yang telah dibahas dalam pertemuan tersebut termasuk masalah keamanan pangan dan masalah nutrisi.

Kondisi iklim global dan masalah ketersediaan pangan telah menjadi isu bagi sejumlah negara di Kawasan ASEAN, terutama soal ketahanan pangan.

Baca Juga: Ratusan Unit Kendaraan Listrik Dikerahkan Selama KTT ke 43 ASEAN Berlangsung di Jakarta, Berikut Rinciannya

Maka dari itu, masalah ketahanan pangan ini pun menjadi perhatian serius yang kemudian dibawa ke pertemuan KTT ke 43 ASEAN.

Pada akhirnya, negara-negara di kawasan kini mulai berupaya untuk bisa menciptakan penguatan mekanisme ketahanan pangan selain peningkatan cadangan beras.

Beberapa cara penguatan pangan salah satunya dengan melalui pendekatan teknologi produksi beras berkelanjutan, integrasi kapasitas produksi dengan sistem logistik anggota selain mengamankan rantai pasok dan stabilisasi harga beras.

Baca Juga: Upaya Pemerintah dalam Menekan Polusi Udara Selama KTT ke-43 ASEAN Berlangsung, Langit Jakarta Jadi Cerah

Tak hanya ketahanan pangan, begitupun dengan masalah kekurangan gizi di wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara.

Di beberapa negara, masalah kekurangan gizi telah menjadi masalah krusial, seperti yang terjadi di beberapa negara seperti Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Vietnam dan Indonesia.

Masalah kekurangan gizi ini pun telah menjadi tantangan untuk wilayah ini, terutama tidak jauh dari triple burden of malnutrition seperti kekurangan gizi, gizi berlebih, dan kekurangan zat gizi mikro.

Baca Juga: Mengenal Prinsip The ASEAN Way dalam KTT ke-43 ASEAN Dalam Menjaga Perdamaian dan Stabilitas Asia Tenggara

Isu ketahanan pangan dan masalah nutrisi pun telah menjadi satu dari empat dokumen yang tengah disiapkan dan menjadi inisiatif Indonesia untuk diadopsi kepala negara KTT ke 43 ASEAN.

Keempat dokumen tersebut yaitu:

Pertama, deklarasi kepala negara untuk memperkuat keamanan pangan dan nutrisi sebagai respon terhadap krisis.

Kedua, pernyataan para kepala negara untuk untuk mengembangkan kerangka kesepakatan berkaitan dengan ASEAN Digital Economy.

Baca Juga: TNI Kerahkan Kapal Perang Mutakhir Amankan KTT Ke-43 ASEAN Jakarta

Ketiga, deklarasi para kepala negara berkaitan dengan ASEAN sebagai epicentrum pertumbuhan.

Keempat kerangka Ekonomi Biru ASEAN.

Airlangga Hartarto, selaku Menko Perekonomian hadir dan memaparkan beberapa poin penting mengenai isu tersebut.

Ia menyampaikan bahwa Indonesia sebagai Ketua ASEAN 2023 telah menetapkan 16 Priority Economic Deliverables (PED) yang terbagi dalam tiga usulan strategis.

Baca Juga: Viral, Choi Siwon Ditunjuk Jadi Pembicara dalam ASEAN Business and Investment Summit 2023, Apa Visinya

“Pertama, kita mengamankan sektor pangan untuk Asia Tenggara dengan memiliki protokol,” kata Airlangga, pada Senin, 4 September saat menyampaikan closing remarks dalam acara Champion for ASEAN Economic Future Breakfast.

“Kedua, untuk masa depan ASEAN, kita mengadopsi ekonomi biru dan hijau. Dan yang paling penting adalah memperkuat konektivitas yang menghubungkan regional ASEAN,” lanjutnya.

Di forum ini, Indonesia juga mengangkat 16 PED dengan tujuan meningkatkan daya saing, konektivitas, dan mengakselerasi transformasi digital dan agenda keberlanjutan di kawasan.

Baca Juga: AECC Sepakat Dokumen Inisiatif Dibawa ke KTT ke 43 ASEAN

“Kita patut bersyukur bahwa saat ini sebanyak 11 prioritas yang sudah selesai dan 5 sisanya akan diselesaikan pada Q4 2023 antara Oktober-Desember 2023,” tambah Airlangga.

Selain itu, terdapat empat hal penting yang diperhatikan terkait ASEAN Vision 2045 yang bertujuan menjadikan kawasan ASEAN yang “Resilient, Innovative, Dynamic and People-Centred” yaitu:

Integrasi ekonomi kawasan, transformasi teknologi dan inovasi, ekonomi keberlanjutan, dan kesiapan masyarakat untuk berubah.

Baca Juga: Enam Kali Jadi Tuan Rumah Begini Sejarah KTT ASEAN di Indonesia, Lengkap dengan Hasil Pertemuannya

Selain itu, para Menteri juga menginstruksikan seluruh elemen badan sektoral terkait agar segera menyusun work plan untuk mendukung penyusunan Visi ASEAN 2045.

Menko Airlangga juga menjelaskan tentang isu sustainability, termasuk Strategi Netralitas Karbon di ASEAN yang telah disepakati untuk dikawal implementasinya.

Dalam pertemuan ini, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga ikut dibahas untuk mendukung sustainability (keberlanjutan).

Baca Juga: Inilah Jadwal Rekayasa Lalu Lintas Selama Penyelenggaraan KTT ke-43 ASEAN di Jakarta, Catat Waktunya

Ekosistem kendaraan listrik tersebut menjadi isu yang diusulkan Indonesia dan mendapat sambutan yang baik dari semua negara anggota ASEAN.

Hal tersebut pun disepakati untuk segera merumuskan strategi bersama dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Kawasan.***

Berita Terkait