Samudi dan Sampah Plastik: Realitas Kehidupan di Bantar Gebang

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah tumpukan sampah plastik yang menggunung, Samudi, seorang ayah, bekerja keras memilah hasil jerih payah anaknya di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi pada Rabu (24/5/2023).

TPST Bantar Gebang dikenal sebagai salah satu tempat pembuangan sampah terbesar di Asia Tenggara. Setiap harinya, ribuan ton sampah dari wilayah Jakarta dan sekitarnya berakhir di sini. Kehidupan di sekitar TPST tidak mudah; banyak warga yang menggantungkan hidup dari memilah dan mendaur ulang sampah. Namun, tantangan lingkungan dan kesehatan menjadi bayang-bayang yang kerap mengintai mereka.

Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, jumlah sampah plastik yang masuk ke Bantar Gebang terus meningkat setiap tahun. Hal ini menandakan bahwa upaya pengurangan penggunaan plastik masih belum optimal. Di sisi lain, para pemulung seperti Samudi berperan penting dalam proses daur ulang, meski sering kali tidak mendapat apresiasi yang layak. Dalam konteks ekonomi, mereka adalah bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang berkontribusi langsung pada pengurangan beban lingkungan.

Kehidupan Samudi dan keluarganya menggambarkan ironi sekaligus heroisme yang tersembunyi di balik tumpukan sampah. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap hari bergulat dengan limbah demi menyelamatkan bumi dari krisis lingkungan. Namun, tanpa kebijakan yang mendukung dan perlindungan sosial yang memadai, usaha mereka seakan berjalan di tempat. Kesadaran kolektif dan tindakan nyata dari berbagai pihak diperlukan untuk memperbaiki kondisi ini.

Melihat Samudi dan anaknya di Bantar Gebang, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi beban mereka dan menyelamatkan lingkungan? Kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik dan mendukung kebijakan ramah lingkungan adalah langkah awal. Mampukah kita bergerak lebih jauh demi masa depan yang lebih baik?

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2025)