Brad Pitt dan Joaquin Phoenix Jadi Produser Film tentang Hind Rajab, Anak yang Bernasib Tragis di Gaza
ORBITINDONESIA.COM - Bintang Hollywood Brad Pitt, Joaquin Phoenix, dan Rooney Mara bergabung dengan dua sutradara pemenang Oscar, Jonathan Glazer serta Alfonso Cuarón, sebagai produser eksekutif film The Voice of Hind Rajab menjelang pemutaran perdananya di Festival Film Venesia.
Film ini disutradarai oleh sineas asal Tunisia, Kaouther Ben Hania, yang pernah masuk nominasi Oscar. Ia menggarap kisah tragis Hind Rajab, seorang anak perempuan Palestina berusia enam tahun yang tewas akibat tembakan Israel pada Januari 2024, setelah berjam-jam terjebak di dalam mobil bersama anggota keluarganya yang sudah meninggal di Gaza.
The Voice of Hind Rajab akan bersaing memperebutkan penghargaan utama Golden Lion di Festival Film Venesia dan dijadwalkan tayang perdana pada 3 September 2025.
Film ini menggunakan rekaman audio nyata dari panggilan terakhir Hind kepada tim penyelamat sebagai benang merah narasi. Alur cerita dibuat dalam satu lokasi syuting saja, dengan pendekatan minimalis: mengandalkan ketegangan, keheningan, dan rasa takut yang kian memuncak dari perspektif seorang anak yang menunggu pertolongan yang tak kunjung datang.
Sinopsis Film
Film ini mengisahkan jam-jam terakhir Hind Rajab, seorang bocah Gaza yang terjebak di dalam mobil setelah serangan militer. Dengan suara Hind yang direkam dalam panggilan telepon darurat sebagai inti cerita, penonton diajak merasakan bagaimana dunia seorang anak kecil perlahan tertutup oleh ketakutan, sunyi, dan kepastian bahwa bantuan tak akan pernah datang. Narasi sederhana itu diperkuat oleh pilihan visual yang menekankan ruang terbatas, waktu yang berjalan lambat, serta emosi mencekam yang lahir dari keputusasaan.
Mengapa Film Ini Dibuat
Kaouther Ben Hania menyebut film ini sebagai bentuk kesaksian sinematik. Ia ingin menjadikan suara Hind—yang pada akhirnya bungkam oleh perang—sebagai simbol jeritan anak-anak yang tak pernah didengar dunia. Dengan melibatkan nama besar seperti Pitt, Phoenix, Mara, Glazer, dan Cuarón, film ini dimaksudkan agar tragedi Gaza tidak sekadar tercatat sebagai angka statistik korban, melainkan hadir sebagai kisah personal yang menyentuh hati publik global.
Lebih jauh, kehadiran film ini di festival bergengsi seperti Venesia juga dilihat sebagai upaya menghadirkan seni sebagai perlawanan, memberi ruang bagi narasi yang kerap terpinggirkan dalam wacana arus utama. Banyak kritikus menilai bahwa film ini bukan hanya karya artistik, tetapi juga manifesto kemanusiaan, mengingatkan dunia pada biaya kemanusiaan dari konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.***