Begini Proses Pemilihan Pengganti Ayatullah Ali Khamenei, yang Syahid dalam Serangan AS-Israel
ORBITINDONESIA.COM - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei telah terbunuh dan syahid dalam serangan berkelanjutan AS-Israel. Bagaimana kelanjutan kepemimpinan di Iran?
Berikut penjelasan bagaimana proses pergantian pemimpin tertinggi (Supreme Leader) Republik Islam Iran jika jabatan itu kosong — misalnya karena meninggal dunia, sakit berat, atau terbunuh. Sistem ini diatur oleh konstitusi Iran dan praktik pemerintahan di negara tersebut.
Siapa yang Menentukan Pengganti?
Menurut Pasal 107 dan Pasal 111 Konstitusi Republik Islam Iran, yang bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi baru adalah Assembly of Experts (Majelis Ahli), sebuah badan yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum dan terdiri dari ulama yang memiliki kualifikasi keagamaan tinggi.
Tugas utama Majelis Ahli adalah:
Pertama, menentukan apakah pimpinan saat ini masih bisa menjalankan tugasnya.
Kedua, memilih pemimpin baru apabila jabatan kosong (karena wafat, pensiun, atau pemberhentian).
Proses Formal Pemilihan:
Pertama, Penetapan Kualifikasi Calon.
Calon pemimpin baru harus memenuhi syarat tertentu dalam konstitusi, yaitu: Merupakan ulama (faqih) Syiah yang memiliki kemampuan ilmu agama dan kepemimpinan (mis. kemampuan menerbitkan hukum Islam atau ijtihad).
Majelis Ahli kemudian meninjau dan berkonsultasi di antara mereka mengenai siapa yang layak dipilih.
Kedua, Pemilihan Pemimpin Baru.
Pemimpin baru dipilih oleh Majelis Ahli melalui suara internal, dan harus menerima dukungan mayoritas (dua pertiga atau sebagaimana disepakati Majelis). Proses ini bisa berlangsung cepat, lambat, atau memakan waktu cukup panjang, tergantung konsensus di dalam Majelis.
Siapa Menjalankan Kekuasaan Sementara?
Karena Pemimpin Tertinggi memiliki wewenang eksekutif dan religius yang sangat luas, konstitusi mengatur mekanisme sementara:
Sebelum pemimpin baru dipilih, sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara akan mengambil alih tugas-tugas pemimpin. Dewan ini terdiri dari tiga pejabat: Presiden Iran; Kepala Kekuasaan Kehakiman; dan seorang faqih yang dipilih dari Guardian Council atas keputusan Expediency Discernment Council.
Dewan ini menjalankan tugas-tugas tertentu seperti fungsi strategis dasar sampai pemimpin baru diangkat.
Praktik Politik Aktual di Iran
Walaupun konstitusi mengatur prosesnya secara formal, praktik politik di Iran sering dipengaruhi oleh kekuatan struktural lain:
Pertama, Pengaruh Ulama dan Garda Revolusi.
Dalam kenyataannya, kelompok militer dan politik seperti Islamic Revolutionary Guard Corps punya pengaruh besar dalam stabilitas politik dan proses suksesi, terutama dalam periode ketidakpastian. Kekuatan ini bisa mendukung figur tertentu dalam Majelis Ahli dan memainkan peran tidak langsung dalam menentukan siapa yang tampil sebagai pemimpin baru.
Kedua, Daftar Calon yang Siap Suksesi.
Laporan intelijen dan analis menyebut bahwa ada daftar kandidat potensial yang dipersiapkan sejak jauh hari oleh Majelis Ahli atau elit politik, termasuk para ulama senior dan tokoh kuat di struktur pemerintahan atau keamanan.
Namun konstitusi tetap menjadi payung formal yang harus dihormati ketika mengangkat pemimpin baru.
Ringkasan Tahapan Utama
Kekosongan jabatan terjadi → Pemimpin Tertinggi wafat, sakit berat, atau diberhentikan.
Dewan Kepemimpinan Sementara dibentuk (Presiden, kepala kehakiman, dan seorang faqih).
Majelis Ahli mengkaji calon pemimpin yang memenuhi syarat.
Pemilihan calon baru dilakukan oleh Majelis Ahli sesuai ketentuan konstitusi.
Pemimpin baru diumumkan dan Dewan sementara kembali membubarkan diri saat jabatan resmi diserahkan.
Kesimpulan
Pergantian Pemimpin Tertinggi di Iran secara formal diatur oleh konstitusi melalui Majelis Ahli, dengan Dewan Kepemimpinan sementara memegang kekuasaan sampai suksesi selesai.
Namun secara politik, keseimbangan kekuatan antara ulama, politikus, dan militer (terutama IRGC) sangat memengaruhi dinamika siapa yang benar-benar berada di puncak kekuasaan setelah kekosongan jabatan terbuka.***