Tak Sekadar Ibadah, Masjid Sejuta Pemuda Mengubah Cara Anak Muda Memandang Masjid
ORBITINDONESIA.COM — Dulu, masjid kerap dipahami semata sebagai ruang ibadah: tempat salat, pengajian, lalu kembali sunyi di luar waktu-waktu ritual. Namun di Sukabumi, Jawa Barat, cara pandang itu pelan-pelan bergeser. Masjid tidak lagi berdiri sebagai bangunan sakral yang berjarak, melainkan sebagai ruang hidup yang menyatu dengan denyut keseharian, terutama bagi generasi muda.
Perubahan itu tercermin di Masjid Sejuta Pemuda Attin, sebuah masjid yang tumbuh dengan semangat keterbukaan dan keberpihakan pada anak muda. Di tempat ini, ibadah berjalan berdampingan dengan percakapan, kreativitas, dan pelayanan sosial. Masjid tidak hanya memanggil orang untuk datang berdoa, tetapi juga mengajak mereka singgah, berbagi, dan merasa diterima.
Salah satu pemandangan yang kerap ditemui menjelang waktu salat adalah secangkir kopi hangat yang disajikan gratis bagi jamaah. Layanan sederhana ini diracik oleh marbot muda yang juga berperan sebagai barista. Namun kopi di Masjid Sejuta Pemuda bukan sekadar minuman. Ia menjadi simbol pendekatan baru: masjid sebagai ruang ramah, tempat orang datang tanpa rasa sungkan, tanpa sekat usia maupun latar belakang.
Pelan tapi pasti, Masjid Sejuta Pemuda membangun ekosistem yang lebih luas. Selain ruang salat yang nyaman, masjid ini dilengkapi area diskusi, ruang kegiatan komunitas, dapur umum, hingga fasilitas pendukung kreativitas anak muda. Berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan edukatif tumbuh dari interaksi sehari-hari antara pengurus masjid, relawan, dan masyarakat sekitar.
Pendekatan ini mengubah relasi antara masjid dan jamaahnya. Anak muda tidak lagi sekadar menjadi pengunjung, tetapi dilibatkan sebagai penggerak. Masjid menjadi tempat belajar kepemimpinan, pengabdian, dan kepekaan sosial. Di sinilah nilai-nilai keagamaan diterjemahkan ke dalam praktik nyata: melayani, berbagi, dan membangun solidaritas.
Yang membuat Masjid Sejuta Pemuda terasa berbeda adalah cara ia memosisikan masyarakat. Jamaah tidak diperlakukan sebagai objek dakwah satu arah, melainkan sebagai mitra dalam merawat kehidupan bersama. Donasi berjalan secara sukarela, ide-ide tumbuh dari diskusi, dan aktivitas berkembang sesuai kebutuhan komunitas.
Dampak yang diharapkan pun tidak berhenti pada ramainya kunjungan atau viralnya konsep masjid ala kafe. Lebih dari itu, Masjid Sejuta Pemuda menargetkan tumbuhnya generasi yang dekat dengan nilai spiritual sekaligus peka terhadap realitas sosial. Sebuah ruang yang menumbuhkan keberanian untuk berbuat baik, dimulai dari hal-hal kecil yang membumi.
Di tengah tantangan menjauhya sebagian anak muda dari ruang-ruang keagamaan formal, Masjid Sejuta Pemuda hadir sebagai penanda arah baru. Bukan dengan menggurui, tetapi dengan merangkul. Bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi memberi makna baru pada peran masjid sebagai pusat kehidupan, harapan, dan masa depan bersama.