Fenomena Liburan Diam: Risiko dan Realitas Dunia Kerja Modern
ORBITINDONESIA.COM – Di tengah budaya kerja yang semakin fleksibel, liburan diam muncul sebagai solusi kontroversial bagi banyak pekerja modern. Fenomena ini mengaburkan batas antara kerja dan liburan, menciptakan dilema baru bagi karyawan dan manajer.
Pergeseran ke arah kerja jarak jauh telah mengubah cara kita mengatur waktu kerja dan waktu pribadi. Banyak pekerja merasa terjebak dalam siklus kerja yang tak berujung, di mana permintaan untuk selalu tersedia menjadi norma. Sebagai respons, beberapa memilih untuk mengambil 'liburan diam' tanpa memberitahu atasan mereka.
Menurut survei Out of Office Culture dari Harris Poll, 37% pekerja milenial telah mengambil liburan tanpa sepengetahuan manajer. Alasan utama adalah tekanan untuk selalu terlihat sibuk dan kesulitan mendapatkan izin cuti. Tren ini diperburuk oleh pandemi Covid-19 yang memaksa banyak pekerja untuk bekerja dari rumah, mengaburkan batas antara rumah dan kantor.
Liburan diam menimbulkan masalah kepercayaan dalam organisasi. Meskipun beberapa berpendapat bahwa lokasi kerja tidak penting selama tugas selesai, risiko pelanggaran data dan kurangnya kejujuran bisa merusak hubungan kerja. Manajer perlu menciptakan lingkungan di mana komunikasi terbuka tentang rencana liburan didorong dan diterima.
Liburan diam mencerminkan masalah mendalam dalam budaya kerja modern. Jika karyawan merasa harus menyembunyikan waktu istirahat mereka, ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem. Ke depan, mungkin perlu ada dialog terbuka mengenai keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi yang lebih baik.
(Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2025)