Mungkinkah Indonesia Hancur di Tengah Maraknya Aksi Demo?
Oleh Amidhan Shaberah*
ORBITINDONESIA.COM - Aksi demo yang belakangan ini marak, apakah menjadi pertanda Indonesia akan hancur? Tergantung dari cara pandangnya. Bagi yang memandang negatif, Indonesia bakal hancur di tahun 2030, sesuai narasi novel Ghost Fleet: a Novel of the Next World War (2015) karya Peter Warren Singer dan August Cole.
Ghost Fleet adalah novel yang ditulis dua ahli strategi dari Amerika, Fleet dan Cole, yang menggambarkan skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari novel ini, pada tahun 2030, negara Indonesia sudah tidak ada.
Novel ini menjadi perhatian serius bagi petinggi militer Amerika Serikat. Pensiunan Laksamana James G Stavridis menyebut buku ini sebagai blue print untuk memahami peperangan di masa depan. Stavridis, yang kini menjabat sebagai dekan di Fakultas Hubungan Internasional Tufts University, mewajibkan pimpinan militer untuk membaca novel tersebut. Ghost Fleet sendiri lebih banyak menggambarkan perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030 ketimbang sebab musabab Indonesia yang lenyap dari peta bumi.
Singer menggambarkan situasi perang modern ketika pesawat tanpa awak (drone) mendominasi angkatan udara kedua belah pihak. Perang juga melanda sistem informasi tingkat tinggi. Cakupannya bukan hanya peretasan situs internet, melainkan satelit yang memantau bagian permukaan bumi.
Singer juga menceritakan China yang mengalami kemajuan pesat. Di samping lebih kaya dari AS, China juga mampu menciptakan persenjataan yang sangat canggih. Kelompok komunis China pun digambarkan sudah tidak memiliki pengaruh dan telah usang. China dipimpin oleh kelompok baru yang disebut sebagai Directorate.
Directorate merupakan gabungan antara elit pengusaha dan elit militer. Kelompok ini menggantikan pemimpin partai komunis. Pimpinan partai komunis yang sebelumnya sangat berkuasa, saat itu telah lumpuh. Penggantinya, gabungan elit pengusaha dan militer tadi.
Presiden Prabowo yang patriotis sangat "terkejut" dengan novel Ghost Fleet ini. Pada acara bedah buku ini di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 18 September 2017 lalu, Prabowo sudah mengingatkan kemungkinan munculnya kondisi tersebut. Kalau bangsa Indonesia lalai dan tidak waspada, hancurnya Indonesia niscaya terjadi. Jadi, kata Prabowo, bangsa Indonesia harus mandiri dalam segala hal. Agar tidak bisa dijajah oleh bangsa lain, atau dilenyapkan negara lain.
Di era Prabowo, Indonesia mulai terlihat "telanjang". Borok-borok ekonomi, politik, dan ketahanan nasional kini menjadi perhatian netizen -- bukan hanya nasional tapi juga internasional. Seakan-akan ramalan di novel Ghost Fleet akan benar-benar terjadi.
Bayangkan, ekonomi Indonesia sepeninggal 10 tahun pemerintah Jokowi terseok-seok. Utang yang brutal, yang dilakukan benar-benar di luar batas kemampuan untuk membayarnya.
Warisan utang Jokowi ke Prabowo, menurut Tempo, mencapai Rp 8.502 triliun per 31 Juli 2024 -- jauh lebih tinggi dibandingkan warisan utang SBY ke Jokowi. Ia meninggalkan warisan utang hingga lebih dari Rp 8.000 triliun untuk presiden terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto. Jumlah itu setara dengan 39,13 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dan gilanya, meski akan segera diganti, Jokowi tetap menambah utang. Sampai akhir 2024, utang pemerintahan Jokowi tembus Rp 10.269 trilyun.
Warisan utang Jokowi ke Prabowo tersebut jauh lebih besar dibandingkan beban keuangan yang ditinggalkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Jokowi. Pada 2014, utang pemerintah SBY diketahui sebesar 2.608,78 triliun atau setara 24,7 persen PDB.
Di pihak lain, korupsi di era Jokowi sangat ugal-ugalan. Korupsi di Pertamina mencapai Rp 968 trilyun, korupsi timah Rp 300 trilyun, korupsi Antam Rp 145 trilyun, korupsi sawit Rp 78 trilyun, korupsi EDC BRI Rp 7 trilyun, korupsi BLBI Rp 138 trilyun, korupsi OTT Sumut Rp 0,2 trilyun, korupsi PT Palma Rp 78 trilyun, korupsi Asabari Rp 22 trilyun. Total 1.767 trilyun.
Itu yang baru ketahuan dan ditindak KPK serta Kejaksaan. Yang belum ketahuan, pasti lebih banyak lagi. Korupsi di semua Proyek Strategi Nasional (PSN), diperkirakan, mencapai 35-40 persen. Bila dihitung nilainya bisa mencapai ribuan trilyun rupiah.
Dengan beban utang warisan Jokowi seperti itu, mampukah Prabowo mengatasinya? Bagi yang berpikir negatif tidak bisa. Tapi bagi yang berpikir positif, bisa!
Kenapa? Indonesia adalah negara kaya sumber alam. Semua komoditas pangan bisa tumbuh. Berbagai jenis perkebunan berkembang. Peternakan hidup. Hampir semua jenis tambang berharga seperti aluminium, timah, tembaga, minyak, batubara, nikel, emas, dan uranium ada, dan potensinya sangat besar.
Kekayaan alam Indonesia ini bila dikelola dengan baik, niscaya bisa untuk menutupi utang, bahkan lebih. Kekayaan alam tersebut bila dipakai untuk membangun, niscaya hasilnya luar biasa.
Ya, penduduk Indonesia besar. Dan jumlah tenaga kerjanya besar. Kini Presiden Prabowo sedang berusaha memberantas korupsi. Satu persatu, koruptor kelas gajah mulai ditangkap. Presiden Prabowo sedang bekerja keras untuk memperbaiki kinerja pemerintahnya dan mengatasi korupsi.
Pada tahun 2030, alih-alih Indonesia lenyap seperti digambarkan novel Ghost Fleet, yang terjadi adalah kebalikannya. Yaitu, Indonesia masuk 5 besar ekonomi dunia (setara India, AS, Tiongkok, Jepang). PDB per kapitanya di atas 15.000 USD (kelas menengah mapan). Hilirisasi mineral, energi terbarukan, dan ekonomi digital menjadi tulang punggung. Sementara UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) terintegrasi dengan e-commerce global.
Berkat bonus demografi yang dimanfaatkan dengan baik, tenaga kerja jadi produktif, pendidikan membaik, kesehatan terjangkau. Kelas menengah pun meningkat menjadi 70 persen dari populasi 350 juta.
Luar biasa. Semua itu bisa terjadi, jika semua stake holder bekerja bersama-sama menjadikan Indonesia bersih korupsi, penuh inovasi, dan membangun semua lini.
Kembali pada demo mahasiswa yang akhir-akhir ini meruyak. Anggaplah itu sebagai bentuk keprihatinan anak-anak muda terpelajar yang menginginkan negerinya menjadi lebih baik. Demo mahasiswa harus diatasi dengan dialog konstruktif. Apa saja yang mereka prihatinkan dan apa saja yang mereka inginkan harus kita perhatikan. Sebab, bagaimana pun, negeri ini adalah warisan untuk mereka. Merekalah yang akan melanjutkan estafeta pemerintahan di masa depan.
Kita berharap, Indonesia tahun 2030 tidak lenyap. Sebaliknya, Indonesia tumbuh menjadi negeri makmur, sejahtera, dan hidup berdasarkan falsafah Pancasila.
*K.H. Dr. Amidhan Shaberah
Komisioner Komnas HAM 2002-2027/Lemkaji MPR RI 2014-2019 ***