Iyek Aghnia: Menulis Kearifan Lokal dan Pelestarian Warisan Leluhur
Oleh Iyek Aghnia
ORBITINDONESIA.COM - Setiap orang sejatinya memegang pena sejarahnya sendiri. Pena itu bisa hadir dalam berbagai bentuk: keterampilan menulis, merekam, memotret, atau sekadar menceritakan kembali pengalaman hidup. Sayangnya, tidak sedikit yang membiarkan pena itu berdebu—menunggu dibangunkan, menunggu dimotivasi oleh orang lain.
Padahal, sejarah terus bergerak setiap hari di sekitar kita.
Sebuah peristiwa sederhana, ketika tiga buku karya penulis Bangka Selatan mendapat endorsement dari admin penerbit Galuh Patria Yogyakarta, menjadi bukti nyata bahwa tulisan dan buku adalah medium yang efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas. Dari ruang kampung yang sunyi, kisah-kisah lokal bisa melintasi batas geografis dan sampai ke tangan pembaca di berbagai penjuru.
Melalui tulisan, para penulis menghadirkan kearifan lokal dari daerah dan kampung masing-masing. Mereka tidak hanya bercerita, tetapi juga merekam denyut kehidupan yang nyaris luput dari perhatian arus utama.
Tiga buku tersebut adalah Sang Usang karya Dwikki Dhaswara, seorang pamong budaya; Nyerupe karya Yul Haidir; serta Lawang Uma karya Rapi Pradipta, seorang guru yang mengabdi di SD Pulau Panjang. Ketiganya merepresentasikan semangat yang sama: menjadikan budaya lokal sebagai sumber cerita, pengetahuan, dan identitas.
Menulis budaya—yang sejatinya merupakan jati diri bangsa—lalu mengeskalasinya dalam bentuk karya tulis adalah salah satu cara paling bermakna untuk merawat sekaligus memperkenalkan warisan leluhur kepada publik pembaca, bahkan kepada dunia. Tulisan yang berbalut kearifan lokal memiliki daya hidup yang panjang; ia tidak pernah kehabisan bahan, tidak pernah kehilangan relevansi.
Kearifan lokal adalah kumpulan nilai, etika, petuah, dan tradisi yang tumbuh dalam masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ada yang menyebutnya budaya lokal, ada pula yang menyebutnya identitas komunitas. Apa pun istilahnya, ia adalah sumber energi yang luar biasa bagi dunia kepenulisan.
Mengeksplorasi kearifan lokal di sekitar kita untuk dijadikan bahan tulisan bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan sebuah kerja kebudayaan. Tradisi, cerita lisan, petuah orang tua, ritual kampung, hingga bahasa sehari-hari adalah material naratif yang nyaris tak pernah habis untuk digali.
Di sisi lain, menuliskan kearifan lokal juga merupakan upaya pelestarian. Ia menjaga keaslian nilai-nilai budaya, memperkaya pengetahuan kolektif, dan memperkuat identitas bangsa. Setiap hari, sejarah baru tercipta—di dalam keluarga, di desa, di komunitas, bahkan dalam diri kita sendiri. Jika tidak dituliskan, potongan-potongan penting itu akan hilang ditelan waktu dan dilupakan oleh generasi berikutnya.
Dalam konteks budaya dan kearifan lokal, kemerdekaan berarti keberanian untuk mengambil peran aktif: mencatat, menyimpan, dan mewariskan pengetahuan kepada pewaris bangsa. Para penulis lokal Bangka Selatan telah memulai langkah itu. Mereka memberi kontribusi nyata dalam mengenalkan budaya daerah ini ke ruang publik.
Kini, pertanyaannya kembali kepada kita semua: kapan kita mengikuti jejak mereka?
Ambil penamu. Tulislah kearifan lokal di sekitarmu.
Seperti ungkapan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy,
“Jangan pernah bertanya apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu.”
Rijit Bulu Isik—ketika Sang Usang bertemu Lawang Uma dan Nyerupe, semuanya menjadi pembulak.
Ngeri. Dalam artian yang paling menggugah. #
*Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali.***