Michael Octavian, Manusia Silver yang Melangkah dari Jalanan ke Catwalk

Di persimpangan lampu merah Jakarta, tubuh-tubuh berwarna perak kerap berdiri seperti patung. Mereka diam, kadang bergerak perlahan, menunggu recehan jatuh ke telapak tangan. Di antara mereka, pernah ada seorang remaja bernama Michael Octavian. Lahir di Jakarta, 31 Oktober 2009, Mike, begitu ia biasa dipanggil, menjalani peran sebagai manusia silver dan badut sejak 2023 hingga 2024. Bukan sebagai sensasi, melainkan sebagai pilihan hidup yang kala itu terasa paling mungkin.

Pada usia ketika sebagian besar remaja menghabiskan waktu bersama teman sebaya, Mike justru memilih berdiri di jalanan. Ia mengumpulkan uang untuk membantu perekonomian keluarga. ‎Bukan karena paksaan, bukan pula dorongan ambisi sesaat, melainkan karena satu alasan yang sederhana namun kuat: ia tidak ingin menjadi beban bagi orang tuanya. Dalam kesunyian lampu merah, Mike belajar arti tanggung jawab lebih cepat dari usianya.

‎Menjadi manusia silver bukan pekerjaan yang ringan. Panas, hujan, tatapan orang, dan rasa malu bercampur jadi satu. Namun dari pengalaman itu, Mike belajar satu hal penting: ketahanan diri. Ia belajar berdiri lama, mengatur gestur tubuh, dan menghadapi publik tanpa banyak bicara. Tanpa ia sadari, jalanan sedang mengajarinya dasar-dasar yang kelak sangat berguna.

Titik balik datang dari sesuatu yang sangat khas zaman ini: konten media sosial. Suatu hari, Mike dikontenkan oleh pihak Captain Barbershop. Video itu beredar, lalu viral. Dalam waktu sekitar seminggu, hidup Mike berubah arah. Sebuah agensi model, Humann Management, melihat potensi dalam diri remaja yang dulu berdiri diam di lampu merah itu. Sejak saat itu, Mike resmi menjadi model profesional dan hingga kini masih berada di bawah naungan agensi tersebut.

Masuk ke dunia modeling bukan berarti semua menjadi mudah. Job catwalk pertamanya justru meninggalkan kesan paling kuat. “Tegang banget,” begitu Mike menggambarkannya. Kamera, sorotan lampu, dan ekspektasi orang-orang di sekeliling membuat langkah pertamanya di runway terasa berat. Namun ia melangkah juga. Berbeda dengan jalanan yang riuh dan tak teratur, catwalk menuntut presisi, ketenangan, dan kepercayaan diri yang terukur.

Perlahan, Mike mulai menemukan ritmenya. Dunia modeling, yang awalnya terasa asing, berubah menjadi ruang belajar baru. Hingga kini, ia telah bekerja sama dengan sejumlah nama besar di industri fashion dan kreatif, seperti Signore, Captain Barbershop, Sapto Djojokartiko, Temma Prasetio, Danjyo Hiyoji, hingga Harry Halim. Nama-nama yang bagi banyak orang adalah puncak, tetapi bagi Mike, semuanya adalah proses.

Yang menarik, di tengah kesibukannya sebagai model profesional, Mike tetap bersekolah. Ia menjalani dua dunia sekaligus: ruang kelas dan panggung mode. Tidak ada narasi dramatis yang ia bangun. Tidak ada keinginan untuk dikenang sebagai “anak jalanan yang sukses”. Ia hanya seorang remaja yang pernah mengambil jalan berbeda, lalu berjalan lurus ketika kesempatan datang.

Kisah Michael Octavian bukan tentang keajaiban instan. Ini tentang pilihan-pilihan kecil, keteguhan, dan keberanian untuk melangkah, baik di aspal panas lampu merah maupun di catwalk yang penuh sorot lampu. Dari tubuh berwarna perak hingga busana rancangan desainer ternama, Mike membuktikan bahwa masa lalu tidak selalu menentukan batas masa depan. Selama kita mau terus berjuang dan bekerja keras, suatu saat kesempatan baik pasti akan datang.

Perjalanan Mike mengingatkan kita bahwa tidak semua orang lahir dengan privilese yang menguntungkan. Masa depan bukan peta yang bisa dibaca sejak awal, melainkan rahasia yang pelan-pelan terbuka lewat perjuangan. Kadang seseorang memulainya dari ruang yang sempit, dari pilihan yang tidak nyaman, dan dari langkah yang nyaris tak terlihat. Namun selama ada kemauan untuk terus berusaha, belajar, dan bertahan, selalu ada jalan yang mengantar pada kemungkinan-kemungkinan baru. Masa depan memang tak pernah bisa ditebak, tetapi ia hampir selalu memberi ruang bagi mereka yang memilih untuk tidak menyerah.