Denny JA: Ayo Anakku, Kita Mengungsi ke Tempat yang Tak Ada Suara Bom

“AYO ANAKKU, KITA MENGUNGSI KE TEMPAT YANG TAK ADA SUARA BOM” - Inspirasi dari Film I Was a Stranger 2026

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Suatu malam di Aleppo, Suriah, langit bukan lagi kubah biru yang menaungi doa. Ia berubah menjadi atap retak yang sewaktu waktu runtuh dalam dentuman. Bau debu bercampur asap mesiu menyusup ke sela jendela yang bergetar.

Seorang ibu muda memeluk putrinya yang terbangun oleh gemetar dinding. Anak itu belum mengerti politik, belum mengenal ideologi. Ia hanya tahu bahwa suara bom membuat jantungnya berlari lebih cepat dari kakinya. Di luar, sirene melolong seperti ratapan yang tak selesai.

Ibu itu menunduk, mengecup rambut anaknya yang basah oleh keringat dan ketakutan. Lirih namun tegas, seolah menandatangani takdir dengan napasnya sendiri, ia berbisik. Ayo anakku, kita mengungsi ke tempat yang tak ada suara bom.

Ia sudah berkali kali menjauh dari kota yang dulu menjadi rumah. Dari halaman kecil tempat anaknya belajar berjalan. Dari ruang operasi tempat ia bekerja sebagai dokter anak dan pernah menyelamatkan ratusan nyawa. Dari pasar yang dulu ramai oleh rempah dan tawa.

Setiap pelarian adalah keputusan untuk hidup, sekaligus risiko untuk mati di jalan. Demi hidup yang damai, mereka ikhlas menjalani pelarian yang bisa saja berakhir di laut yang tak bertepi.

-000-

Hampir dua jam saya terpaku menonton film ini.

I Was a Stranger 2026 disutradarai dan ditulis oleh Brandt Andersen. Ia juga menjadi salah satu produsernya. Pemeran utamanya antara lain Yasmine Al Massri, Yahya Mahayni, Omar Sy, Ziad Bakri, dan Constantine Markoulakis. Film ini didistribusikan oleh Angel Studios.

Angel Studios berdiri pada 2021 sebagai transformasi dari VidAngel yang didirikan tahun 2014 oleh keluarga Harmon. Misinya jelas. Menghadirkan kisah yang memperkuat cahaya dalam diri manusia. Cerita yang mengangkat nilai, keberanian moral, dan harapan.

Studio ini dikenal melalui film seperti Sound of Freedom, His Only Son, dan serial The Chosen. Mereka mengusung model distribusi berbasis komunitas yang memberi ruang pada penonton untuk ikut menentukan proyek yang didukung.

Dalam lanskap industri film yang sering digerakkan oleh angka dan algoritma, Angel Studios memilih jalan yang lebih sunyi. Mereka percaya cerita dapat menjadi jembatan antara hati yang terbelah.

-000-

Film ini dibuka dengan Aleppo yang perlahan runtuh. Dr Amira Homsi, diperankan Yasmine Al Massri, bekerja di rumah sakit yang kekurangan listrik dan obat. Di sela ledakan, ia tetap menenangkan anak anak yang terluka. Tangannya berlumur darah, tetapi suaranya tetap lembut.

Suaminya telah hilang dalam pusaran konflik. Yang tersisa hanya putrinya dan tanggung jawab untuk bertahan.

Ketika rumah sakit dibom, Amira tahu kota itu tak lagi bisa menyelamatkan siapa pun. Di satu adegan yang sunyi, ia berdiri di antara puing dan tubuh yang tak bergerak. 

Tatapannya kosong, lalu perlahan berubah menjadi keputusan. Ia membawa putrinya  keluar dari Aleppo.

Amira dan putrinya tiba di daratan yang asing. Di kamp pengungsi, mereka menghadapi tatapan curiga dan birokrasi yang dingin. Namun ketika seorang anak warga lokal mengalami krisis medis, Amira bergerak tanpa ragu. Ia kembali menjadi dokter. Ia kembali menjadi dirinya.

Di sana, ia bertemu penyelundup bernama Marwan yang diperankan Omar Sy. Marwan bukan sosok hitam putih. 

Ia menyelundupkan manusia demi biaya operasi anaknya sendiri. Dalam matanya, kita melihat campuran rasa bersalah dan keharusan.

Di laut Mediterania, perahu karet mereka hampir terbalik. Gelombang dan doa bercampur menjadi satu. Seorang ibu lain menjerit. Seorang anak terlepas dari genggaman. 

Kapten penjaga pantai Yunani, Stavros, menerima perintah untuk tidak menolong kapal tanpa dokumen. 

Namun ketika nahkoda itu melihat seorang anak kecil hampir tenggelam, sesuatu runtuh dalam dirinya. Ia memilih nurani daripada prosedur.

Banyak penumpang selamat. Beberapa mati karena buasnya laut. Mereka menjadi saksi seorang nahkoda kapal menyelamatkan banyak pengungsi. Ia  menjadi pahlawan.

Film ditutup dengan Amira berjalan menuju tempat kerjanya yang baru. Ia masih gagap dalam bahasa Yunani, tetapi senyumnya kembali. Ia menatap langit yang sunyi tanpa ledakan. Ia masih orang asing, tetapi ia tidak lagi kehilangan martabatnya.

Film berjalan dengan mengambil sudut yang berbeda- beda. Kadang film mengalir dari pemeran utama seorang dokter, tentara, penyelundup, penyair dan nahkoda.

-000-

Tak diceritakan panjang lebar dalam film, tetapi kita tahu latar yang memaksa Amira pergi.

Pada 2011, Suriah dilanda gelombang protes yang terinspirasi Arab Spring. Rakyat menuntut reformasi, kebebasan politik, dan keadilan ekonomi. Pemerintah merespons dengan represi keras. 

Penangkapan dan penembakan demonstran memicu eskalasi. Protes damai berubah menjadi konflik bersenjata.

Aleppo menjadi salah satu pusat pertempuran paling brutal. Kota itu terbelah antara pasukan pemerintah dan kelompok oposisi. Intervensi aktor regional dan global memperumit konflik. 

Rusia dan Iran mendukung pemerintah. Kelompok bersenjata lain memanfaatkan kekacauan.

Di balik peta geopolitik, ada kenyataan yang lebih sunyi. Kekeringan panjang sebelum 2011 menghancurkan pertanian dan memicu urbanisasi besar. 

Pengangguran meningkat. Ketimpangan melebar. Rezim yang otoriter menutup ruang aspirasi. Ketika tekanan sosial dan politik bertemu, ledakan menjadi tak terhindarkan.

Aleppo yang dulu pusat perdagangan dan kebudayaan berubah menjadi puing. Jutaan orang mengungsi. Setengah juta lebih nyawa melayang. 

Sebuah peradaban yang pernah gemilang menyaksikan anak anaknya berjalan menuju negeri asing dengan tas kecil dan kenangan yang tak muat dibawa.

-000-

Dua buku yang memperkaya esai ini adalah karya Janine di Giovanni dan Wendy Pearlman.

Dalam The Morning They Came for Us 2016, Janine di Giovanni menulis sebagai jurnalis perang yang menyaksikan Suriah dari dekat. Ia tidak hanya mencatat strategi militer, tetapi wajah manusia yang terjepit di antara kekuatan besar. 

Ia menggambarkan rumah sakit tanpa listrik, dokter yang tetap bekerja meski tahu gedung itu bisa runtuh sewaktu waktu. 

Buku ini membuat kita memahami bahwa keputusan untuk mengungsi bukanlah pilihan pengecut, melainkan bentuk paling radikal dari cinta seorang ibu pada anaknya.

Dalam We Crossed a Bridge and It Trembled 2017, Wendy Pearlman mengumpulkan kesaksian warga Suriah dari berbagai latar. Ia memberi ruang bagi rakyat biasa untuk bersuara tentang harapan dan kehilangan. 

Buku ini menegaskan bahwa konflik Suriah bukan sekadar perang sektarian, tetapi tragedi manusia yang kompleks. Di balik kata pengungsi, ada nama, ada wajah, ada cerita yang ingin tetap hidup.

-000-

Pada akhirnya, film ini bukan hanya tentang Suriah. Ia tentang kita.

Tentang apakah kita menutup pintu ketika seseorang mengetuk sebagai orang asing. Tentang apakah kita memilih aturan tanpa nurani, atau nurani yang menuntun aturan.

Ibu itu berkata kepada anaknya, ayo kita mengungsi ke tempat yang tak ada suara bom. Tetapi tempat itu bukan hanya ruang geografis. Ia adalah ruang di hati manusia lain.

Dunia ini tidak kekurangan tanah. Yang sering kekurangan adalah hati yang mau menjadi rumah.

Sebab pada akhirnya, kemanusiaan kita diuji bukan saat kita aman, melainkan saat kita berani membuka pintu bagi mereka yang hanya membawa debu dan harapan di punggungnya untuk bisa terus bertahan.

Di setiap zaman, wajah-wajah Amira selalu muncul dalam bentuk berbeda. Mereka adalah pengingat sunyi bahwa peradaban hanya sekuat kasih yang kita berikan kepada yang kehilangan rumah, baik rumah fisik ataupun rumah bagi hati. *

Jakarta. 12 Februari 2026

REFERENSI

Janine di Giovanni. The Morning They Came for Us. Bloomsbury Publishing. 2016.

Wendy Pearlman. We Crossed a Bridge and It Trembled. HarperCollins. 2017.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World


https://www.facebook.com/share/19HKAY7xvt/?mibextid=wwXIfr ***