Denny JA: Akhir dari Ekonomi China yang Tumbuh di Atas 8 Persen Selama Tiga Dekade, 1979-2010
Belajar dari Model Pembangunan China, Norwegia, Amerika Serikat (5)
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Suatu pagi di tahun-tahun terakhir dekade 2010-an, seorang pengusaha properti di Shenzhen berdiri lama di depan jendela kantornya.
Di bawah sana, crane masih berdiri, tetapi tak lagi bergerak secepat dulu. Teleponnya jarang berdering. Pesanan melambat. Bank lebih berhati-hati.
Ia teringat dua puluh tahun sebelumnya, ketika kota ini tumbuh seperti mimpi yang tak mengenal pagi. Setiap tahun selalu lebih besar dari tahun lalu. Ekonomi tumbuh delapan persen per tahun terasa biasa. Sepuluh persen pernah menjadi kebiasaan.
Kini, angka-angka tak lagi melonjak. Pemerintah berbicara tentang “pertumbuhan berkualitas.” Media menyebut “normal baru.” Kata-kata berubah, seolah menenangkan.
Namun di balik bahasa resmi itu, ada kesadaran yang lebih dalam: era pertumbuhan ekstrem telah berakhir.
Pertanyaannya bukan lagi mengapa melambat, melainkan apa arti melambat bagi sebuah peradaban yang terbiasa berlari.
-000-
I. Mengapa Mesin Itu Melambat
Tidak ada mesin yang bisa berlari tanpa henti. Mesin pertumbuhan China, yang selama lebih dari tiga dekade melaju di atas 8 persen, kini berhadapan dengan batas-batasnya sendiri.
Pertama, demografi.
Bonus demografi yang dahulu melimpah kini menipis. Angkatan kerja menyusut. Populasi menua. Upah naik. Keunggulan biaya hilang perlahan. Apa yang dulu menjadi berkah berubah menjadi tantangan fiskal dan sosial.
Kedua, investasi yang jenuh.
Pembangunan infrastruktur masif menciptakan kapasitas besar, tetapi juga utang. Kota-kota baru berdiri, tetapi sebagian kosong.
Properti menjadi simbol keberhasilan sekaligus sumber risiko. Ketika investasi tak lagi menghasilkan produktivitas tambahan yang sepadan, perlambatan menjadi konsekuensi alamiah.
Ketiga, lingkungan dan energi.
Biaya ekologis pertumbuhan lama tak lagi bisa diabaikan. Transisi menuju energi bersih menuntut investasi baru, regulasi yang lebih ketat, dan perubahan perilaku. Proses ini memperlambat laju, tetapi sekaligus menyelamatkan masa depan.
Keempat, konteks global.
Dunia tidak lagi seperti tahun 1990-an. Proteksionisme meningkat. Ketegangan geopolitik membesar. Globalisasi yang dulu membuka pintu kini memberi syarat.
China tidak gagal. Ia tumbuh, lalu memasuki fase kedewasaan.
-000-
II. Dari Kuantitas ke Kualitas
Ketika pertumbuhan tinggi tak lagi mungkin, negara dihadapkan pada pilihan moral dan teknokratis: memaksa mesin lama atau merancang mesin baru.
China memilih yang kedua.
Narasi resmi bergeser dari “tumbuh cepat” menjadi “tumbuh baik.” Indikator pembangunan tak lagi hanya PDB, melainkan juga:
* kualitas udara
* inovasi teknologi
* pemerataan regional
* keamanan sosial
Ini bukan perubahan kosmetik. Ini pengakuan bahwa pertumbuhan adalah alat, bukan tujuan.
Namun mengubah arah kapal raksasa tidak mudah. Institusi dibangun untuk akselerasi, bukan moderasi. Pejabat terbiasa dinilai dari angka, bukan dari dampak jangka panjang.
Transisi ini menjadi ujian kepemimpinan sejati.
-000-
III. Inovasi sebagai Harapan Baru
Jika investasi dan ekspor tak lagi menjadi mesin utama, apa penggantinya?
Jawaban China adalah inovasi.
Investasi besar diarahkan ke:
* teknologi digital
* kecerdasan buatan
* energi terbarukan
* manufaktur canggih
Namun inovasi tidak tumbuh dari perintah. Ia membutuhkan kebebasan berpikir, kegagalan yang ditoleransi, serta ekosistem pendidikan dan riset yang sehat.
Di sinilah paradoks Cina muncul kembali. Negara yang kuat ingin memimpin inovasi, sementara inovasi sering lahir dari ruang yang cair dan kritis.
Apakah negara kuat bisa menumbuhkan inovasi sejati? China sedang menguji jawabannya, di hadapan dunia.
-000-
IV. “Kemakmuran Bersama”: Janji dan Risiko
Menghadapi ketimpangan yang membesar, China menghidupkan kembali konsep lama dengan makna baru: kemakmuran bersama.
Tujuannya mulia, mempersempit jurang sosial, memperkuat kelas menengah, dan mengurangi spekulasi.
Namun caranya rumit. Mengoreksi ketimpangan tanpa mematikan dinamika pasar adalah seni yang sulit. Terlalu lunak, jurang melebar. Terlalu keras, kepercayaan runtuh.
Bagian ini mengingatkan bahwa keadilan ekonomi bukan sekadar niat baik, melainkan desain yang presisi.
-000-
V. Pelajaran yang Tidak Nyaman bagi Dunia Berkembang
Dari kisah Cina, satu pelajaran besar muncul tanpa romantisasi: pertumbuhan ekstrem adalah fase, bukan tujuan akhir.
Bagi negara berkembang, ada tiga pelajaran penting.
Pertama, keberanian bereksperimen. China berani mencoba, gagal, dan mengoreksi. Tanpa keberanian ini, stagnasi menjadi takdir.
Kedua, negara yang cakap lebih penting daripada negara besar atau kecil. Masalah utama bukan ukuran peran negara, melainkan kecerdasannya dalam bertindak.
Ketiga, harga pertumbuhan harus dihitung sejak awal. Menunda persoalan sosial dan lingkungan memang mempercepat laju, tetapi memperberat koreksi di masa depan.
Meniru China secara mentah adalah kesalahan. Memahami logikanya adalah kebijaksanaan.
-000-
VI. Indonesia dalam Cermin Cina
Bagi Indonesia, kisah China adalah cermin yang jujur.
Indonesia tidak memiliki negara sekuat China, tidak pula disiplin politik yang sama. Namun Indonesia memiliki keunggulan lain: demokrasi, bonus demografi yang masih terbuka, dan kekayaan sumber daya alam.
Pelajaran bagi Indonesia bukan meniru kecepatan, melainkan meniru konsistensi dan keberanian memilih prioritas.
Indonesia tidak harus berlari 8 persen. Tetapi Indonesia harus tahu ke mana ia berjalan.
Dalam filsafat Timur, ada kebijaksanaan tentang keseimbangan. Dalam filsafat Barat, ada kritik terhadap pertumbuhan tanpa henti.
China modern, secara ironis, kini bergerak mendekati keduanya.
Melambat bukan kekalahan. Ia bisa menjadi tanda kedewasaan peradaban.
Pertanyaan terdalam bukan lagi tentang angka, melainkan tentang makna:
* untuk apa kita tumbuh,
* siapa yang kita bawa,
* dan apa yang kita tinggalkan.
-000-
Dua buku membantu kita memahami mengapa keajaiban ekonomi tak pernah berjalan lurus selamanya, dan mengapa perlambatan sering kali lebih jujur daripada pertumbuhan ekstrem.
Buku pertama, China’s Gilded Age karya Yuen Yuen Ang, mengajak kita melihat jantung pertumbuhan China tanpa romantisasi. Ia menunjukkan bahwa lonjakan ekonomi selama tiga dekade bukan semata hasil disiplin negara atau keajaiban pasar, melainkan kombinasi eksperimen institusional, insentif politik, dan praktik korupsi tertentu yang justru mendorong investasi.
Korupsi di China, kata Ang, bukan terutama pencurian anggaran yang melumpuhkan, melainkan “akses uang”: kedekatan kekuasaan dengan modal, terutama di sektor properti dan infrastruktur.
Model ini melahirkan kota-kota menjulang dan rasa percaya diri nasional. Namun seperti lapisan emas yang menutupi retakan, keberhasilan itu menyimpan biaya tersembunyi: ketimpangan, utang, spekulasi, dan ekonomi yang makin bergantung pada aset, bukan produktivitas.
Ketika demografi berubah, properti jenuh, dan utang menumpuk, mesin yang sama mulai bergetar. Pertumbuhan tinggi tidak runtuh karena satu kesalahan, melainkan karena ia terlalu berhasil dengan cara yang tak berkelanjutan.
Dalam pandangan Ang, perlambatan China bukan kegagalan sistem, melainkan konsekuensi logis dari tahap perkembangan yang telah dilewati.
Buku kedua, The Rise and Fall of the Great Powers karya Paul Kennedy, membawa kita melampaui China, ke panggung panjang sejarah peradaban.
Kennedy menunjukkan pola yang berulang selama berabad-abad: setiap kekuatan besar bangkit karena fondasi ekonomi yang kuat, lalu melemah ketika ambisi politik, sosial, dan geopolitiknya melampaui kapasitas ekonomi itu sendiri. Ia menyebutnya imperial overstretch, kelelahan struktural yang muncul ketika sebuah negara terlalu lama memaksa diri untuk terus tumbuh, terus menguasai, terus membesar.
Dalam kerangka ini, perlambatan bukan anomali, melainkan hukum sejarah. Inggris, Spanyol, bahkan Amerika Serikat pernah menghadapi fase ketika pertumbuhan tak lagi sanggup menopang semua janji.
China, dalam konteks ini, bukan pengecualian, melainkan bagian dari pola panjang peradaban dunia, dari akselerasi menuju koreksi, dari ekspansi menuju penataan ulang.
Jika Ang memberi kita anatomi internal mesin China, bagaimana ia bekerja dan mengapa ia aus, Kennedy memberi kita cermin besar sejarah: tidak ada bangsa yang kebal terhadap batas.
Pertumbuhan ekstrem selalu membawa ilusi keabadian. Perlambatan memaksa refleksi.
Dua buku ini bertemu pada satu kesimpulan sunyi namun kuat: pertumbuhan adalah alat, bukan tujuan akhir. Ia bermakna hanya jika membawa keseimbangan, keadilan, dan keberlanjutan.
Ketika sebuah bangsa berani melambat, ia tidak sedang menyerah. Ia sedang belajar mendefinisikan ulang makna kemajuan.
Dengan lensa inilah kisah Cina pasca-8 persen perlu dibaca, bukan sebagai kisah jatuh, melainkan kisah kedewasaan sebuah peradaban yang berhenti berlari, lalu mulai bertanya: untuk apa semua ini?
-000-
Penutup: Dari Lari ke Langkah
Era 8 persen telah berakhir. Tetapi kisah China belum.
Negeri itu kini belajar berjalan setelah berlari. Belajar mendengar setelah memerintah. Belajar merawat setelah membangun.
Bagi dunia berkembang, ini bukan akhir cerita, melainkan undangan untuk berpikir lebih jernih.
Pertumbuhan adalah perjalanan, bukan garis finis.
Dan kebijaksanaan sering datang bukan saat kita paling cepat, melainkan saat kita cukup berani untuk melambat.*
Jakarta, 9 Januari 2026
REFERENSI
1. China’s Gilded Age
Penulis: Yuen Yuen Ang
Penerbit: Cambridge University Press
Tahun Terbit: 2020
2. The Rise and Fall of the Great Powers
Penulis: Paul Kennedy
Penerbit: Vintage Books (Random House)
Tahun Terbit: 1987
-000-
Ratusan esai karya Denny JA tentang filsafat hidup, ekonomi politik, sastra, minyak dan energi, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, psikologi positif, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat ditemukan di Facebook: Denny JA’s World.
https://www.facebook.com/share/p/1DGjsNvFfA/?mibextid=wwXIfr