Herry Tjahjono: "Nguyahi Segoro, Nji" - Mengenai Gibran, Panji Pragiwaksono dan Slank
Oleh Herry Tjahjono, penulis kolom
ORBITINDONESIA.COM - Lewat aksi komedi hebohnya bertajuk "Mens Rea", Panji Pragiwaksono menggelegar– bahkan akhirnya "menguasai" Netflix. Salah satu yang "disenggol"nya adalah Gibran, orang no 2 RI.
Tapi orang suka lupa, salah satu kepiawaian Gibran yang dilabel plonga-plongo dan (katanya) adalah "memakai tenaga (serangan) lawan sebagai kekuatan". Ingat serangan dan pelecehan soal "asam sulfat" (samsul). Eh, Gibran malah memakainya di kaos bertuliskan "Samsul".
Kali ini, ia tak berang, tak meradang, apalagi mencak-mencak. Dengan jurus yang sama, Gibran malah memakai lagu Panji menjadi kegiatannya mengurus negara. Lalu di postingnya di IG. Demikian pula dia merespons "Republik Fufufafa" nya Slank. Dengan cara yang sama.
Meminjam bahasa Stephen Covey, Gibran–dalam kemudaan usianya– bukanlah manusia reaktif, tapi manusia proaktif. Manusia yang tidak bertindak secara impulsif, tapi dikendalikan oleh nilai-nilai diri.
Gibran juga paham betul bahwa "ejekan hidup dari reaksi". Maka ia tidak reaktif terhadap setiap ejekan, ia mematikannya dengan ketenangan. Sebuah kecerdasan emosional yang mengagumkan–jika mengingat usianya yang masih muda dan harus berjuang di belantara politik negeri ini yang sangat liar.
Itu sebabnya Giran tidak "melawan" dengan kata-kata panjang, pun tidak dengan klarifikasi bertele-tele. Cukup dengan gestur kecil yang bermakna: "aku tidak sedang bertarung denganmu, dan aku tidak perlu meladenimu".
Jadi, semakin kamu menghantamnya, semakin lelah dan habis tenagamu. Gibran, dengan gaya "sersan"–serius tapi santai–terus melaju, mengabdi, kali ini di iringi lagu si Panji dan si Slank.
Akhirnya kita bisa paham di mana kekuatan Gibran, yaitu kemampuannya untuk mengubah hinaan menjadi panggung– tanpa kehilangan martabat.
(Catatan: Nguyahi Segoro, istilah Jawa–– artinya, menggarami lautan, alias sia-sia). ***