DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Achmad Charris Zubair tentang Jelang 2024: Beringin, Mangga dan Presiden

image
Achmad Charris Zubair tentang wahyu keprabon, pulung, dalam kaitan pilpres 2024.

ORBITINDONESIA.COM - Dalam tradisi Jawa, ada istilah "pulung" dan "wahyu keprabon" untuk menunjukkan sosok pilihan yang bakal menduduki atau menjadi pemeran utama dalam kehidupan.
 
Sulit diterima oleh nalar kekinian yang sudah terjebak pada "sihir" demokrasi liberal. Tapi bagi yang meyakini bahwa kunci yang gaib ada padaNya.
 
Dia yang mengetahui segala rahasia, tidak ada sehelai daun yang jatuh, bahkan sebutir biji di kedalaman paling gelap di bumi, semua yang basah dan yang kering, yang berada diluar jangkauanNya. Semua telah tercatat dalam kitab rahasiaNya Lauh ul Mahfudz. Term "wahyu keprabon" bukan hal yang mustahil.
 
 
Perhatikan gambar biji pohon. Bji-biji itu relatif kecil. Diameternya hanya sekitar 0,5cm. Tapi siapa sangka biji sekecil itu kalau ditanam di lahan yang tepat, dirawat dengan nutrisi yang cukup, akan menjadi pohon raksasa.
 
Pohon yang tidak hanya besar, namun juga bisa berusia ratusan tahun dengan daya penyimpan air tanah yang luar biasa. Di dekat pohon itu tumbuh biasanya akan ada sumber air yang nyaris tak ada habisnya untuk kemanfaatan manusia dan makhluk lain di sekitarnya.
 
Pohon itu sering menjadi simbol keagungan kerajaan Nusantara dan simbol pengayoman bagi siapapun. Biji yang se"kecil" itu akan tumbuh menjadi pohon Beringin yang besar dan hidup ratusan tahun.
 
Biji kedua relatif lebih besar, diameternya 10cm bahkan bisa 15cm. Kalau ditanam di lahan yang tepat, dirawat dan disirami dengan diberi pupuk yang tepat akan menjadi pohon yang berbuah manis dan disukai makhluk manusia dan lainnya.
 
 
Usia pohon itu memang relatif lebih pendek dibandingkan pohon beringin, 50 tahun sudah cukup panjang untuk pohon ini. Biji yang besar itu akan menjadi pohon Mangga Harum Manis.
 
Biji yang kecil akan tumbuh menjadi pohon yang besar dan disebut Pohon Beringin, sedangkan yang lebih besar akan menjadi Pohon Mangga. Ketentuan itu sudah tercatat di Lauh ul Mahfudz.
 
Biji Mangga tidak mungkin tumbuh menjadi pohon Beringin. Sekalipun seandainya kita berharap dengan itu bahkan dengan sekuat akal dan tenaga kita. Tugas ikhtiar kita hanyalah menanam dan merawatnya agar biji biji tersebut tumbuh dengan baik dan subur sehingga bermanfaat bagi hidup dan kehidupan yang lebih luas.
 
Hakikatnya tidak ada perbedaan kemuliaan di antara keduanya, sejauh keduanya ditanam dan dirawat dengan baik, lurus, jujur, hingga memiliki kemanfaatan dan kebaikan sesuai dengan tilah dan titah kejadiannya.
 
 
Bagaimana kalau catatan Lauh ul Mahfudz kita proyeksikan dalam kehidupan manusia?
Saya percaya dalam dunia manusia juga terikat oleh hukum hukum Sang Pencipta yang tercatat dalam Kitabunmubiin, yakni Lauh ul Mahfudz tersebut.
 
Ada "biji" yang bakal jadi "pohon" presiden, menteri, penyanyi, pedagang dan lain sebagainya. Tidak ada benih yang menjadi pendukung "kejahatan" kecuali kita tidak merawat dan menanam bijih tersebut di tempat yang keliru.
 
Contoh seorang pembobol ATM yang jahat karena ia tidak mendapat kesempatan menjadi reparator mesin ATM untuk aktualisasi keahliannya.
 
Jadi untuk konteks aktual sekarang kita tawakkal saja siapa yang sesungguhnya memiliki benih untuk dirawat menjadi presiden, serta siapa yang memiliki benih bukan presiden.
 
 
Sebab siapapun seorang yang benihnya "bukan presiden" tetapi dirawat dengan baik AKAN JAUH LEBIH BERGUNA daripada "presiden" yang tidak dirawat benar.
 
Disinilah pentingnya ikhtiar proses agar benih atau biji yang ditanam dijalankan dengan baik sesuai aturan main. Tidak dengan cara menelikung dan mengkhianati aturan dalam meniti proses ihtiar yang harus dilakukan secara lurus, benar dan jujur.
 
Hasil akhirnya tentu dengan menerima kepastian takdir dengan terus menerus memperbaiki menyempurnakan takdir kita.
 
Tidak perlu "ngaya", bertengkar demi membela sesuatu, seseorang, sampai berdarah-darah dan saling menista, saling menghina calon yang tidak kita dukung.
 
Padahal dengan cara itu kita justru menghinakan diri kita sendiri. Dengan laku yang telah melupakan hakikat dan makna kehidupan.
 
 
Walaupun di antara calon Presiden yang sekarangpun, sudah nampak, siapa yang sejatinya memiliki "wahyu keprabon". Tapi kita tidak boleh mendahului keputusan Allah, yang dalam kosakata Jawa disebut ora pareng manungsa "nggege mangsa".
 
Tidak ada "kemuliaan" di sisi Allah, kecuali derajat ketundukan atas sunatullah yang berupa ihtiar lurus meniti proses yang puncak finalitas disebut taqwa.
 
(Oleh: Achmad Charris Zubair) ***

Berita Terkait