DECEMBER 9, 2022
Nasional

Ekspresi Data Denny JA: Debat Ketiga tidak Berpengaruh Signifikan kepada Elektabilitas Calon Presiden

image

ORBITINDONESIA.COM - Bagaimanakah elektabilitas para calon presiden setelah debat ketiga di bulan Januari 2024? Inilah pertanyaan yang paling seksi.

Saya menonton dengan seksama debat yang lebih dari 2 jam antara Anies, Prabowo, dan Ganjar, untuk tema mengenai hubungan internasional, pertahanan,  keamanan, dan geopolitik.

Tinggal 36 hari lagi menjelang pencoblosan, 14 Febuari 2024.

Kita lihat dulu posisi elektabilitas mereka sebelum debat ketiga, setidaknya dari dua lembaga. 

Di ujung bulan Desember 2023, saya kutip data pertama dari LSI Denny JA.

Sebelum debat ketiga, dukungan kepada Prabowo-Gibran sebesar 43,3 persen. Rangking ke- 2: Anies Baswedan-Muhaimin 25,3 persen. Lalu Ganjar-Mahfud 22,9 persen.

Prabowo-Gibran unggul telak sekali. Jarak dan selisih elektabilitas mereka lebih dari 17 persen dibanding dua competitor mereka.

Data kedua dari Lembaga CSIS. Di ujung Desember 2023, lembaga ini juga mengeluarkan hasil survei, dengan angka yang mirip-mirip sekali.

Dalam survei CSIS, Prabowo-Gibran 43,7 persen. Lalu Anies-Muhaimin 26,1 persen. Kemudian Ganjar-Mahfud 19,4 persen. Baik LSI Denny JA, ataupun CSIS, sama hasilnya. Prabowo- Gibran unggul telak di angka lebih dari 43 persen.

Sama juga hasilnya. Jarak antara Prabowo-Gibran dan dua kompetitornya di atas 17 persen.

Mengapa antara LSI Denny JA dan CSIS hasilnya mirip? Dua lembaga ini sama sekali tak ada komunikasi mengenai elektabilitas calon presiden, bahkan mengenai apapun.

Hasilnya mirip karena dua lembaga ini melakukan survei di momentum yang sama, dengan metodologi yang SAH, yang sama.

Itulah hasil dari ilmu sosial yang unggul. Jika sama metodologinya, dan sama juga momentumnya, hasilnya pun akan mirip-mirip.

LSI Denny JA juga mempunyai data lain yang penting. Di samping tingkat elektabilitas pasangan calon, LSI Denny JA juga menyoroti variabel lain yang penting, yang membentuk elektabilitas individual.

Ini datanya. Prabowo sudah dikenal lebih dari 95 persen populasi. Ini tingkat pengenalan yang tinggi sekali. Premium.

Sedangkan Anies dan Ganjar tingakt dikenalnya masih di bawah 95 persen.

Tingkat kesukaan publik kepada Prabowo juga di atas 80 persen. Ini juga angka favourability yang  sangat tinggi sekali.

Sedangkan Anies dan Ganjar, yang suka kepada mereka di bawah bahkan 75 persen.

Selama saya melakukan survei sejak Pilpres tahun 2004, yang pernah masuk dalam kategori premium ini, dikenal di atas 95 persen disukai di atas 80 persen, baru bisa dicapai oleh dua orang saja.

Yang pertama SBY di tahun 2009. Ketika itu, ia menang Pilpres satu putaran saja. Dan Jokowi tahun 2018, ketika ia menang Pilpres untuk kedua kalinya.

Lalu bagaimana pengaruh debat calon presiden? Seberapa besar debat itu berpengaruh?

LSI Denny JA  melakukan survei di bulan Desember 2023.  Waktu itu, survei juga merekam perdebatan calon presiden sebelumnya. 

Ini mengulangi tradisi dan data 5 tahun lalu. Setiap Pilpres, LSI Denny JA melalukan survei, yang juga berisi data debat.

Ternyata yang menonton debat itu sebanyak 47,5 persen  dari populasi pemilih Indonesia. Tapi tak semua  menonton penuh. Ada yang menonton debat hanya satu menit saja, 5 menit saja, di bawah 10 menit.

Yang menonton debat secara penuh, dari awal sampai akhir, hanya 31 persen saja dari yang mengaku menonton debat. 

Jika angkanya dikalikan, yang menonton debat secara PENUH hanya 14 sampai 15 persen dari populasi pemilih.

Lalu dari yang populasi yang menonton penuh debat presiden itu, seberapa banyak setelah menonton, mereka  mengubah pilihan mereka?

Ini datanya. Ternyata hanya 22,2 persen yang mengubah pilihannya dari yang menonton debat secara penuh.

Karena yang menonton penuh itu hanya 14 sampai 15 persen, sehingga yang mengubah pilihannya setelah menonton debat hanya 2 sampai 3 persen.

Perubahan ini terjadi untuk semua kategori. Yaitu dari yang memilih menjadi tak mau memilih. Dan sebaliknya.

Juga dari calon presiden A, B, dan C, yang bertukar posisi memilih calon lain.

Setelah debat ini pun, tak banyak elektabilitas calon yang berubah. 

Kita bisa buat hipotesis. Di awal Januari 2024, elektabilitas Prabowo- Gibran masih di kisaran lebih dari 43 persen.

Kini, Prabowo- Gibran hanya membutuhkan 7 persen tambahan suara untuk menang satu putaran.

Katakanlah jika Prabowo-Gibran gagal menang satu putaran, yang muncul di putaran kedua, satu tiket lagi  akan diperebutkan oleh pasangan Anies atau pasangan Ganjar.

Tapi baik Anies ataupun Ganjar, mereka membutuhkan dukungan tambahan 8 persen sampai 10 persen lagi untuk lolos ke putaran kedua.

Ini situasi elektabilitas calon presiden hari-hari ini, 36 hari menjelang hari pencoblosan.

Bagi Prabowo-Gibran, untuk menang satu putaran saja, hanya butuh tambahan 7 persen.

Tapi untuk Anies  atau Ganjar, untuk masuk ke putaran kedua membutuhkan persentasi yang lebih besar lagi: 8 persen sampai 10 persen.

Tahun baru 2024 membawa kabar, Prabowo- Gibran di ambang kemenangan, baik menang satu putaran, atau menang dua putaran.***

Berita Terkait