Arul, Student Entrepreneur: Menata Usaha Es Teh Manis Solo Sejak Bangku Sekolah
“Usaha itu bukan cuma soal jualan,
tapi soal sistem yang membuat usaha tetap hidup
meski kita tidak selalu ada.”
— Baikomarullah Supriatna
Di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, ada seorang remaja yang hari-harinya tidak hanya diisi dengan buku pelajaran dan jadwal sekolah. Namanya Baikomarullah Supriatna, akrab disapa Arul. Usianya baru 17 tahun. Statusnya masih pelajar SMA. Namun di luar jam sekolah, ia adalah pengelola enam cabang usaha kuliner Teh Manis Solo dengan enam karyawan aktif, sebuah capaian yang tumbuh dari proses panjang, ketekunan, dan kerja keras sejak usia dini.
Kisah Arul tidak dimulai dengan modal besar atau warisan usaha keluarga. Ia justru bermula dari pengalaman sederhana saat duduk di kelas 4 SD. Kala itu, Arul kecil mulai berjualan kecil-kecilan di lingkungan sekolah. Jualannya tidak selalu laku, sering ditolak, kadang juga diejek oleh teman sekelasnya. Namun alih-alih mundur, Arul menjadikan setiap kegagalan sebagai ruang belajar. Ia mulai memahami bahwa berjualan bukan semata soal keuntungan, melainkan tentang keberanian menghadapi penolakan dan keuletan untuk terus mencoba.
Lahir di Tangerang pada 13 Desember 2007, Arul tumbuh di lingkungan yang mengajarkannya nilai kerja keras. Seiring bertambahnya usia, kegiatan berjualannya ikut berkembang. Saat remaja lain masih mencari-cari minat, Arul justru sibuk memahami ritme pasar, selera pembeli, dan cara mengelola uang hasil jerih payahnya sendiri. Baginya, pengalaman di lapangan adalah ruang belajar paling jujur, tempat teori diuji dan mental ditempa.
Puncak dari proses itu terlihat hari ini. Enam gerai Teh Manis Solo berdiri di berbagai titik strategis Tigaraksa: Pemda Tigaraksa, Jalan Katomas, depan Perum Triraksa 1 dan 2, Jalan Tegal Baju, hingga depan Perum Mustika Tigaraksa. Namun yang menarik, Arul tidak memosisikan dirinya sebagai “bos kecil” yang selalu hadir di lapangan. Ia sadar betul, kewajibannya sebagai pelajar menuntut fokus dan disiplin.
Di sinilah keunikan Arul terlihat. Ia membangun sistem bisnis, sesuatu yang sering diabaikan oleh pengusaha pemula. Mulai dari pembagian tugas karyawan, standar operasional, hingga alur keuangan, semua dirancang agar usaha tetap berjalan stabil meskipun ia harus duduk di bangku kelas.
Pilihan Arul menempuh jalan sebagai student entrepreneur bukan tanpa alasan. Ia ingin membangun kemandirian finansial sejak dini, sekaligus membuktikan bahwa usia sekolah bukan penghalang untuk berpikir terstruktur dan bertanggung jawab. Baginya, kegagalan di usia muda justru adalah privilese: ruang aman untuk jatuh, bangkit, lalu belajar lagi tanpa beban besar seperti orang dewasa.
Kesadaran itu pula yang mendorong Arul berbagi cerita melalui media sosialnya, @Babayarul13. Ia tidak menjual mimpi manis atau narasi instan untuk menjadi kaya. Yang ia bagikan justru realitas: mengatur karyawan, menghadapi masalah operasional, hingga dinamika usaha sehari-hari yang sering melelahkan. Ia ingin anak muda lain memiliki gambaran yang jujur tentang dunia bisnis, bahwa di balik cuan, ada tanggung jawab dan konsistensi.
Arul meyakini, memulai lebih dini berarti memberi diri sendiri waktu yang lebih panjang untuk salah dan belajar. Ia tidak menunggu lulus atau “mapan” untuk mencari arah. Justru dari proses merintis sejak muda, ia belajar mengenal dirinya sendiri, memahami tanggung jawab, dan bersiap menghadapi dunia dewasa yang jauh lebih kompleks.
Di usia 17 tahun, Arul mungkin belum selesai dengan perjalanan panjangnya. Namun satu hal sudah jelas: kisahnya adalah pengingat bahwa inspirasi tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang, ia tumbuh pelan-pelan dari segelas teh manis, dijajakan dengan tekun, dan dikelola dengan kesungguhan oleh seorang pelajar yang berani bermimpi sambil bekerja nyata.