Muhammad Ashiq Hussain, yang Merancang dan Memproduksi Pintu Utama Ka’bah, Meninggal

ORBITINDONESIA.COM - Berita wafatnya Muhammad Ashiq Hussain mengalir pelan namun sarat makna, karena warga Pakistan ini bukan sekadar seorang pengusaha atau perajin, melainkan sosok yang jejak karyanya melekat langsung pada jantung spiritual umat Islam.

Muhammad Ashiq Hussain dikenal sebagai tokoh di balik perusahaan yang merancang dan memproduksi pintu utama Ka’bah—pintu yang menjadi salah satu simbol paling sakral dalam Islam—serta penutup Hajar Aswad, batu hitam yang diyakini berasal dari surga dan menjadi titik awal thawaf jutaan jamaah setiap tahun.

Karya-karyanya tidak hanya menuntut keahlian teknis tingkat tinggi, tetapi juga ketelitian spiritual, karena setiap detail pada Ka’bah harus mencerminkan kehormatan, kesucian, dan keabadian.

Pintu Ka’bah bukan sekadar struktur fisik. Ia adalah simbol akses simbolik antara manusia dan Yang Ilahi—jarang dibuka, penuh makna, dan dikerjakan dengan standar kesempurnaan yang nyaris absolut.

Begitu pula penutup Hajar Aswad, yang harus dirancang dengan kehati-hatian ekstrem agar melindungi benda suci itu tanpa mengurangi kehormatannya. Dalam konteks ini, karya Ashiq Hussain berada di persimpangan antara seni, teknologi, dan ibadah.

Kepergiannya memicu gelombang penghormatan dari berbagai penjuru dunia Islam. Banyak yang mengenangnya sebagai sosok rendah hati yang bekerja di balik layar, tetapi meninggalkan warisan yang akan terus disentuh pandangan dan doa jutaan manusia dari generasi ke generasi.

Tidak semua orang dapat menuliskan namanya di buku sejarah, tetapi sangat sedikit yang karyanya menjadi bagian dari ritual abadi umat Islam.

Dalam dunia yang semakin didominasi produksi massal dan logika komersial, kehidupan Muhammad Ashiq Hussain menjadi pengingat bahwa masih ada ruang bagi keahlian yang dijiwai iman, bagi kerja yang tidak mengejar sorotan, tetapi keberkahan.

Ia telah wafat, tetapi pintu Ka’bah yang ia rancang dan penutup Hajar Aswad yang ia hasilkan akan terus menjadi saksi bisu—bahwa ada manusia yang mengabdikan puncak keterampilannya untuk sesuatu yang jauh melampaui dirinya sendiri.***