Denny JA: Kombinasi Negara dan Pasar di China yang Tumbuhkan Ekonomi di Atas 8 Persen Selama Tiga Dekade, 1979–2010

Belajar dari Model Pembangunan China, Norwegia, Amerika Serikat (3)

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Pada suatu malam tahun 1984, di sebuah gedung pemerintahan di Beijing, sekelompok pejabat Partai duduk mengelilingi meja panjang.

Ruangan itu tanpa jendela. Tidak ada wartawan. Tidak ada tepuk tangan. Hanya peta, grafik, dan laporan daerah.

Di dinding tergantung slogan lama revolusi. Namun di atas meja tergeletak angka-angka baru: produktivitas, investasi, ekspor, pertumbuhan.

Seorang pejabat muda dari Guangdong berdiri. Ia tidak bicara soal kesetiaan ideologi. Ia bicara soal hasil. Tentang desa yang pendapatannya naik. Tentang pabrik yang menyerap tenaga kerja. Tentang pajak daerah yang melonjak.

Tak ada pemungutan suara. Tak ada oposisi. Namun ada sesuatu yang jauh lebih menentukan: penilaian kinerja.

Di China, pada saat itu, karier politik tidak lagi ditentukan oleh pidato, melainkan oleh grafik pertumbuhan.

Di sinilah rahasia yang jarang dibahas dengan jujur:

pertumbuhan ekonomi China bukan hanya soal pasar, tetapi soal bagaimana kekuasaan didesain untuk melayani pertumbuhan.

-000-

I. Paradoks Cina: Negara Komunis yang Pro-Pasar

Dalam teori klasik, negara kuat dan pasar bebas sering dianggap berlawanan. Negara terlalu kuat, pasar mati. Pasar terlalu bebas, negara melemah.

China menolak dikotomi ini.

Sejak akhir 1970-an, China membangun sesuatu yang unik: pasar tanpa demokrasi, kapitalisme tanpa liberalisme, dan negara kuat tanpa runtuhnya pertumbuhan.

Ini bukan kebetulan. Ini desain sadar.

Reformasi ekonomi China tidak lahir dari satu cetak biru ideologis, melainkan dari akumulasi keputusan pragmatis yang diambil oleh aktor lokal.

Banyak kebijakan pro-pasar muncul terlebih dahulu di luar hukum resmi, bahkan sering kali melanggar aturan pusat, lalu dibiarkan hidup karena terbukti meningkatkan kesejahteraan.

Negara tidak menghapus penyimpangan ini. Negara mengamati, belajar, lalu melegalkannya.

Dalam proses ini, negara China tidak menarik diri dari ekonomi. Ia justru mengubah wataknya. Dari perencana total menjadi pemberi ruang. Dari pengontrol harga menjadi pengontrol arah.

Negara tidak berkata “apa yang boleh diproduksi”, tetapi “ke mana ekonomi harus bergerak”. Pasar diberi kebebasan operasional, tetapi tujuan makro tetap ditentukan oleh kekuasaan politik.

Inilah sebabnya kapitalisme China tumbuh tanpa revolusi institusional ala Barat. Tidak ada perlindungan hak milik yang sempurna di awal. Tidak ada kepastian hukum liberal.

Yang ada adalah toleransi politik terhadap eksperimen ekonomi yang berhasil. Bagi China, fungsi mendahului bentuk. Hasil mendahului prinsip.

-000-

II. Partai sebagai Tulang Punggung Sistem

Di China, tidak ada pemisahan tegas antara negara dan Partai. Partai adalah negara, dan negara adalah Partai.

Setiap kementerian, BUMN, bank besar, bahkan perusahaan swasta strategis, memiliki sel Partai. Ini bukan simbol. Ini mekanisme kontrol.

Namun kontrol ini bukan hanya untuk ideologi. Ia adalah saluran koordinasi.

Ketika negara memutuskan prioritas pembangunan, sinyal itu mengalir cepat dari pusat ke daerah, dari Partai ke birokrasi, dari bank ke perusahaan.

Dalam model China, Partai berfungsi sebagai sistem saraf pusat. Ia bukan sekadar alat penindasan, tetapi mekanisme integrasi.

Keputusan politik tidak berhenti di atas kertas karena Partai hadir di setiap titik eksekusi. Ini menciptakan kesatuan arah yang hampir mustahil dicapai dalam sistem multipartai yang terfragmentasi.

Berbeda dengan demokrasi elektoral yang memisahkan legitimasi dari kapasitas, sistem China mengikat keduanya.

Kekuasaan tidak sah hanya karena prosedur, tetapi karena kinerja. Partai mempertahankan legitimasi bukan dengan janji, melainkan dengan output yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Koordinasi inilah yang membuat China mampu melakukan mobilisasi nasional dengan cepat. Dari pembangunan infrastruktur hingga industrialisasi teknologi tinggi.

Harga dari koordinasi ini adalah tertutupnya ruang oposisi. Manfaatnya adalah kapasitas eksekusi yang nyaris tanpa hambatan.

-000-

III. Insentif Politik: Kinerja Menggantikan Popularitas

Di banyak negara demokrasi, politisi mengejar suara. Di China, pejabat mengejar promosi.

Dan promosi ditentukan oleh kinerja ekonomi.

Selama puluhan tahun, indikator utama penilaian pejabat daerah adalah pertumbuhan PDB, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas sosial.

Daniel Bell menyebut sistem ini sebagai meritokrasi politik. Bukan siapa yang paling populer, tetapi siapa yang paling kompeten.

Karier politik dibangun melalui jenjang panjang birokrasi, dari daerah miskin hingga pusat, dengan evaluasi berlapis yang menyingkirkan mereka yang gagal menghasilkan kinerja.

Model ini menciptakan kompetisi internal yang keras namun produktif. Provinsi berlomba membangun pelabuhan, kawasan industri, dan konektivitas.

Pejabat tidak bisa bertahan hanya dengan loyalitas simbolik. Mereka harus menunjukkan hasil konkret atau tersingkir secara diam-diam.

Namun meritokrasi ini bukan tanpa risiko. Tanpa koreksi publik yang terbuka, kegagalan bisa disembunyikan. Statistik bisa dimanipulasi.

Pertumbuhan bisa dikejar dengan mengorbankan lingkungan dan hak sosial. Sistem ini efisien, tetapi menjadi rapuh jika kehilangan mekanisme kejujuran internal.

-000-

IV. Eksperimen Terbatas, Replikasi Nasional

Cina tidak pernah melakukan reformasi besar secara serentak. Ia bereksperimen.

Zona ekonomi khusus bukan pengecualian. Mereka adalah laboratorium.

Jika berhasil, kebijakan diperluas. Jika gagal, dihentikan tanpa perlu pengakuan kesalahan publik.

Prinsip utama reformasi China adalah belajar sambil berjalan. Negara tidak menunggu teori sempurna.

Ia bergerak, mengamati dampak, lalu menyesuaikan arah. Kegagalan lokal tidak dianggap ancaman ideologis, melainkan biaya pembelajaran.

Eksperimen ini dimungkinkan karena kekuasaan terpusat. Tidak ada gugatan konstitusional. Tidak ada oposisi parlemen. Negara kuat memberi ruang bagi kesalahan terbatas tanpa krisis legitimasi nasional.

Pasar memberi umpan balik cepat. Negara memberi perlindungan politik. Kombinasi ini menciptakan mesin pembelajaran kebijakan yang terus bergerak, meski tanpa transparansi demokratis.

-000-

Penutup: Negara sebagai Mesin, Manusia sebagai Tujuan?

Esai ini menyatakan pelajaran paling sulit diterima: kekuasaan bisa menjadi mesin pertumbuhan.

Namun mesin tidak punya hati. Ia hanya tahu tujuan dan kecepatan.

Daniel Bell mengingatkan bahwa meritokrasi tanpa empati berisiko berubah menjadi teknokrasi dingin. Ronald Coase mengingatkan bahwa pasar tanpa kebebasan tetap rapuh dalam jangka panjang.

Pertanyaan terbesar yang kini menghantui China bukan lagi bagaimana tumbuh cepat, tetapi bagaimana mengembalikan manusia ke pusat kebijakan tanpa mematikan mesin yang telah dibangun dengan susah payah.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi ekonomi, melainkan kebijaksanaan.

Bukan lagi soal kapasitas negara, melainkan batas moral kekuasaan.

Apakah negara kuat bisa menjadi negara bijaksana.

Apakah pasar terkendali bisa memberi ruang martabat.

Bab ini tidak memberi jawaban pasti. Ia hanya menyiapkan panggung untuk bab berikutnya, yang lebih gelap dan lebih jujur.*

Jakarta, 5 Januari 2026

REFERENSI

1. How China Became Capitalist

Pengarang: Ronald H. Coase & Ning Wang

Penerbit: Palgrave Macmillan

Tahun terbit: 2012

2. The China Model

Pengarang: Daniel A. Bell

Penerbit: Princeton University Press

Tahun terbit: 2015

-000-

Ratusan esai karya Denny JA tentang filsafat hidup, ekonomi politik, sastra, minyak dan energi, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, psikologi positif, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat ditemukan di Facebook: Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/p/1STsPfSJRH/?mibextid=wwXIfr ***