Grafiti Islamofobia di Sekolah Menengah Atas Maryland AS Memicu Investigasi dan Kemarahan

ORBITINDONESIA.COM - Para pejabat di Sekolah Menengah Atas Walt Whitman di Bethesda, Maryland, sedang menyelidiki grafiti Islamofobia dan anti-Palestina yang ditemukan di bagian luar sekolah.

Vandalisme tersebut, yang mencakup ujaran kebencian dan simbol Bintang Daud, telah dikutuk oleh kepala sekolah dan kelompok hak-hak sipil, yang mendorong penyelidikan polisi dan menimbulkan kekhawatiran di dalam komunitas Muslim setempat.

Pihak berwenang di Montgomery County, Maryland, telah meluncurkan penyelidikan setelah grafiti yang sangat ofensif yang menargetkan Muslim dan Palestina ditemukan dirusak di Sekolah Menengah Atas Walt Whitman di Bethesda. Insiden tersebut, yang ditemukan pada Jumat pagi, 17 Januari 2026, telah menuai kecaman keras dari para pejabat sekolah dan organisasi hak-hak sipil.

Detail Insiden Ujaran Kebencian

Dalam sebuah pesan kepada komunitas sekolah, Kepala Sekolah Gregory Miller mengkonfirmasi bahwa grafiti tersebut berisi frasa "F*** Muslims" dan "Nuke Palestine," disertai dengan simbol Bintang Daud.

Miller menggambarkan tindakan tersebut sebagai "sangat menyinggung, mengancam, anti-Palestina, dan Islamofobia," menekankan bahwa ujaran kebencian semacam itu "sama sekali tidak dapat diterima" dan tidak akan ditoleransi dalam sistem sekolah Montgomery County. Grafiti tersebut telah ditutupi dan akan dihapus.

Administrasi sekolah segera memberi tahu penegak hukum setempat dan bekerja sama sepenuhnya dengan investigasi.

Polisi melaporkan bahwa rekaman pengawasan menangkap beberapa individu berlari dari sekolah menuju lapangan sepak bola pada dini hari Jumat, meskipun saat ini belum ada deskripsi tersangka yang tersedia. Sekolah sedang meninjau rekaman keamanan mereka sendiri dan berencana untuk mewawancarai siswa sebagai bagian dari penyelidikan.

Reaksi dan Kecaman Masyarakat

Vandalisme tersebut telah menimbulkan ketakutan dan kemarahan yang signifikan di antara penduduk Muslim dan Palestina setempat.

Zainab Chaudry, direktur Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Maryland, mengeluarkan pernyataan yang mengutuk tindakan tersebut, mencatat bahwa "bahasa yang menyerukan pemusnahan populasi yang menjadi korban genosida selama lebih dari dua tahun dan penindasan selama beberapa dekade adalah ekspresi kekejaman yang keji dan patologis."

Chaudry menekankan bahwa siswa Muslim berhak merasa aman dan terlindungi di lingkungan pendidikan mereka, sebuah sentimen yang digaungkan oleh para pejabat sekolah yang sekarang sedang menangani dampak insiden tersebut terhadap para siswa.***