Setahun Anwar–Reny Memimpin, Kesejahteraan Naik dan Kemiskinan Turun: Apa yang Terjadi di Sulawesi Tengah?
ORBITINDONESIA.COM — Setahun lalu, harapan itu diucapkan dalam janji-janji kampanye. Hari ini, sebagian di antaranya mulai terbaca dalam angka dan terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulawesi Tengah.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Reny Lamadjido, arah pembangunan daerah mulai menunjukkan perubahan yang terukur. Bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam indikator konkret: pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu program yang paling terasa dampaknya adalah Berani Cerdas. Program ini membuka akses pendidikan tinggi lebih luas bagi generasi muda Sulawesi Tengah. Ribuan anak daerah yang sebelumnya ragu melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya, kini mendapat kesempatan menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi.
Bagi banyak keluarga, ini bukan sekadar bantuan pendidikan. Ini adalah pintu mobilitas sosial. Ketika satu anak berhasil kuliah, satu keluarga memiliki harapan baru untuk keluar dari lingkaran keterbatasan.
Di sektor kesehatan, pendekatan serupa diterapkan melalui program Berani Sehat. Dengan cukup menunjukkan KTP, masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan tanpa terbebani prosedur rumit dan kekhawatiran biaya. Kebijakan ini menciptakan rasa aman baru, terutama bagi warga di daerah yang selama ini kesulitan mengakses layanan medis.
Perubahan itu tidak hanya terasa di lapangan, tetapi juga tercermin dalam data resmi. Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Tengah pada 2025 meningkat menjadi 72,82. Angka tersebut menunjukkan perbaikan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat.
Di saat yang sama, tingkat kemiskinan juga menunjukkan tren penurunan. Pada 2025, angka kemiskinan tercatat sebesar 10,92 persen, turun 0,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini mungkin terlihat kecil dalam persentase, tetapi di baliknya terdapat ribuan individu yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.
Bagi kepemimpinan Anwar Hafid dan Reny Lamadjido, satu tahun pertama menjadi fondasi penting. Program pendidikan dan kesehatan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat menjadi tumpuan awal pembangunan.
Tentu, perjalanan masih panjang. Tantangan ekonomi global, pemerataan pembangunan antarwilayah, hingga penciptaan lapangan kerja berkelanjutan tetap menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.
Namun satu hal mulai terlihat: ketika kebijakan difokuskan pada akses pendidikan dan layanan kesehatan yang inklusif, dampaknya tidak hanya membaikkan angka statistik, tetapi juga membangun rasa percaya diri masyarakat terhadap masa depan.
Setahun mungkin belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan. Tetapi di Sulawesi Tengah, tanda-tanda perubahan itu mulai tampak—pelan, terukur, dan semakin terasa.***