Menkeu Purbaya: Defisit APBN 2025 Sebesar Rp 695,1 Triliun atau 2,92% dari PDB, Nyaris Menyentuh Batas Maksimal
ORBITINDONESIA.COM - Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan, defisit APBN 2025 sebesar Rp 695,1 triliun atau 2,92% dari PDB, nyaris menyentuh batas maksimal yang dipatok UU Keuangan Negara, 3%.
Realisasi pendapatan tahun 2025 sebesar Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target Rp 3.005,1 triliun. Sementara, belanja negara tembus Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari target Rp 3.621,3 triliun. Purbaya mengakui defisit meningkat dari target 2,53% menjadi 2,92% untuk menjaga ekonomi ekspansif, yakni dengan kebijakan countercyclical.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku, pelebaran defisit APBN 2025 merupakan imbas dari ambisi target menuju pertumbuhan ekonomi 5,2%. Jika target pertumbuhan ekonomi mampu tercapai, Airlangga berharap hal tersebut mampu mengarahkan ke penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.
Ia juga memastikan melebarnya angka defisit tak serta-merta mengganggu sentimen iklim investasi terhadap investor, terutama pemegang surat utang pemerintah.
Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 berada di 123,5, turun tipis dari IKK November yang di 124 meski masih di level optimistis (>100). IKK tersebut bersumber dari keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan 6 bulan ke depan.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat 111,4, dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 135,6. Lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 111,5 dan 136,6. Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen meningkat pada kelompok pengeluaran Rp 2,1-5 juta, dengan peningkatan tertinggi kelompok pengeluaran Rp 4,1-5 juta (129,2).
IKE mengalami penurunan pada mayoritas komponen pembentuknya, terutama Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) turun ke 107,6 dari sebelumnya 109,4. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) dari 121,5 menjadi 120,2. Sementara Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) naik ke 106,5 dari 103,7.
IEK juga turun pada mayoritas komponen, terutama Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) dari 133,8 pada November menjadi 130,8. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) turun ke 135,1 dari 135,3. Sedangkan Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) naik dari 140,6 jadi 140,8.
Survei Konsumen BI juga menunjukkan adanya perubahan perilaku keuangan rumah tangga pada Desember 2025. Proporsi pembayaran cicilan utang menurun, sementara porsi pendapatan yang disimpan mengalami peningkatan.
Proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 74,3%, turun dari November 74,6%. Proporsi pembayaran cicilan (debt to income ratio) juga turun menjadi 10,8% dari 11% bulan sebelumnya. Sementara pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) meningkat menjadi 14,9%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya.***