Pepih Nugraha: Bisnis Kebencian
Oleh Pepih Nugraha, kolumnis
ORBITINDONESIA.COM - Hanya di ranah politik Indonesia di mana kritik dan hiburan saling bertabrakan seperti kembang api yang meledak tak terkendali di malam tahun baru.
Saya ingin membahas konsep "bisnis kebencian" yang muncul sebagai fenomena menggiurkan, yakni monetisasi emosi negatif melalui seni, di mana para artis memanfaatkan ketidakpuasan publik untuk meraup perhatian, "engagement", dan akhirnya pendapatan alias cuan.
Bayangkan kebencian sebagai ladang subur yang ditanami benih satir, di mana panennya adalah like, share, dan tiket konser. Tetapi, apakah akarnya murni ekspresi artistik, atau sekadar racun yang disiram untuk membalas dendam pribadi?
Dua kasus terkini, lagu "Republik Fufufafa" dari Slank dan stand-up comedy Pandji Pragiwaksono yang menyasar Gibran Rakabuming Raka, menjadi contoh sempurna untuk membedah ini. Apakah ini seni yang berani, atau hanya ventilasi kebencian terhadap Gibran —dan secara tak langsung, ayahnya, Jokowi— yang dibungkus kemasan hiburan?
Saya mulai dari Slank, band rock legendaris yang saya bayangkan seperti pohon beringin tua yang akarnya dalam di tanah rakyat, tetapi cabangnya kini menjuntai ke arena politik. Di ulang tahun ke-42 mereka, mereka rilis "Republik Fufufafa", sebuah judul yang langsung menyentil akun misterius "Fufufafa" yang diduga milik Gibran, meski selama kampanye Pilpres 2024, para pendukungnya mati-matian membantah.
Liriknya tajam seperti silet, yakni kritik terhadap "sakau kuasa", narkoba, judi online, stunting, dan pendidikan bobrok, digambarkan sebagai negeri "kacau balau" di bawah penguasa yang haus kekuasaan. Harus diakui, memang kekinian banget sih.
Viral di media sosial, lagu ini memicu kontroversi; ada yang memuji sebagai suara rakyat, tetapi ada juga yang menilai Slank tidak tulus, mengingat dulu mereka mendukung Jokowi (bahkan mendapat posisi komisaris Telkom pada 2021, sebelum mundur karena mendukung Ganjar Pranowo di 2024).
Apakah ini murni seni? Ya, jika dilihat sebagai satir sosial seperti lagu-lagu protes Bob Dylan, Iwan Fals, Sawung Jabo atau John Lennon, sebuah ekspresi bebas yang mencerminkan kegelisahan masyarakat.
Tetapi jika ditarik ke "bisnis kebencian", ini bisa jadi strategi cerdas. Di mana cerdasnya? Setelah mundur dari dukungan politik, Slank memanfaatkan momentum untuk "comeback" dengan video klip berisi badut yang mengolok-olok kekuasaan, menghasilkan jutaan views dan debat panas.
Kebencian di sini seperti bensin, membakar "engagement" , tetapi risikonya, seperti dibalas Kuburan Band dengan lagu "Tak Diberi Tulang Lagi" yang menyindir Slank sebagai "anjing setia" yang kini menggonggong tuannya karena tak lagi mendapat "tulang" (baca: jatah).
Lalu, Pandji Pragiwaksono yang dikenal sebagai pendukung garis keras Anies Baswedan, komika ini saya bayangkan seperti elang melayang tinggi, mengamati lalu menyambar dengan "punchline" tajam di panggung stand-up comedy. Di show "Mens Rea" baru-baru ini di Netflix, ia meroasting Gibran habis-habisan, termasuk "body shaming" yang mengolok-olok fisik.
Materi candaannya memicu gelombang di media sosial. Ada yang tertawa, tetapi banyak yang mengkritik sebagai hinaan murahan, bahkan ada yang bertanya apakah duit dari stand-up comedy itu "halal" karena berisi kebohongan atau olok-olok.
Apakah ini seni murni? Stand-up comedy memang genre yang hidup dari hiperbola dan roasting seperti George Carlin yang senyindir pemerintah tanpa ampun, atau Dave Chappelle yang kontroversial tetapi autentik. Pandji, dengan gaya intelektualnya, sering mencampur politik ke materi lawakan, seperti mendesak KPK memeriksa isu menteri yang setor ke Gibran.
Tetapi jika ini sekadar "melampiaskan kebencian", terlihat dari timing, yakni pasca-Pilpres 2024 di mana Gibran jadi Wapres, kritik ini bisa jadi ventilasi frustrasi terhadap dinasti Jokowi.
Bisnisnya? Tiket show laku keras, klip viral di YouTube dan TikTok, monetisasi dari iklan dan sponsorship. Kebencian menjadi komoditas, di mana audiens membayar untuk merasa "terwakili" dalam tawa pahit.
Kedua kasus ini menyoroti garis tipis antara seni dan kebencian: seni yang baik seperti cermin yang memantulkan realitas, tetapi jika cermin itu retak karena dendam pribadi, pantulannya jadi distorsi.
Slank dan Pandji jelas bukan sekadar "murni seni". Ada elemen kritik politik yang tajam terhadap Gibran (dan Jokowi sebagai "bayangannya"), tetapi itu tak selalu buruk karena seni protes adalah hak ekspresi di demokrasi.
Namun, dari tataran etis dan etika, apakah mereka tepat? Etisnya, ya kebebasan berpendapat dilindungi UUD 1945 dan UU ITE (selama tidak fitnah), dan kritik seperti ini mendorong akuntabilitas pemimpin. Tetapi etikanya? Di sini mulai goyah, seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang.
Body shaming Pandji, misalnya, melanggar etika komedi modern yang menghindari hinaan fisik (seperti aturan Netflix soal sensitivitas), karena bisa perpetuasi bullying dan tak relevan dengan substansi kritik politik.
Slank pun, dengan sindiran "fufufafa", bisa dianggap "personal attack" daripada kritik konstruktif, apalagi tanpa solusi, mirip melempar batu lalu sembunyi tangan.
Dalam filsafat Aristoteles, seni harus punya "katharsis" (pembersihan emosi), tetapi jika hanya amplifikasi kebencian, itu menjadi toksik, memperlemah diskursus publik alih-alih memperkaya.
Yang menarik, respons Gibran seperti angin sepoi yang meredam badai. Ia memasang lagu karya Slank dan Pandji sebagai backsound di Instagram-nya untuk posting aktivitas kerja, seolah mengatakan, "Terima kasih atas feedback dan kreativitasnya." Ini elegan, seperti samurai yang tak perlu menarik pedang untuk setiap provokasi, sekaligus menunjukkan kedewasaan yang justru membuat kritik itu tampak remeh.
Dampaknya? Gibran tampak lebih besar, sementara Slank dan Pandji bisa dilihat sebagai "pecatan" yang haus perhatian. "Bisnis kebencian" bisa menjadi klimaks: seni yang monetisasi "hate" bisa untung jangka pendek (viralitas), tetapi jangka panjang, risikonya reputasi rusak dan polarisasi masyarakat. Seberapa banyak views lagu Slank naik pasca-kontroversi, atau viewer Netflix Pandji melambung?
Pada akhirnya, seperti api yang menghangatkan tetapi bisa membakar rumah, bisnis kebencian ini mengingatkan bahwa seni terbaik adalah yang menyatukan, bukan memecah.***