Denny JA: MUNDUR RAMAI-RAMAI DI BURSA SAHAM
- Awal Kebangkitan Saham Indonesia?
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Ia menatap layar ponsel dengan napas tertahan. Angka merah berderet seperti luka terbuka.
Saham yang ia kumpulkan bertahun-tahun, hasil menunda liburan dan menunda mimpi, jatuh dalam dua hari.
Bukan turun biasa. Ini seperti ditegur keras oleh sesuatu yang jauh, dingin, dan berwibawa. Saat ia menekan tombol sell dengan tangan gemetar, ia sadar: pasar sedang mengirim pesan. Bukan kepada dirinya saja, melainkan kepada sebuah negara.
Yang mengguncang kali ini bukan fluktuasi musiman, bukan kepanikan sesaat. Ini adalah respons terhadap teguran dari MSCI, penyedia indeks global yang menjadi kompas investor institusional dunia.
Ketika MSCI berbicara, dana triliunan dolar bergerak.
MSCI menilai bukan hanya angka, melainkan watak pasar: stabilitas kebijakan, kedalaman likuiditas, kualitas tata kelola, kepastian hukum, dan perlindungan investor.
Dalam sepekan 26–30 Januari 2026, IHSG merosot sekitar 6,9% ke kisaran 8.3xx, dua kali menyentuh ambang trading halt 8%, sementara investor asing mencatat net sell lebih dari Rp13 triliun hanya dalam satu pekan dan sekitar Rp9,8 triliun sepanjang Januari 2026.
Teguran itu, yang terbaca pasar sebagai sinyal keras, menyinggung rapuhnya kepercayaan: kebijakan yang berubah cepat, konsentrasi likuiditas yang sempit, serta kerentanan tata kelola.
Maka arus dana asing mengendur, harga jatuh, dan layar-layar memerah serentak.
-000-
Yang terjadi setelahnya lebih mengejutkan. Dalam hitungan hari, pucuk pimpinan pasar memilih mundur.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, meletakkan jabatan.
Menyusul, tiga petinggi Otoritas Jasa Keuangan: Mahendra Siregar sebagai Ketua Dewan Komisioner, Inarno Djajadi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, serta I. B. Aditya Jayaantara sebagai Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek.
Ini belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia: pengunduran diri serempak di jantung otoritas pasar, sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Mundur bukan untuk lari, melainkan untuk membuka ruang pemulihan. Dalam budaya publik yang jarang memaknai akuntabilitas secara nyata, peristiwa ini menjadi patahan sejarah. Menyakitkan, tetapi jujur.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Buku The Alchemy of Finance, ditulis oleh George Soros, mengajarkan bahwa pasar bukan cermin rasional realitas, melainkan medan reflexivity.
Persepsi memengaruhi harga. Harga mengubah perilaku. Perilaku kemudian menciptakan realitas baru.
Dalam konteks Indonesia, kejatuhan IHSG bukan sekadar angka. Ia adalah reaksi berantai dari persepsi global tentang risiko.
Soros menunjukkan bagaimana feedback loop mempercepat krisis ketika kepercayaan goyah. Teguran MSCI bekerja sebagai pemicu refleks global: persepsi memburuk, arus dana menahan diri, harga jatuh, dan persepsi kian mengeras.
Membaca buku ini menolong kita memahami bahwa pemulihan bukan hanya soal kebijakan teknis, melainkan pemulihan narasi kepercayaan. Pasar bangkit ketika cerita yang dipercaya berubah, dari rapuh menjadi dapat diandalkan.
Buku kedua, Capital in the Twenty-First Century karya Thomas Piketty, memperkaya pembacaan kita tentang pasar melalui lensa ketimpangan dan institusi.
Pasar saham yang sehat membutuhkan distribusi peluang yang adil, tata kelola yang kuat, dan institusi yang dipercaya.
Ketika kebijakan tampak berpihak sempit atau institusi tampak ragu, modal menjadi waspada. Buku ini mengingatkan bahwa stabilitas pasar tidak bisa dipisahkan dari legitimasi sosial dan kualitas institusi.
Reformasi pasar bukan kosmetik. Ia menuntut konsistensi hukum, transparansi, dan kebijakan yang dapat diprediksi. Dengan itu, modal jangka panjang berani tinggal.
-000-
Kita memiliki tiga alasan kuat untuk tetap optimis pada masa depan saham Indonesia.
1. Demografi Produktif dan Konsumsi Domestik
Indonesia memiliki kemewahan yang tidak dimiliki banyak negara: pasar domestik yang hidup dari dalam dirinya sendiri.
Lebih dari separuh penduduk berada pada usia produktif. Mereka bukan sekadar angka statistik, melainkan mesin konsumsi, inovasi, dan aspirasi.
Saat pasar global bergejolak, konsumsi domestik Indonesia tetap berdenyut: makanan, perumahan, transportasi, layanan digital, kesehatan, dan pendidikan. Inilah bantalan alami terhadap guncangan eksternal.
Yang lebih penting, generasi muda Indonesia tidak hanya membeli. Mereka naik kelas. Peralihan dari konsumsi dasar ke konsumsi bernilai tambah menciptakan ruang pertumbuhan laba jangka panjang bagi emiten.
Investor jangka panjang membaca ini sebagai visibility of earnings. Selama dapur rumah tangga tetap menyala, pasar tidak runtuh sepenuhnya.
Di sinilah Indonesia berbeda. Pasar sahamnya bertumpu pada kehidupan sehari-hari rakyatnya, bukan semata pada arus modal asing yang mudah datang dan pergi.
2. Ekonomi Riil yang Beragam
Indonesia bukan ekonomi satu nada. Ia adalah orkestra.
Saat komoditas melemah, manufaktur dan konsumsi bergerak. Saat ekspor tertekan, ekonomi digital dan jasa tumbuh.
Diversifikasi ini menciptakan resilience premium, ketahanan struktural yang sering luput dari sorotan harian pasar.
Negara-negara yang runtuh di bursa biasanya memiliki satu mesin dominan: minyak, teknologi, atau finansial. Indonesia tidak.
Dari tambang nikel hingga pabrik sepatu, dari sawit hingga startup logistik, dari pariwisata hingga energi terbarukan, semuanya hidup berdampingan. Bagi investor, ini berarti risiko tidak terkonsentrasi.
Pasar saham Indonesia merepresentasikan ekonomi riil yang berlapis, bukan ilusi pertumbuhan tunggal. Dalam jangka panjang, ekonomi seperti ini tidak spektakuler setiap hari, tetapi jarang kolaps.
Ia jatuh, lalu bangkit, berulang. Dan pasar yang mampu bangkit berulang kali adalah pasar yang layak ditunggu.
-000-
3. Momentum Reformasi Tata Kelola
Sejarah pasar modal dunia menunjukkan satu pola yang konsisten: krisis besar sering kali menjadi pintu reformasi terdalam.
Pengunduran diri serempak pimpinan otoritas pasar bukan sekadar drama politik. Ia adalah sinyal bahwa sistem berani berhenti, bercermin, dan mengoreksi diri.
Momentum ini langka. Ia membuka ruang untuk membenahi aturan yang tumpang tindih, memperjelas komunikasi kebijakan, memperkuat perlindungan investor, dan memperdalam likuiditas pasar.
Jika dimanfaatkan dengan serius, Indonesia dapat keluar dari krisis ini dengan pasar yang lebih dewasa, bukan sekadar pulih.
Investor global tidak menuntut kesempurnaan. Mereka menuntut arah. Dan reformasi yang lahir dari rasa tanggung jawab moral memberi arah yang jelas: pasar yang lebih transparan, dapat diprediksi, dan adil.
Di titik inilah kepercayaan mulai kembali, perlahan, sunyi, tetapi kokoh.
-000-
Belajar dari Korea Selatan: Pasar yang Bangkit dari Runtuh
Salah satu contoh paling jujur tentang pasar saham yang rapuh lalu bangkit adalah Korea Selatan. Pada 1997, negeri ini nyaris ambruk. Krisis Asia menghantam won, perusahaan-perusahaan besar kolaps, dan pasar saham jatuh seperti kehilangan lantai. Kepercayaan menguap. Investor pergi. Rakyat cemas.
Namun Korea memilih jalan yang tidak populer. Mereka membuka luka sendiri. Pemerintah memaksa konglomerat besar, chaebol, untuk berbenah.
Utang dibongkar, tata kelola diperketat, laporan keuangan dipaksa transparan. Pasar dibuka lebih luas, kepemilikan asing diperbolehkan, dan aturan dibuat konsisten, meski menyakitkan dalam jangka pendek.
Yang paling penting, negara hadir bukan untuk menyangkal krisis, melainkan untuk memulihkan kepercayaan.
Pesannya jelas: hukum ditegakkan, aturan dijaga, dan investor kecil tidak ditinggalkan. Butuh waktu. Tidak instan. Tetapi pelan-pelan, modal kembali. Bukan karena janji, melainkan karena perubahan nyata.
Dua dekade kemudian, pasar saham Korea bukan hanya pulih, tetapi matang. Ia menjadi bukti bahwa pasar tidak bangkit karena dilindungi dari rasa sakit, melainkan karena berani belajar darinya.
Dari Korea, kita belajar satu hal sederhana namun mahal: kepercayaan lahir ketika negara berani berubah lebih dulu.
-000-
Setiap pasar dewasa lahir dari luka. Titik hitam ini bisa menjadi fajar jika, dan hanya jika, Indonesia menjawab teguran dengan reformasi nyata: konsistensi kebijakan, perlindungan investor, pendalaman pasar, dan kepemimpinan yang akuntabel.
Kepercayaan tidak diminta. Ia dibangun.
Dalam gemuruh ketidakpastian, bangsa tumbuh ketika berani memandang luka sendiri tanpa ilusi. Di situlah pasar dan negara bertemu, sama-sama belajar menjadi dewasa dengan penuh kesadaran.
“Dalam krisis, jangan menanyakan siapa yang salah. Tanyakan apa yang harus dibenahi.”
Sesudah badai, yang dibutuhkan pasar bukan janji, melainkan pegangan: likuiditas yang dalam, kepemilikan yang tersebar, aturan yang konsisten, dan perlindungan nyata bagi investor kecil. Ketika semua itu terasa adil di layar mereka, kepercayaan akan tumbuh sendiri.
Kalimat itu layak menjadi penanda zaman, bahwa kejatuhan bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari kedewasaan.*
Jakarta, 30 Januari 2026
REFERENSI
1. George Soros, The Alchemy of Finance, John Wiley & Sons, 1987.
2. Thomas Piketty, Capital in the Twenty-First Century, Harvard University Press, 2014.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/17VSbJ3M7M/?mibextid=wwXIfr ***